Bersua Pak Bujang, Pejuang Konservasi Penyu Dalam Sunyi di Pulau Lampu

Rizki Nurmansyah

Jum'at, 14 Agustus 2020 | 07:10 WIB
Bersua Pak Bujang, Pejuang Konservasi Penyu Dalam Sunyi di Pulau Lampu
Kerangkeng yang dibangun Pak Bujang untuk melindungi telur penyu dari pemangsa di Pulau Lampu, Batam. [Suara.com/Bobi]

Suara.com - Waktu menunjukkan sekitar pukul 11.50 WIB. Kapal cepat dengan mesin tempel 40 PK tiba di sebuah pulau kecil di pesisir Batam. Tepatnya di Pulau Anak Karas. Pulau ini tak berpenghuni, luasnya hanya sekitar 14 hektar saja. Setengahnya berupa dataran berpasir dengan ditumbuhi pohon kelapa dan beberapa jenis tanaman mangrove.

Sisi lainnya berupa perbukitan. Terdapat pula sebuah menara suar yang usianya seudah lebih dari 130 tahun dan masih berfungsi normal sampai saat ini. Keberadaan lampu sebagai penanda bagi kapal-kapal besar yang melintas, membuat Pulau Anak Karas dikenal juga dengan sebutan Pulau Lampu.

Kapal cepat yang membawa rombongan 6 laki-laki dan 2 wanita, salah satunya anak-anak, ini bersandar di bagian ujung Pulau Anak Karas. Semua penumpang turun, kecuali Pak Bujang yang langsung mengendalikan mesin speed boat menuju lokasi yang lebih teduh, menambatkan kapal fiber berwarna biru itu.

Tak lama berselang Pak Bujang sudah bergabung di bawah sebuah pohon rindang di pulau ini. Duduk berbincang sebentar, berkenalan langsung dengan tetamu yang sebelumnya hanya diketahui melalui sambungan ponsel.

Layaknya masyarakat Melayu pesisir, Pak Bujang tidak selalu bisa melafalkan Bahasa Indonesia dalam obrolannya. Beberapa kosa kata Bahasa Melayu terasa asing keluar dari bibirnya. Meskipun begitu, ayah dua putri ini tetap nyaman diajak berbincang. Matanya yang agak kecil terlihat semakin kecil ketika ia tertawa.

Suaranya agak serak, mengimbangi kulitnya yang hitam dimakan panasnya kawasan pesisir.

Di sekitar lokasi kami berbincang, terdapat beberapa kerangkeng terbuat dari jaring, kayu dan papan. Pagar jaring dua lapis ini menjadi benteng pelindung bagi telur-telur penyu yang terkubur di dalam tanah yang dikelilinginya.

Total ada 7 kerangkeng di pulau ini, berisi sekitar 100 butir telur penyu di masing-masingnya. Jarak antar lokasi telur tak tentu. Ada yang hanya beberapa meter saja, ada juga yang sampai sekitar 30 meter.

Anggota rombongan yang penasaran dengan aktivitas Pak Bujang menjaga telur-telur penyu ini terus bertanya. Pak Bujang juga nampak nyaman menjawab. Beberapa kali terdengar ia mengaku tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Khususnya terkait pemahaman atau petunjuk teknis selama dirinya menjalani program konservasi penyu di sini.

baca juga

Pak Bujang mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan. Bantuan yang didapat juga hanya sekedar fatamorgana yang sampai sekarang belum menjadi kenyataan. Ia hanya disibukan oleh permintaan laporan tanpa ada bimbingan.

Ia juga sempat berkeluh soal ini, juga menjabarkan progres konservasi mandiri yang dijalaninya tidak berjalan optimal karena minimnya pengalaman dan pengetahuannya tentang konservasi penyu. Dari dua sarang pertama yang harusnya menetaskan sekitar 200 tukik, sampai saat ini baru bisa menghasilkan 29 ekor anak penyu saja. Ia hanya menduga anomali cuaca sebagai sebabnya, tidak bisa memberikan kepastian tidak optimalnya metamorphosis yang terjadi.

