Identitas Muslim Indonesia Tiba-tiba Menjadi Mencolok Setelah Serangan 9/11

Siswanto | ABC | Suara.com

Sabtu, 11 September 2021 | 14:11 WIB
Identitas Muslim Indonesia Tiba-tiba Menjadi Mencolok Setelah Serangan 9/11
Menara kembar WTC saat dihantam pesawat teroris Al Qaeda pada 11 September 2001 (Shutterstock).

Suara.com - Saat serangan 11 September terjadi di New York 20 tahun lalu, warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri saat itu ikut merasakan dampaknya.

Sulfikar Amir adalah salah satu warga Indonesia yang berada di New York, saat dua pesawat menabrak menara kembar World Trade Centre tepat dua puluh tahun yang lalu.

Ia baru saja memulai studinya di Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, negara bagian New York. 

Sulfikar Amir

Image: A/Prof Sulfikar Amir berstatus sebagai mahasiswa di Amerika Serikat saat peristiwa 9/11. Koleksi pribadi

"Saya baru mulai kuliah PhD sekitar sebulan, sedang stress-stress-nya karena harus membaca 400 halaman per minggu, jadi saya sering begadang."

"Begitu bangun jam sembilan pagi ... saya ke living room dan di situ istri saya teriak 'tuh lihat di New York City!' sambil melihat TV," cerita Sulfikar kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia.

"Astaga! Apa ini yang terjadi kata saya waktu itu."

"Kami melihatnya kaget dan shock banget. Terus kemudian ada lagi [pesawat kedua] kita lihat live [di televisi]. Wah, gila itu. Gila."

Sesaat setelah peristiwa itu, Sulfikar mendapat email dari tempat kuliahnya yang mengumumkan semua perkuliahan di hari itu ditiadakan, kecuali untuk satu mata kuliah.

"Kami semua datang, teman-teman PhD saya pada shock semua, saya ingat satu teman saya asal Inggris yang saat itu menangis karena orangtuanya ada di New York City. Jadi teman-teman saya yang lain berusaha menenangkannya."

Sulfikar menceritakan, setelah serangan 11 September komunitas Muslim diminta untuk lebih berhati-hati dan "low-profile".

"Sebenarnya impact yang paling besar untuk saya adalah karena identitas saya sebagai muslim dan sebagai orang yang berasal dari Asia Tenggara, dan lebih spesifik dari Indonesia" tambah profesor yang sekarang mengajar di Nanyang Technological University Singapura ini.

"Ini terasa sekali dalam urusan imigrasi. Jadi setelah peristiwa itu banyak orang Indonesia yang masuk ke dalam sebuah daftar yang membuat kita harus melapor setiap masuk ke atau keluar dari Amerika Serikat."

"Kalau gagal melapor, kita tidak akan diterima lagi masuk ke Amerika," katanya.

Sulfikar menambahkan ia pernah juga beberapa kali ketinggalan pesawat karena diinterogasi selama rata-rata dua jam oleh bagian imigrasi.

Sulfikar mengatakan ia bersyukur tinggal di kawasan Upstate New York, yang menurutnya cukup liberal dan punya banyak komunitas Muslim, sehingga lebih toleran.

Namun saat berjalan-jalan ke negara bagian lain, ia mengatakan sering merasa dicurigai.

Salah satunya waktu sedang transit di bandara di Cincinnati, ia membawa ransel cukup besar saat itu dan merasa diperhatikan oleh seorang kulit putih.

"Saya meletakkan tas saya sebelum masuk toilet karena berat. Sampai saya selesai dan keluar restroom, orang itu masih ada nunggu saya, dia sepertinya ingin memastikan ransel itu saya bawa kembali."

"Saya juga pernah makan di sebuah restoran Turki langganan saya, lalu ada orang kulit putih masuk dan teriak 'you are f*cking terrorist' dan lain-lain, meski ujung-ujungnya minta duit," ujarnya.

Sempat melepas jilbab

Dian Hendra masih ingat persis saat serangan 11 September terjadi di tahun 2001.

"Ketika itu saya ada di Grosvenor Square London karena baru saja selesai mengurus paspor di KBRI," katanya kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.

"Peristiwa ini sangat melekat di ingatan, karena pada masa itu KBRI berkantor di Grosvenor Square dan bertetangga dengan Kedubes Amerika Serikat.

"Ketika sore tiba di rumah, setelah menjemput anak-anak sekolah, saya menyalakan TV dan semua saluran menayangkan hancurnya Twin Towers di New York."

"Kemudian ada tayangan kerumunan massa di Grosvenor Square."

"Saya teringat hanya dua tiga jam sebelumnya saya duduk di tempat yang sama berpiknik bersama anak saya yang terkecil duduk di push chair-nya, sebelum pulang ke rumah," kata Dian yang sudah tinggal Inggris sejak akhir tahun 1980-an.

Dian merasakan ada perbedaan besar dalam kehidupannya di London sebelum dan sesudah peristiwa 11 September.

"Sebelum September 11, saya tidak mengalami sesuatu yang aneh sebagai Muslim," ujarnya.

Namun setelah 11 September, Dian merasakan sendiri identitas Muslim-nya menjadi berbeda.

"Karena saya berhijab, maka perubahan itu sangat saya rasakan juga dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dalam bentuk persepsi orang terhadap saya."

"Beberapa kali saya mengalami pelecehan verbal di jalan. Kejadian seperti ini sangat membuat tidak nyaman," ujar Dian.

"Ada pula kejadian di kereta Underground ketika satu anak saya yang ketika itu berumur 9 tahun tiba-tiba ditarik keluar dari tempat duduknya," katanya, sementara penumpang lain hanya diam saja tak membantu.

"Tidak lama setelah itu kebetulan kami pindah ke daerah perumahan yang mayoritas dihuni orang Inggris asli, sehingga saya dengan berat hati membuka hijab saya."

"[Karena] kalau keluar rumah, saya harus menggunakan transpor publik, sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya melepas hijab saya." katanya lagi.

"Ini saya lakukan untuk alasan keamanan, karena saat itu suami saya punya jam kerja panjang dan sering saya hanya sendiri bersama anak-anak yang masih kecil."

Antara tahun 2009 sampai 2014, Dian sempat pulang ke Indonesia karena mendapatkan pekerjaan di sebuah sekolah internasional, sebelum kembali lagi ke Inggris di tahun 2015.

Dian pun memutuskan kembali mengenakan jilbab setelah melihat ada perubahan besar warga Inggris dalam memperlakukan Muslim.

"Ternyata ada hikmah di balik peristiwa September 11, yaitu meningkatkan awareness terhadap Muslim".

"Meski banyak kejadian pahit yang dirasakan Muslim di Inggris, di balik itu masyarakat semakin kenal dengan Islam. Dan dengan semakin kenal, semakin ada rasa menghormati."

Dua puluh tahun setelah peristiwa 11 September di Amerika Serikat, Dian merasa tak ada masalah lagi menjadi Muslim di Inggris.

"Menurut saya negeri ini sangat baik mendukung hak dan kesempatan untuk semua orang.

"Tugas kita sebagai Muslim adalah menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, melakukan dakwah kita melalui karakter yang baik."

Merasakan menjadi kelompok minoritas di Australia

Beberapa bulan setelah serangan 11 September 2001, Ersa Tri Wahyuni berangkat ke Melbourne untuk melanjutkan studinya di bidang akuntansi.

Ia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia, AusAid namanya saat itu, untuk kuliah di University of Melbourne.

Ersa mengatakan setibanya di Melbourne, ia tak menyangka betapa kuatnya ia merasakan sentimen anti-Islam di Australia setelah peristiwa 11 September.

"Saya di Indonesia kan tidak pernah memiliki masalah dengan identitas atau penggunaan jilbab, yang sudah saya pakai sejak umur 15 tahun," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

"Kami semua, mahasiswa asal Indonesia, sering diingatkan untuk selalu berhati-hati, jangan dulu kumpul-kumpul atau pengajian," kata Ersa yang kini menjadi dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad).

Ersa pernah juga mendengar laporan ada pengajian di rumah mahasiswa Indonesia di Brunswick yang digerebek dan komputernya diambil. Tapi ia tidak tahu pasti kelanjutan dari laporan tersebut.

Di awal semester Ersa sudah ditunjuk menjadi Presiden untuk asosisasi mahasiswa pasca-sarjana University of Melbourne, salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Australia.

Ersa mengatakan ia menjadi mahasiswa internasional dan Muslimah pertama di asosisasi yang saat itu menaungi lebih dari 10 ribu mahasiswa pascasarjana.

"Tapi saat itu kok jadinya heboh banget ya, sampai masuk ke media, ke majalah, dengan menyoroti perempuan berjilbab menjadi presiden asosiasi," ujarnya.

Ersa sempat merasa terpilihnya menjadi presiden asosiasi hanya karena dirinya seorang Muslim, serta sebagai pernyataan politik dari University of Melbourne menanggapi sentimen anti-Islam yang sedang berkembang.

"Tapi ketika saya bertanya kenapa saya yang dipilih dan mengalahkan mahasiswa lokal, jawabannya karena saya sudah memiliki banyak pengalaman sebagai aktivis mahasiswa di Indonesia," ujarnya.

Ersa pun membuktikan kemampuannya dalam memperhatikan kesejahteraan mahasiswa pascasarjana di Australia, termasuk memperkenalkan pemahaman perbedaan budaya di dunia kampus.

Salah satunya adalah menggagas disediakannya pilihan makanan halal dan vegetarian di setiap kegiatan kemahasiswaan.

"Sebelumnya mereka tidak pernah melakukannya, padahal mahasiswa internasional terutama dari kalangan Muslim makin banyak."

Ersa saat ini menjabat sebagai Kepala Unit Internasionalisasi di FEB Unpad dan ia mengatakan pengalamannya tinggal di luar negeri sebagai minoritas menjadi salah satu kesempatan terbaik dalam hidupnya.

"Dengan pernah menjadi kelompok minoritas di luar negeri, kita semakin paham pentingnya menghargai perbedaan dan empati bagi orang lain," kata Ersa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Carnaby Street ke New York: Realitas yang Menampar dalam The Look

Dari Carnaby Street ke New York: Realitas yang Menampar dalam The Look

Your Say | Minggu, 03 Mei 2026 | 14:20 WIB

Viral Polisi Sita Mobil Sport Rp1 Miliar Gegara Pengemudi Mabuk di Jalan

Viral Polisi Sita Mobil Sport Rp1 Miliar Gegara Pengemudi Mabuk di Jalan

News | Kamis, 30 April 2026 | 09:30 WIB

Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar

Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar

News | Jum'at, 24 April 2026 | 16:10 WIB

Gereja Berusia 2 Abad di AS Porak-poranda Diamuk Si Jago Merah, 5 Petugas Damkar Jadi Korban

Gereja Berusia 2 Abad di AS Porak-poranda Diamuk Si Jago Merah, 5 Petugas Damkar Jadi Korban

News | Jum'at, 24 April 2026 | 11:02 WIB

Bikin Bangga, 6 Remaja Indonesia Tampil Menembus Panggung Megah Carnegie Hall di New York

Bikin Bangga, 6 Remaja Indonesia Tampil Menembus Panggung Megah Carnegie Hall di New York

Entertainment | Senin, 13 April 2026 | 11:48 WIB

Aldi Taher Sujud Syukur Bakal Terbang ke New York Fashion Week, Siap Pamer Batik Lokal

Aldi Taher Sujud Syukur Bakal Terbang ke New York Fashion Week, Siap Pamer Batik Lokal

Entertainment | Minggu, 12 April 2026 | 08:49 WIB

Terinspirasi ISIS, Dua Remaja AS Rencanakan Ledakan Massal, Targetkan Puluhan Korban

Terinspirasi ISIS, Dua Remaja AS Rencanakan Ledakan Massal, Targetkan Puluhan Korban

News | Rabu, 08 April 2026 | 15:22 WIB

Rekaman 3 Menit Terakhir Ungkap Penyebab Tragis Kecelakaan Pesawat Air Canada di New York

Rekaman 3 Menit Terakhir Ungkap Penyebab Tragis Kecelakaan Pesawat Air Canada di New York

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 17:00 WIB

Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa

Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa

News | Senin, 23 Maret 2026 | 22:05 WIB

Rekaman Menegangkan Detik-Detik Tabrakan Pesawat Air Canada dengan Truk Pemadam di New York

Rekaman Menegangkan Detik-Detik Tabrakan Pesawat Air Canada dengan Truk Pemadam di New York

News | Senin, 23 Maret 2026 | 20:54 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila

Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:51 WIB

Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026

Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:39 WIB

Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk di Dunia, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar

Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk di Dunia, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:28 WIB

Narasi Viral Ternyata Rekayasa! Polisi: Model Ansy Jan De Vrie Bukan Korban Begal

Narasi Viral Ternyata Rekayasa! Polisi: Model Ansy Jan De Vrie Bukan Korban Begal

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:52 WIB

Peringati Harkitnas, Menteri PANRB Dorong Transformasi Birokrasi Berbasis Data

Peringati Harkitnas, Menteri PANRB Dorong Transformasi Birokrasi Berbasis Data

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:50 WIB

'Tetangga Punya SHM, Kami Kok Tidak?' Warga Pangkalan Jati Tagih Keadilan Lahan ke Komisi XI DPR

'Tetangga Punya SHM, Kami Kok Tidak?' Warga Pangkalan Jati Tagih Keadilan Lahan ke Komisi XI DPR

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:09 WIB

Benjamin Netanyahu Minta Lepaskan Aktivis Global Sumud Flotilla

Benjamin Netanyahu Minta Lepaskan Aktivis Global Sumud Flotilla

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:08 WIB

Dari Tragedi 98 hingga Isu Papua, Mahasiswa UI Suarakan Kekecewaan Lewat Aksi #Reformati

Dari Tragedi 98 hingga Isu Papua, Mahasiswa UI Suarakan Kekecewaan Lewat Aksi #Reformati

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:07 WIB

Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Diduga Terima SGD 213.600 di Kasus Suap Blueray Cargo!

Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Diduga Terima SGD 213.600 di Kasus Suap Blueray Cargo!

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 07:37 WIB

Benjamin Natanyahu: Perlakuan Menteri Israel ke Aktivis Global Sumud Flotilla Tak Sesuai Norma

Benjamin Natanyahu: Perlakuan Menteri Israel ke Aktivis Global Sumud Flotilla Tak Sesuai Norma

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 07:35 WIB