-
Bahaya menepuk punggung anak saat batuk berisiko trauma dan tersedak.
-
Dokter Maman menyebut menepuk punggung balita batuk adalah mitos berbahaya.
-
Beri hidrasi melimpah sebagai cara aman mengatasi dahak batuk anak.
Suara.com - Kebanyakan orangtua akan reflek menepuk-nepuk punggung anak ketika batuk dan kesulitan mengeluarkan dahaknya.
Umumnya, orangtua melakukan itu dengan harapan anak bisa mengeluarkan dahaknya ketika batuk.
Namun, praktik menepuk punggung yang selama ini dianggap sebagai pertolongan pertama yang aman justru menyimpan bahaya yang mengancam nyawa si kecil.
Peringatan ini dibagikan oleh dokter spesialis anak sekaligus ahli respirologi, dr. Maman, melalui sebuah utas di platform Threads yang viral baru-baru ini.
Dokter yang berpraktik di Makassar ini menegaskan bahwa kebiasaan tersebut hanyalah mitos yang berisiko.
Mitos Merontokkan Dahak dengan Getaran Mekanis
Banyak orang tua mengira menepuk punggung anak dengan keras akan memberikan getaran mekanis yang langsung merontokkan dahak dari dinding paru-paru.
Mereka menganggap hal ini sebagai teknik fisioterapi dada mandiri yang aman.
"Faktanya, melakukan tepuk punggung secara sembarangan pada balita tanpa evaluasi dan indikasi medis justru SANGAT BERBAHAYA!" tegas dr. Maman dalam unggahannya.
Lantas, apa saja risiko yang mengintai di balik tepukan punggung tersebut? Berdasarkan prinsip medis yang diajarkan di FK Unhas, dr. Maman membedahnya menjadi dua risiko utama:
1. Risiko Trauma Fisik (Cedera)
Ayah Bunda perlu diingat bahwa struktur tubuh balita masih sangat rapuh. Tulang rusuk, organ dalam, dan jaringan otot mereka masih lunak.
"Tepukan yang terlalu keras dan tidak terukur dari tangan orang dewasa bisa menyebabkan memar otot hingga risiko cedera tulang rusuk yang sangat menyakitkan bagi si kecil," jelasnya.
2. Risiko Aspirasi (Tersedak yang Fatal)
Di rumah sakit, fisioterapi dada dilakukan dengan teknik perkusi spesifik setelah dokter mendengarkan letak lendir menggunakan stetoskop (auskultasi).