Karena Pandemi Covid-19, 57 Persen Masyarakat Indonesia Kini Pakai Aplikasi Kesehatan

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Selasa, 23 Agustus 2022 | 20:40 WIB
Karena Pandemi Covid-19, 57 Persen Masyarakat Indonesia Kini Pakai Aplikasi Kesehatan
ilustrasi aplikasi kesehatan. [shutterstock]

Suara.com - Kementerian Kesehatan RI menyebut semakin banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan aplikasi kesehatan. Inilah mengapa Kemenkes mengatur pemetaan jalur digitalisasi layanan perawatan kesehatan di Indonesia dengan merilis Cetak Biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024 pada akhir 2021.

Digitalisasi pelayanan kesehatan itu dilakukan untuk menyederhanakan dan mempermudah akses layanan bagi masyarakat umum tanpa mengurangi kualitas dan efisiensi layanan kesehatan.

"Keterhubungan antar pemain kunci dalam industri kesehatan di negara yang luas dan penuh dengan keberagaman seperti Indonesia menjadi suatu keharusan untuk memastikan keberhasilan transformasi digital dalam layanan kesehatan," kata Chief Digital Transformation Office Kemenkes RI Setiaji, dalam acara diskusi APL Digital Summit 2022 di Jakarta, Selasa (23/8/2022).

Sektor kesehatan tak tepas dari penggunaan teknologi dalam perawatan pasien. Disebutkan bahwa digitalalisasi berperan penting bagi rumah sakit mempertahankan solusi yang relevan dalam memberikan layanan kesehatan kepada pasien.

Terutama sejak terjadi pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu mobilitas orang banyak. Managing Director Boston Consulting Group (BCG) Sumit Sharma mengatakan bahwa kondisi pandemi telah mendorong industri teknologi kesehatan lokal secara signifikan dan terjadi peningkatan kesadaran akan kesehatan.

"Kami melihat pertumbuhan luar biasa dalam penggunaan teknologi kesehatan, dengan 57 persen warga Indonesia menggunakan aplikasi kesehatan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar ketiga dalam hal penggunaan aplikasi kesehatan," ungkapnya.

Ditemukan aplikasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia ialah Halodoc (71 persen), kemudian Alodokter (56 persen), Klik Dokter (30 persen), Good Doctor (13 persen), dan YesDok (12 persen). Rata-rata pengguna aplikasi tersebut berusia 18-50 tahun.

Tren-tren yang terus berubah dalam industri kesehatan digital juga menjadi lebih jelas. Menurut Sumit, perusahaan farmasi dan rumah sakit yang telah lakukan digitalisasi operasi akan bisa mengimbangi kecepatan inovasi teknologi dan peningkatan harapan pasien terhadap layanan kesehatan lebih lancar dan sederhana.

"Selain itu, pendekatan digital pada sektor kesehatan juga dapat diterapkan untuk mengatasi produk obat palsu dengan solusi data terintegras," ujarnya.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 RI Masih Berlanjut, Menkes Budi Gunadi: Sekarang Ujiannya Enam Bulan Lagi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI