Suara.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memilih walk out dari rapat paripurna DPRD DKI Jakarta, Senin (07/09/2020).
PSI mengambil keputusan walk out dalam rapat tersebut saat agenda pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), Pertanggung jawaban Pelaksanaan APBD (P2ABPD).
Tidak hanya walk out, PSI juga menolak pertanggung jawaban pelaksanaan APBD tersebut.
Momen walk out-nya PSI tersebut kemudian dibagikan oleh Ketua DPP PSI Tsamara Amany melalui akun Twitternya @TsamaraDKI.
Dalam video berdurasi 2 menit 19 detik tersebut, terlihat Sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Anthony Winza menaiki mimbar dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap berlangsungnya rapat.

"Dengan segala hormat di rapat yang terhormat ini, kami ingin menyatakan walk out dan juga kekecewaan kami," kata Anthony.
Menurut Anthony, pihaknya sebagai anggota dewan seharusnya mendapat fasilitas mikrofon sebaga alat untuk bersuara dan mengutarakan pendapat tanpa perlu berteriak.
"Ke depan, rapat paripurna ini bisa dilakukan dengan semestinya. Karena sudah ada pembelian mikrofon semestinya harus dipakai," imbuh Anthony memberi masukan.
Sementara Tsamara dalam unggahannya, juga membeberkan tiga alasan mengapa PSI menolak pertanggungjawaban APBD 2019.
Pertama, adanya temuan anggaran robot pemadam kebakaran yang harganya lebih mahal sehingga ada dugaan mark-up.
Kedua, temuan BPK Rp 847 juta. Ketiga, adanya ketidakjelasan pembayaran commitment fee Formula E.
Atas sejumlah alasan tersebut, Tsamara menyampaikan ajakannya untuk terus mengawasi uang rakyat.
"Terus kawal uang rakyat @PSI_Jakarta," tutupnya.
Kicauan Tsamara itu pun langsung mendapat respons beragam dari warganet pengguna Twitter.
"Kami hargai penolakan @psi_id @PSI_Jakarta, cuma apakah Walk out itu menyelesaikan masalah? Ataukah ada langkah lain yang akan dilakukan oleh @PSI_Jakarta?" tulis akun @Frans**