Polemik Mutasi Mendadak Ketua IDAI, Dokter Piprim Pilih Pensiun Dini dari ASN: Apa Kata Kemenkes?

Yasinta Rahmawati, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 30 April 2025 | 14:13 WIB
Polemik Mutasi Mendadak Ketua IDAI, Dokter Piprim Pilih Pensiun Dini dari ASN: Apa Kata Kemenkes?
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso. [Suara.com/Lilis Varwati]

Suara.com - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio. (K) dengan tegas menolak mutasi atau pemindahan tugas mendadak dari RSCM ke RS Fatmawati. Bahkan dengan tegas ia pilih pensiun dini sebagai ASN jika mutasi tetap dilakukan.

Ia mengatakan tidak mempermasalahkan di manapun tempatnya bertugas, hanya saja menurutnya proses mutasi yang dilakukan pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyalahi prosedur mutasi ASN, karena dilakukan mendadak, tanpa pemberitahuan dan tidak ada transparansi atau alasan kompetensi di dalamnya.

"Saya terus terang akan menolak prosedur mutasi yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Saya tidak bersedia dimutasi seperti itu, dan apabila kemudian tidak disetujui saya memilih untuk memundurkan diri dari PNS, dari ASN. Saya memilih apakah keluar atau pensiun dini dari ASN, semoga ini tidak terjadi," ungkap dr. Piprim melalui keterangan yang diterima Suara.com, Selasa, (29/4/2025).

Mutasi mendadak dr. Piprim oleh Kementerian Kesehatan diyakini bisa mengganggu layanan jantung anak di RSCM dan proses pendidikan dokter konsultan jantung anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) RSCM.

"Masih banyak cara yang bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sehingga tujuan yang diharapkan bisa terjadi tanpa harus mengorbankan pelayanan jantung anak di RSCM kepada pasien-pasien saya dan juga tanpa harus mengorbankan murid-murid saya, sebagai calon-calon konsultan jantung anak," terang dr. Piprim.

Perlu diketahui, selain sebagai dokter spesialis jantung anak, dr. Piprim juga punya tugas besar. Sebagai dosen pendidik klinis ia sedang mendidik dokter calon subspesialis kardiologi anak dari berbagai daerah di FKUI RSCM.

Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso [ANTARA/IC Senjaya]
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim B. Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio. (K) [ANTARA/IC Senjaya]

Tak main-main, murid calon konsultan itu berasal dari berbagai penjuru Indonesia seperti Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Bengkulu, Solo, Semarang hingga Papua.

"Ini bagaimana nasib murid-murid saya kalau saya begitu saja tiba-tiba dimutasi secara paksa ke Rumah Sakit Fatmawati, yang notabene bukan rumah sakit pendidikan," ungkap dr. Piprim.

Apalagi kata dia, saat ini Indonesia membutuhkan minimal sekitar 500 konsultan jantung anak, sedangkan jumlah dokter konsultan jantung anak sangatlah sedikit, hanya sekitar 70 orang yang tersebar di Indonesia.

baca juga

Di saat bersamaan dr. Piprim juga mengkhawatirkan pasien anak yang sedang ditanganinya di RSCM. Menurutnya jika ingin memajukan layanan jantung anak di RS Fatmawati ada solusi lain seperti pengampuan yang bisa dilakukan.

"Kalau alasannya adalah untuk memajukan layanan jantung anak di Rumah Sakit Fatmawati, itu bisa dilakukan dengan mekanisme pengampuan yang dilakukan oleh Divisi Kardiologi Anak," katanya.

Mirisnya, menurut dr. Piprim hingga potongan surat mutasi dirinya dan beberapa dokter lainnya beredar, ia sama sekali tidak menerima surat tersebut secara resmi. Menurutnya, cara inilah yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip transparansi, akuntabilitas dan kesesuaian kompetensi yang tertuang dalam Peraturan BKN Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata Cara Mutasi ASN.

Aturan ini juga menjelaskan mutasi tidak boleh mendadak, dan tanpa pemberitahuan atau klarifikasi kepada pihak pegawai.

"Dalam kasus saya ini, sistem merit tidak dihormati. Jadi saya dalam catatan prestasi kinerja 2 tahun berturut-turut termasuk yang berprestasi sangat baik, tetapi kemudian dimutasi mendadak tanpa dasar yang sah. Jadi saya kira ini prosesnya tidak adil dan diskriminatif," pungkas dr. Piprim.

Di sisi lain, menanggapi ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan pemindahan dr. Piprim terjadi karena adanya kebutuhan mendesak di RS Fatmawati (RSF), yang hanya memiliki satu subspesialis kardiologi anak. Disebutkan jika spesialis jantung anak ini akan segera pensiun.

"Kehadiran yang bersangkutan (dr. Piprim) diperlukan untuk memperkuat dan mengembangkan layanan kardiologi anak di RSF. Perlu diketahui bahwa RSF juga merupakan rumah sakit pendidikan utama bagi Fakultas Kedokteran UIN, serta menjadi bagian dari jejaring rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)," jelas Kemenkes RI melalui keterangannya kepada awak media.

Lebih lanjut Kemenkes juga menjawab, nantinya pasien dr. Piprim yang berada di RSCM bisa melanjutkan layanan ke RS Fatmawati yang menurut Kemenkes jaraknya tidak terlampau jauh.

"Jarak tempuh antara RSCM dan RSF tidaklah jauh sehingga pelayanan kesehatan pediatrik atau anak masih bisa dilakukan," papar Kemenkes.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IDAI Kritik Kemenkes Mutasi dr Piprim dari RSCM: Menurunkan Kualitas Subspesialis Kardiologi Anak

IDAI Kritik Kemenkes Mutasi dr Piprim dari RSCM: Menurunkan Kualitas Subspesialis Kardiologi Anak

News | Selasa, 29 April 2025 | 21:55 WIB

Jemaah Haji Wajib Vaksinasi Meningitis dan PolioSebelum ke Tanah Suci, Kemenkes Ungkap Alasannya!

Jemaah Haji Wajib Vaksinasi Meningitis dan PolioSebelum ke Tanah Suci, Kemenkes Ungkap Alasannya!

News | Kamis, 17 April 2025 | 12:38 WIB

Klarifikasi Kemenkes soal Rencana Menkes Budi Tukang Gigi Praktik di Puskesmas: Kesalahan Istilah

Klarifikasi Kemenkes soal Rencana Menkes Budi Tukang Gigi Praktik di Puskesmas: Kesalahan Istilah

Health | Rabu, 16 April 2025 | 20:52 WIB

Skandal Dokter Obgyn di Garut: Kemenkes Minta STR Dicabut! Kasus Pelecehan Pasien Terbongkar

Skandal Dokter Obgyn di Garut: Kemenkes Minta STR Dicabut! Kasus Pelecehan Pasien Terbongkar

Video | Rabu, 16 April 2025 | 19:20 WIB

Terkini

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB