DLH Jakarta Akui Udara Ibu Kota Tak Sehat untuk Bayi dan Manula

Reza Gunadha | Fakhri Fuadi Muflih
DLH Jakarta Akui Udara Ibu Kota Tak Sehat untuk Bayi dan Manula
ILUSTRASI - Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

"Ketika masuk ke musim kemarau dengan PM 2,5 yang meningkat harus diantisipasi aja bagi mereka yang sensitif," kata Agung.

Suara.com - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui kondisi udara di ibu kota tidak sehat. Polusi udara di Jakarta tidak baik terutama bagi bayi dan manusia lanjut usia alias manula.

Namun, Agung Pujo Winarko, Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan DLH DKI Jakarta, menyebut kondisi udara yang buruk bagi bayi dan manula hanya pada saat musim kemarau.

Sementara pada musim hujan, dua golongan usia yang dianggap rentan itu tidak bermasalah dengan kondisi udara Jakarta.

"Kalau lihat tren dari baku mutu diterapkan oleh pemerintah pusat, musim penghujan bagus, tapi menjelang kemarau memang kondisi agak meningkat," ujar Agung saat dihubungi, Jumat (12/7/2019).

Saat musim kemarau, terdapat komponen udara bernama Particular Matter 2,5 (PM 2,5). Komponen berbahaya ini disebut Agung harus diantisipasi bagi orang-orang yang sensitif seperti bayi dan manula.

"Ketika masuk ke musim kemarau dengan PM 2,5 yang meningkat harus diantisipasi aja bagi mereka yang sensitif," kata Agung.

Berhubung saat ini sedang musim kemarau, bagi para orang-orang yang sensitif, Agung meminta agar membatasi kegiatan di luar rumah.

"Kalau dia secara medis sensitif terhadap kualitas udara jelek, dia mengurangi kegiatan diluar rumah, membatasi.”

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan udara Jakarta dinyatakan tidak baik untuk bayi dan manula.

Namun dia mengatakan, kualitas udara Jakarta masih relatif baik dan sehat. Menteri Siti Nurbaya mengatakan standar kategori relatif baik dan sehat itu jika dibandingkan dengan baku mutu udara ambien nasional, yaitu 65 ug/Nm3.

Sementara kalau dibandingkan dengan standar World Health Organisation (WHO) pada angka 25 ug/Nm3, maka kualitas udara Jakarta masuk kategori sedang.

"Berdasarkan hasil pemantauan udara kota Jakarta, maka kualitas udara Jakarta masih relatif baik dan sehat," katanya saat membuka acara Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2019 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS