Amnesty International: 299 Napi Indonesia Tunggu Eksekusi Mati

Pebriansyah Ariefana | Yosea Arga Pramudita
Amnesty International:  299 Napi Indonesia Tunggu Eksekusi Mati
Pegiat buruh migran berunjuk rasa di depan gedung Kedutaan Besar Arab Saudi, di Jakarta, Selasa (20/3).

Dari total 37 kasus tersebut, 28 di antaranya berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba.

Suara.com - Sebanyak 299 narapidana menunggu eksekusi mati atau hukuman mati di Indonesia. Hal tersebut berbanding terbalik dengan perayaan hari anti hukuman mati yang jatuh setiap 10 Oktober.

Berdasarkan catatan Amnesty International Indonesia, Pengadilan di Indonesia telah menjatuhkan sedikitnya 37 vonis mati sejak Januari tahun 2018. Hal tersebut menambah daftar panjang jumlah total terpidana yang menunggu waktu eksekusi mati menjadi 299 orang.

Dari total 37 kasus tersebut, 28 di antaranya berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba, delapan kasus pembunuhan dan satu vonis mati terkait tindak pidana terorisme. Delapan orang merupakan warga negara Taiwan dan sisanya warga negara Indonesia. Dibanding tahun lalu pada periode yang sama, Januari-Oktober, angka vonis mati tersebut juga berjumlah 37. Namun secara keseluruhan pada 2017, total sebanyak 47 orang dijatuhi hukuman mati dari Januari hingga Desember.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyebut terpidana mati sering kali mengalami perlakuan tidak manusiawi, kejam, dan merendahkan martabat di dalam tahanan.

“Dalam banyak kasus, mereka ditempatkan dalam ruang isolasi yang sangat ketat. Mereka tidak mendapat perawatan medis memadai dan hidup dalam ketakutan menunggu eksekusi. Otoritas terkait sering mengabarkan rencana eksekusi kepada terpidana mati hanya beberapa saat menjelang eksekusi mati dilaksanakan,” kata Usman lewat keterangan tertulis, Rabu (10/10/2018).

Sekretaris Jenderal Amnesty International Kumi Naidoo dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa banyak orang yang dihukum mati memiliki latar belakang dari kaum marjinal yang tak punya akses ke bantuan hukum yang kompeten dan tak tahu cara membela diri.

Dirinya mengambil contoh kasus mantan terpidana mati asal Nias, Sumatera Utara, yang bernama Yusman Telaumbanua. Pengacara Yusman, yang ditunjuk negara, justru meminta kliennya dihukum mati dan luput memberitahukan hak Yusman mengajukan banding.

“Kasus Yusman adalah kombinasi mematikan antara hukuman mati dan kemiskinan. Ia beruntung masih bisa lolos dari eksekusi. Tapi, kisah seperti ini tak akan menimpa orang kaya,” ujar Kumi.

“Pada kenyataannya, faktor-faktor yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejahatan itu sendiri dapat membentuk pengalaman orang di sistem peradilan pidana, mempengaruhi hidup dan mati mereka," tambah Kumi.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS