Imunoterapi, Pengobatan Baru Atasi Kanker Paru di Indonesia

Chaerunnisa, Firsta Nodia

Sabtu, 25 November 2017 | 09:56 WIB
Imunoterapi, Pengobatan Baru Atasi Kanker Paru di Indonesia
Ilustrasi kanker paru. (Shutterstock)

Suara.com - Di seluruh dunia, kanker paru merupakan pembunuh utama penyakit kanker. Dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Respiratori FKUI/RSUP Persahabatan mengungkapkan, dari 10 orang pasien yang terkena kanker paru, delapan di antaranya berisiko meninggal pada tahun sama.

Di Indonesia, insiden kanker paru diperkirakan 40 kasus dari 100.000 penduduk berisiko yaitu laki-laki berusia 40 tahun ke atas dan merokok. Selama ini, pengobatan kanker paru yang sering kita dengar adalah tindakan pembedahan, radioterapi, hingga kemoterapi.

Dokter Elisna mengatakan, tindakan pembedahan hanya bisa efektif pada kanker stadium 1 dan 2. Sementara efek dari tindakan kemoterapi cukup berat, sehingga membuat sistem imun penderita kanker melemah. Adapula terapi target yang bersifat spesifik, yakni hanya mengejar sel yang mengalami mutasi tertentu.

"Karenanya untuk bisa diberikan obat terapi target, sebelumnya harus diperiksa dulu apakah kanker memiliki mutasi gen tertentu," kata dr. Elisna.

Berkat perkembangan teknologi di bidang kesehatan, kini tersedia metode penatalaksanaan kanker paru terbaru yang disebut imunoterapi. Seperti terapi target, dokter Elisna mengatakan, obat ini juga bekerja secara spesifik.

"Bedanya, imunoterapi bekerja di level imunologi, bukan mutase gen. Kita pakai obat anti PD-1, imunoterapi pertama yang tersedia untuk kanker paru," ungkapnya.

Dokter Elisna menjelaskan, tidak semua sel kanker memiliki PD-1. Kanker paru jenis bukan sel besar (KPKBSK) termasuk yang memilikinya sehingga penatalaksanaan jenis kanker ini efektif dilakukan dengan imunoterapi.

"Maka sebelum diberikan anti PD-1, harus dilakukan dulu pemeriksaan imunohistokimia untuk melihat protein PD-L1 pada sel kanker ada atau tidak," ungkap dr. Elisna.

Lebih lanjut, dia memaparkan, pengobatan dengan imunoterapi sudah masuk dalam panduan Persatuan Dokter Paru Indonesia untuk pengobatan kanker paru. Bila hasil pemeriksaan pasien ditemukan PD-L1 lebih besar dari 50 persen, maka obat anti PD-1 bisa langsung diberikan sebagai terapi lini pertama. Namun bila nilainya kurang dari 50 persen, imunoterapi bisa diberikan sebagai penatalaksanaan sekunder.

baca juga

Obat anti PD-L1 diberikan melalui infus, tiap 3 minggu. Menurut penelitian, obat ini bisa dipakai hingga satu tahun. Elisna mengatakan obat ini akan masuk Indonesia tahun depan. Kini masih dilakukan persiapan di 14 center di Indonesia untuk bisa melakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk PD-L1.

"Makin banyak modalitas pengobatan yang kita gunakan, akan makin besar harapan hidup pasien kanker paru," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Studi: Seperlima Penyintas Kanker Alami Stres Pascatrauma

Studi: Seperlima Penyintas Kanker Alami Stres Pascatrauma

Health | Selasa, 21 November 2017 | 11:10 WIB

BPOM: Belum Ada Obat Herbal untuk Sembuhkan Kanker

BPOM: Belum Ada Obat Herbal untuk Sembuhkan Kanker

Health | Jum'at, 10 November 2017 | 04:00 WIB

Penggunaan Opioid untuk Atasi Nyeri Akibat Kanker Masih Rendah

Penggunaan Opioid untuk Atasi Nyeri Akibat Kanker Masih Rendah

Health | Kamis, 02 November 2017 | 18:30 WIB

Vitamin B Kompleks Berlebih Bikin Lelaki Berisiko Kanker Paru

Vitamin B Kompleks Berlebih Bikin Lelaki Berisiko Kanker Paru

Health | Minggu, 22 Oktober 2017 | 08:11 WIB

Terobosan Baru untuk Atasi Kanker Paru Ada di Indonesia

Terobosan Baru untuk Atasi Kanker Paru Ada di Indonesia

Health | Sabtu, 07 Oktober 2017 | 11:13 WIB

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Health | Selasa, 08 Agustus 2017 | 12:34 WIB

Terkini

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB