Antisosial Anak Pejabat, Salah Pola Asuh

Erick Tanjung, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Senin, 27 Februari 2023 | 18:31 WIB
Antisosial Anak Pejabat, Salah Pola Asuh
Ilustrasi Mario Dandy Satriyo. [Suara.com/Iqbal]

Salah Pola Asuh

Pemerhati Anak, Rita Pranawati menilai aksi penganiayaan yang dilakukan oleh Mario Dandy terhadap David menjadi contoh hilangnya rasa empati seorang manusia. Lantas menjadi pertanyaan bagaimana pola asuh Mario Dandy oleh kedua orang tuanya.

Rita menerangkan bahwa nilai-nilai kasih sayang, budi pekerti hingga kemanusiaan itu menjadi ajaran dasar orang tua terhadap anaknya. Terlebih melihat Mario Dandy yang begitu emosial dalam meluapkan kekesalan hingga tidak memiliki rasa kekhawatiran terhadap kondisi orang lain. "Bagaimana dia mengelola emosi, mengekspresikan emosi, menyelesaikan masalah itu menjadi hal-hal yag kritikal, menjadi pertanyaan juga gitu kenapa kemudian tidak muncul rasa menyesal, rasa khawatir dan seterusnya," terang Rita saat dihubungi Suara.com, Sabtu (25/2).

Rita menggarisbawahi kalau tidak semua anak yang memiliki orang tua kaya raya seperti Mario Dandy kemudian tumbuh menjadi pribadi angkuh. Sebab, keberanian seseorang untuk melakukan kekerasan itu juga bergantung bagaimana ajaran yang diberikan kepada seorang anak pada fase tumbuh kembang.

Rafael Alun Trisambodo dalam video permintaan maafnya terkait sang anak, Mario Dandy Satriyo yang menjadi tersangka kasus penganiayaan. (Ist)
Rafael Alun Trisambodo, ayah Mario Dandy Satriyo yang menjadi tersangka kasus penganiayaan. (Ist)

Menurutnya, ada dua penyebab mengapa seseorang bisa melakukan kekerasan tanpa adanya kekhawatiran yang menyelimuti pikirannya. Pertama ialah budaya di lingkup keluarga. "Pertama tentu sangat menyesalkan masalah yang dimiliki referensi dengan menggunakan kekerasan, entah ini value, budaya di dalam keluarga," ujarnya.

Atau bisa juga karena paparan dari game kekerasan yang biasa dimainkan oleh remaja laki-laki. "Misalnya challenge semakin keras semakin sadis itu semakin baik gitu, ya, itu kan yang sering menajdi tujuan identitas diri seseorang, semakin, wah, itu semakin berbeda semakin menarik dan menantang misalnya," terangnya.

Sikap yang ditunjukkan oleh Mario Dandy, kata Rita, menjadi pengingat bahwa pentingnya nilai kasih sayang, menghormati orang lain, hingga dewasa dalam menyelesaikan masalah. "Seberapapun harta yang kita punya, seberapapun yang tidak kita punya itu adalah menghormati org lain, kasih sayang, itu kan seharusnya value dasar yang harusnya diajarkan."

Faktor Dimanja

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menilai sikap brutal Mario Dandy Satriyo (MDS), anak pejabat Ditjen Pajak, yang melakukan penganiayaan secara brutal terhadap David dipengaruhi banyak faktor. “Masih muda, pengasuhan pemanjaan secara berlebihan, bisa dipandang sebagai kondisi yang memunculkan faktor risiko pada yang bersangkutan. Jadi wajar kalau dia brutal seperti itu,” kata Reza.

baca juga

Peneliti dari ASA Indonesia Institute itu juga mengaitkan dengan risk assessment adalah tingkat kemandirian, baik kemandirian finansial maupun sosial.

Menurutnya semakin seseorang tidak mandiri, maka semakin tinggi risiko perilaku kekerasannya. “Barangkali ini yang publik sangkut pautkan dengan gaya hidup mewah yang bersangkutan,” ujar Reza.

Selain itu Reza menilai bahwa MDS bukan lagi seorang anak melainkan orang dewasa dan cara menyikapi harus sesuai umurnya. “Jadi, sikapi dia sebagai orang dewasa. Beda dengan penyikapan terhadap pelaku anak-anak, terhadap pelaku dewasa publik boleh marah,” paparnya.

Reza juga membahas kendaraan mewah yang digunakan pelaku, mendorong peningkatan rasa percaya diri, lebih macho, chauvinistic, dan menurunkan pemikiran tentang konsekuensi perbuatannya. Sama seperti seseorang saat membawa senjata. “Senjata membuat pemiliknya menjadi impulsif. Boleh jadi itu pula sensasi yang bersangkutan selaku pengguna mobil mewah,” paparnya.

Buntut dari viralnya video penganiayaan tersebut, ayah MDS dicopot dari jabatannya sebagai pejabat Ditjen Pajak, yang disusul dengan pengunduran diri sang ayah sebagai ASN di Kementerian Keuangan.

Haus Pengakuan

Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi menyebut perilaku Dandy yang kerap pamer kekayaan dengan menunggangi kendaraan mewah  di media sosial hingga melakukan kekerasan merupakan bagian dari hedonisme.

Dandy disebut Sigit, sedang merayakan kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya. Dandy butuh pengakuan atas status sosialnya dan haus akan penghormatan. "Dalam sosiologi dikenal sebagai hedonisme, orang yang bersenang-senang, orang yang merasa dirinya menjadi pemilik barang-barang mewah dan dia merayakan kesenangannya dengan barang-barang mewah," kata Sigit, Sabtu (25/1).

Mario Dandy Satriyo  (ANTARA)
Mario Dandy Satriyo (ANTARA)

Biasanya kata Sigit, perilaku hedonisme terjadi pada generasi kedua dari keluarga kaya. Mereka sudah terlahir dengan kekayaan yang melimpah dan tinggal menikmati hasil cerih paya orang tuanya, tanpa harus mengeluarkan keringat. "Jadi kalau orang-orang bercucuran keringat, orang-orang bercucuran air mata, meskipun dia kaya, dia tidak berperilaku hedonis. Jadi hedonis itu ditunjukkan oleh generasi kedua, atau generasi ketiga, misalnya anak orang kaya raya, cucunya orang kaya raya, ini biasanya seperti itu," jelas Sigit.

Kekayaan itu  mereka representasikan dengan gaya hidupnya. Memiliki barang-barang bermerek hingga kendaraan mewah, dengan tujuan menjadi pusat perhatian. Orang "Dan orang yang ada di sosialnya itu diharapkan untuk menghormati. Jadi dia merasa dirinya sebagai pusat perhatian, dari kelompok yang ada di sekitarnya itu," katanya.

Namun perilaku hedonisme itu berpotensi berujung  petaka, ketika mereka terusik, seperti yang dilakukan Dandy. Mereka tak segan melakukan tindak brutal ketiga harga dirinya terusik, meskipun hanya dipicu hal sepele. Terlebih pihak yang mengusik mereka,  dianggap berada jauh di bawa mereka. "Nah ketika melihat si sasaran, si korban ini ternyata dia tidak selevel, dia melampiaskan dendam seperti itu (kekerasan)," tuturnya.

Sigit pun menilai dari kasus Dandy terdapat satu hal yang dapat disimpulkan,  kebanggaan atas kekayaan yang membutuhkan pengakuan. "Bahwa dia memiliki prestise, memiliki status yang diperoleh oleh kekayaan ayahnya," sebutnya.

Namun pada kasus Dandy, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan itu berujung petaka. "Nah kebanggan ekonomi ini berdampak pada perilaku kekerasan  yang dia lakukan, karena korbannya dianggap adalah orang lapisan bawah. Kelompok yang  ada di bawah" kata Sigit.

"Jadi ini ada status prestise, ada kebanggaan kekayaan, harga dirinya tersinggung kemudian dia melakukannya dengan kekerasan begitu," sambungnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Fakta Terbaru Jejak Keluarga Eks Pejabat Pajak Rafael Alun Trisambodo di Jogja, Punya Istana Mewah hingga Ditegur Warga Gegara Knalpot Brong

5 Fakta Terbaru Jejak Keluarga Eks Pejabat Pajak Rafael Alun Trisambodo di Jogja, Punya Istana Mewah hingga Ditegur Warga Gegara Knalpot Brong

Joglo | Senin, 27 Februari 2023 | 18:24 WIB

Klub Moge Dibubarkan Buntut Anak Pejabat Pajak Bikin Anak Pengurus GP Ashor Koma: Mau Citrakan Hidup Sederhana

Klub Moge Dibubarkan Buntut Anak Pejabat Pajak Bikin Anak Pengurus GP Ashor Koma: Mau Citrakan Hidup Sederhana

Sumatera | Senin, 27 Februari 2023 | 18:01 WIB

Lusa KPK Panggil Rafael Alun, Klarifikasi Harta Kekayaan yang Fantastis

Lusa KPK Panggil Rafael Alun, Klarifikasi Harta Kekayaan yang Fantastis

Moots | Senin, 27 Februari 2023 | 17:43 WIB

Terkini

Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia

Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia

Surakarta | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:44 WIB

Senin 17 Agustus, Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah 68 Orang, 213 Terluka

Senin 17 Agustus, Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah 68 Orang, 213 Terluka

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:41 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Ini 8 Kontribusi BRI dalam Mendorong Kemajuan Negeri

Semarak HUT ke-81 RI, Ini 8 Kontribusi BRI dalam Mendorong Kemajuan Negeri

Sulsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:40 WIB

SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS

SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:38 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan Lewat 8 Kontribusi Utama

81 Tahun Indonesia Merdeka, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan Lewat 8 Kontribusi Utama

Sumut | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:37 WIB

Rupiah Lagi Berotot di HUT RI, Bergerak di Level Rp17.798

Rupiah Lagi Berotot di HUT RI, Bergerak di Level Rp17.798

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:35 WIB

Rayakan 81 Tahun Kemerdekaan, BRI Hadirkan 8 Kontribusi untuk Ekonomi Indonesia

Rayakan 81 Tahun Kemerdekaan, BRI Hadirkan 8 Kontribusi untuk Ekonomi Indonesia

Kalbar | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:34 WIB

Witch Hat Atelier Raih Penghargaan Anime Terbaik di Astra TV Awards 2026

Witch Hat Atelier Raih Penghargaan Anime Terbaik di Astra TV Awards 2026

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:30 WIB

Gempa Flores, Pasokan LPG dan BBM untuk Warga Dipastikan Tetap Aman

Gempa Flores, Pasokan LPG dan BBM untuk Warga Dipastikan Tetap Aman

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:29 WIB

SBY Minta Maaf Tak Ikut Upacara HUT Kemerdekaan di Istana: Saya Pulang September

SBY Minta Maaf Tak Ikut Upacara HUT Kemerdekaan di Istana: Saya Pulang September

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:27 WIB

×