Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Dinda Rachmawati

Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
Ilustrasi hantavirus (shutterstock)
baca 10 detik
  • Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife meninggal dunia akibat terinfeksi virus Hanta yang ditularkan hewan pengerat.
  • Virus menyebar melalui paparan udara terkontaminasi kotoran tikus, kontak langsung, atau pembersihan area kotor tanpa alat pelindung.
  • Gejala awal meliputi demam dan nyeri otot yang bisa memburuk menjadi gangguan fungsi paru atau ginjal fatal.

Suara.com - Belakangan ini, Hantavirus kembali menjadi sorotan publik setelah muncul laporan adanya penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, yang terinfeksi virus tersebut hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia. 

Meski tergolong penyakit langka, Hantavirus tidak bisa dianggap sepele karena dapat memicu gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal dan berpotensi fatal apabila terlambat ditangani.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Pada manusia, virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Menurut dr. Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, penularan virus ini paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi partikel dari hewan pengerat.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan,” jelas dr. Rio.

Karena itu, memahami lingkungan dan kondisi yang berisiko menjadi langkah penting dalam pencegahan. Beberapa kondisi berikut sebaiknya dihindari atau diwaspadai untuk meminimalkan paparan virus Hanta:

  • Area dengan populasi tikus yang tinggi, baik di lingkungan rumah maupun tempat kerja
  • Ruang tertutup yang lama tidak dibersihkan, seperti gudang, loteng, atau bangunan kosong yang berdebu
  • Kondisi rumah dengan banyak celah atau lubang yang memungkinkan tikus masuk
  • Lingkungan dengan sanitasi buruk dan pengelolaan sampah yang tidak baik
  • Area pertanian dan perkebunan yang menjadi habitat alami hewan pengerat
  • Aktivitas luar ruang seperti berkemah tanpa menjaga kebersihan makanan dan tempat tidur
  • Membersihkan area terkontaminasi tanpa alat pelindung diri atau tanpa metode pel basah yang aman

Risiko penularan meningkat ketika seseorang membersihkan area yang penuh kotoran tikus secara sembarangan. Debu yang beterbangan dapat membawa partikel virus dan terhirup ke saluran pernapasan. 

Oleh sebab itu, penggunaan metode pel basah lebih dianjurkan dibanding menyapu kering yang justru membuat partikel beterbangan di udara.

Selain menjaga kebersihan rumah, menutup lubang atau celah di dalam dan luar bangunan juga penting untuk mencegah tikus masuk ke area hunian maupun tempat kerja. 

baca juga

Lingkungan yang bersih dan bebas sampah akan mengurangi kemungkinan hewan pengerat berkembang biak di sekitar manusia.

Gejala Hantavirus sendiri umumnya berkembang dalam dua tahap. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala hebat, nyeri otot terutama di bagian paha dan punggung, tubuh lemas, serta gangguan pencernaan seperti muntah, nyeri perut, dan diare. 

Namun ketika kondisi memburuk, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius akibat penumpukan cairan di paru-paru, disertai penurunan tekanan darah drastis hingga gangguan fungsi ginjal.

“Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat,” tambah dr. Rio.

Meski sebagian besar kasus Hantavirus ditularkan dari hewan pengerat ke manusia, beberapa jenis tertentu seperti Andes hantavirus diketahui memiliki kemungkinan penularan antarmanusia, walaupun kasusnya sangat jarang terjadi.

Menanggapi potensi ancaman penyakit infeksi, Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan layanan IGD 24 jam dan fasilitas ruang isolasi untuk penanganan pasien dengan penyakit menular. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Hantavirus Strain Andes Bisa Menular Antar Manusia, Tapi Harus Kontak Erat dan Lama

Hantavirus Strain Andes Bisa Menular Antar Manusia, Tapi Harus Kontak Erat dan Lama

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 11:40 WIB

Dokter Stephen Kornfeld Keluar Ruang Isolasi Biokontainer Meski Hasil Tes Hantavirus Meragukan

Dokter Stephen Kornfeld Keluar Ruang Isolasi Biokontainer Meski Hasil Tes Hantavirus Meragukan

News | Kamis, 14 Mei 2026 | 10:33 WIB

Terkini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38 WIB

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:06 WIB

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

×