- BMKG mengimbau kewaspadaan cuaca ekstrem meningkat di Indonesia bagian selatan menjelang akhir Januari 2026 karena gangguan atmosfer signifikan.
- Peningkatan intensitas hujan disebabkan Bibit Siklon Tropis 97S, Monsun Asia menguat, serta adanya Gelombang Rossby dan Kelvin.
- Dampak potensi cuaca ekstrem meliputi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di wilayah terdampak.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprakirakan mengalami peningkatan intensitas hujan yang dapat berdampak pada berbagai sektor.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan gangguan atmosfer yang terpantau saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, serta gangguan pada sektor transportasi di wilayah terdampak.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini,” kata Faisal dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan.
Salah satunya adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot atau 28 kilometer per jam dan tekanan udara 1.001 hPa.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” ujar Andri.
Selain itu, Monsun Asia diperkirakan menguat hingga 23 Januari 2026 dan disertai dengan seruakan dingin atau cold surge dari daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.
Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang didukung nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif turut memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus di atmosfer.
Baca Juga: Analisis BMKG: Pesawat ATR Jatuh di Maros saat Awan Cumulonimbus Selimuti Jalur Pendaratan
Kondisi tersebut diperkuat oleh kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat.
BMKG mencatat kombinasi berbagai faktor tersebut secara aktif meningkatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan.
Hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan hujan lebat yang disertai kilat dan angin kencang berpotensi terjadi secara bergantian di berbagai wilayah hingga akhir Januari 2026.
Pada 21 Januari, cuaca ekstrem diperkirakan melanda Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Memasuki 22 Januari, potensi serupa masih membayangi Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada 23 Januari di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.
Pada 24 Januari, intensitas cuaca ekstrem berpotensi terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selanjutnya, BMKG memprakirakan Bali, NTB, dan NTT akan mengalami peningkatan curah hujan pada periode 25 hingga 26 Januari 2026.