Pak Bujang juga mengaku khawatir telur-telur di lima sarang lain akan bernasib sama. Meskipun demikian, ia tetap berusaha mencari jalan keluar. Lima sarang sisanya akan dipasang atap untuk menghindari air hujan yang diduga menjadi sebab telur-telur di dalamnya rusak.

"Kalau tidak kena air hujan mungkin akan banyak yang menetas," kata dia kepada kontributor Suara.com.

Pak Bujang (kedua dari kiri) saat menjelaskan kegiatannya menjaga telur penyu di Pulau Anak Karas atau dikenal juga dengan sebutan Pulau Lampu, Batam. [Suara.com/Bobi]
Pak Bujang (kedua dari kiri) saat menjelaskan kegiatannya menjaga telur penyu di Pulau Anak Karas atau dikenal juga dengan sebutan Pulau Lampu, Batam. [Suara.com/Bobi]

Sejak Mei 2020 lalu, hampir setiap hari Pak Bujang datang ke pulau ini, memantau sarang-sarang untuk melindungi dari ancaman pemangsa. Kadang ia juga datang pada malam harinya, mengintai induk penyu yang bertelur untuk kemudian langsung mengamankan lokasi dengan pagar jaring berlapis.

Ia mengaku menikmati momen-momen itu. Walaupun memang ketersediaan biaya operasional kadang menjadi tantangan yang menyulitkan. Namun sampai saat ini ia masih tetap melakoninya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Buron ke Singapura, Ini Tampang Bos THM Planet Batam yang Jadi Buruan Bareskrim dan Interpol

Buron ke Singapura, Ini Tampang Bos THM Planet Batam yang Jadi Buruan Bareskrim dan Interpol

News | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 08:16 WIB

Tanpa Dokumen, 51 Ayam Bangkok Asal Malaysia Disita

Tanpa Dokumen, 51 Ayam Bangkok Asal Malaysia Disita

Foto | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:56 WIB

1,3 Ton Obat Bius dalam Teh Cina Disita Bea Cukai - TNI dari Kapal Asing di Batam

1,3 Ton Obat Bius dalam Teh Cina Disita Bea Cukai - TNI dari Kapal Asing di Batam

News | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:46 WIB

Dari Kegagalan Menuju Sapta Abdi Praja, Charina Anggie Simbolon Wujudkan Mimpi Sang Ayah

Dari Kegagalan Menuju Sapta Abdi Praja, Charina Anggie Simbolon Wujudkan Mimpi Sang Ayah

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:48 WIB

Menteri ATR Nusron Wahid Ungkap Banyak Laut di Batam Dikapling Tanpa Izin PKKPRL

Menteri ATR Nusron Wahid Ungkap Banyak Laut di Batam Dikapling Tanpa Izin PKKPRL

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 15:19 WIB

500 Tukik Penyu Kembali ke Laut, Wisata Konservasi Bali Makin Diminati

500 Tukik Penyu Kembali ke Laut, Wisata Konservasi Bali Makin Diminati

Foto | Kamis, 30 Juli 2026 | 12:00 WIB

Rambah Hutan Lindung di Batam, PT GTP Jadi Tersangka Korporasi

Rambah Hutan Lindung di Batam, PT GTP Jadi Tersangka Korporasi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:18 WIB

Hati Bukan Sengketa: Strategi PN Batam Utus Mediator Perempuan Tekan Kasus Perceraian

Hati Bukan Sengketa: Strategi PN Batam Utus Mediator Perempuan Tekan Kasus Perceraian

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 10:22 WIB

Viral Raffi Ahmad Datangi Orozon di Batam, Siapa Pemilik Usahanya?

Viral Raffi Ahmad Datangi Orozon di Batam, Siapa Pemilik Usahanya?

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 10:40 WIB

Trik Menabung Era Inflasi: Gaya Micro-Saving ala Anak Rantau Batam

Trik Menabung Era Inflasi: Gaya Micro-Saving ala Anak Rantau Batam

Your Say | Senin, 29 Juni 2026 | 15:19 WIB

Terkini

Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga

Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga

Bogor | Senin, 24 Agustus 2026 | 03:49 WIB

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:21 WIB

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:58 WIB

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari

Sumsel | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:46 WIB

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:30 WIB

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:05 WIB

×