- Pemerintah membuka proyek perkebunan seluas 2,5 juta hektar di Papua yang mengancam hutan warisan leluhur masyarakat setempat.
- Masyarakat Papua melakukan perlawanan terhadap pembabatan hutan menggunakan simbol salib merah serta ritual adat pesta babi.
- Film dokumenter garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale menyoroti dampak hilangnya ruang hidup serta intimidasi terhadap warga Papua.
Tapi tiba-tiba, ribuan alat berat datang dan mengagetkannya.
"Kami sebagai masyarakat setempat tidak tahu. Kaget pagi-pagi kapal sudah ada di pelabuhan kami," kata Yasinta.
Beda cerita dengan Vincent dari distrik Jagebob. Hutannya dibabat untuk markas TNI.
Sebab, pembabatan juga diawasi ribuan TNI yang berjaga. Masyarakat, bukannya merasa aman tapi was-was.
"Kalau satu kampung begini tidak bisa aman. Kita punya orang ini ya dianiaya, dipukul," ucap seorang perempuan dalam film tersebut.
Cerita miris lain hadir dari Franky Woro dari suku Awyu. Hutan mereka dikuasi untuk perkebunan lahan kelapa sawit.
Padahal, Hutan ini adalah supermarket bagi suku Awyu. Juga lumbung pangan atau bank untuk menyimpan deposito kekayaan alam.
"Kayu-kayu ini kita bisa gunakan untuk kerja (bikin) perahu, kulit dan getahnya itu kita pakai untuk panah-panah ini," ujar Franky.
Karena itu, Franky Woro bersama sejumlah orang menandai pohon-pohon dengan cat merah.
Mereka juga mendirikan salib-salib berukuran besar sebagai tanda, hutan itu adalah milik orang Papua.
Perlawanan mereka dihalau, ada yang mendapat intimidasi. Meminta agar mereka mencopot salib-salib yang berdiri.
Bahkan dari film tersebut diketahui, satu hektar tanah hanya dihargai Rp300.000. Tapi mereka menolak.
Rakyat Papua mempertahankan hutan lewat cat merah dan salib, sementara musuh mereka adalah alat-alat berat.
Belum lagi, orang-orang yang memiliki kuasa atas izin pembabatan hutan.
"Lawan sebesar inilah yang sedang dihadapi Yasinta di Kampung Wanam, Merauke, atau petani perempuan lain seperti Enrika Gebze," demikian ucapan narator dalam film Pesta Babi.