Array

Partisipasi Pemuda di Pilpres Dianggap Simbol "Perlawanan"

Senin, 25 Agustus 2014 | 04:12 WIB
Partisipasi Pemuda di Pilpres Dianggap Simbol "Perlawanan"
Pertunjukan musik gratis bertajuk "Konser Salam 2 Jari, Rekatkan Kembali Tali Kebangsaan" di Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (5/7/2014). [Suara.com/Adrian Mahakam]

Suara.com - Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII), Raja Juli Antoni menilai, munculnya partisipasi anak muda dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dalam bentuk relawan merupakan juga lawan dari konsep gerontocracy.

"Partisipasi dari kalangan anak muda adalah sebagai lawan dari apa yang kita disebut Gerontocracy, yaitu konsep di mana proses demokrasi itu ada di tangan orang tua dan anak muda hanyalah pengikut," katanya, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (24/8/2014).

Pernyataan tersebut diungkapkan Antoni dalam ajang The Indonesian Forum yang diselenggarakan TII belum lama ini. Menurut Antoni pula, dalam konteks pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) yang memiliki banyak relawan, itu juga bukan hanya lawan terhadap golongan tua. Namun menurutnya, dari cara memerintah juga menunjukkan bahwa gayanya bukanlah yang biasa, dalam arti yang bisa meng-engage anak muda.

"Kalau demokrasi diterjemahkan sebagai kedaulatan rakyat, maka semua orang adalah tulang punggung dari demokrasi itu sendiri," ujarnya.

Selain itu, Antoni mengatakan bahwa ada ilmuwan yang menilai kematangan dari demokrasi adalah dilihat dari seberapa besar partisipasi masyarakat di dalamnya. Kerelawanan menurutnya pula, menjadi hal menarik ketika bicara partisipasi, dan itulah yang terjadi dalam Pilpres 2014.

"PDI Perjuangan mengungkapkan ada sekitar lebih dari 1.200 kelompok relawan yang mendukung Jokowi. Belum lagi berapa lagu yang tercipta, dan juga Konser 2 Jari di GBK menjelang Pemilu," katanya.

Dalam diskusi tersebut, inisiator situs Kawalpemilu.org, Ainun Najib, juga mengatakan bahwa Pemilu 2014 ini spesial, sekaligus sebagai titik kritis dan merupakan persimpangan jalan yang akan mengubah betul arah bernegara. Dia mencontohkan pada H+1 Pilpres, masing-masing pihak saling klaim menang. Maka menurutnya, jika masyarakat tidak menyuguhkan alternatif lain yang independen, dikhawatirkan ada krisis yang bisa saja mengakibatkan kekacauan atau chaos nantinya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI