- BMKG mengimbau waspada musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih awal (April) dan lebih kering (Bawah Normal) dari biasanya.
- Puncak kemarau diprediksi Agustus 2026, berpotensi menimbulkan krisis air, gagal panen, serta meningkatnya risiko Karhutla.
- Pemerintah mengaktifkan status Siaga Darurat dan melakukan mitigasi seperti TMC, pompanisasi, serta edukasi penghematan air.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. Persiapan dini sangat diperlukan karena awal musim kemarau tersebut diprediksi maju dari rerata normalnya.
Musim kemarau diprediksi akan dimulai pada April 2026, diawali di 114 Zona Musim (ZOM) yang meliputi wilayah Jawa, NTB, hingga sebagian Kalimantan. Sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal kemarau yang "maju" atau lebih awal dari rerata klimatologisnya, mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Secara durasi, sebanyak 57,2% wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami masa kemarau yang lebih panjang dibandingkan durasi normalnya.
Musim kemarau tahun 2026 dikategorikan sebagai Bawah Normal, yang berarti kondisi cuaca akan jauh lebih kering jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya atau rata-rata klimatologisnya. Kondisi sangat kering ini terutama akan mendominasi wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga sebagian besar Pulau Papua.
Faktor Penyebab
Perubahan pola iklim ekstrem dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña menuju fase El Niño serta peralihan Monsun Asia ke Monsun Australia yang menandai dimulainya periode gersang. Selain itu, kondisi IOD yang diprediksi tetap Netral tidak akan memberikan tambahan curah hujan signifikan untuk mengimbangi potensi kekeringan tersebut.

- Sektor Pertanian: Ancaman Gagal Panen (Puso)
Sektor pertanian akan menghadapi penurunan produktivitas akibat penyusutan debit air irigasi yang menyebabkan tanaman pangan mengalami stres air. Selain itu, terdapat risiko tinggi gagal panen total (puso) serta peningkatan kerentanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit selama periode kemarau ekstrem tersebut.
- Sektor Lingkungan: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
Kondisi "Bawah Normal" menyebabkan vegetasi dan lahan gambut menjadi sangat kering sehingga memicu lonjakan titik panas di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran lahan tersebut berpotensi menimbulkan bencana kabut asap pekat yang sulit dipadamkan serta mengganggu jarak pandang dan aktivitas transportasi.
- Sumber Daya Air: Krisis Air Bersih
Penyusutan debit air pada waduk, sungai, dan sumur warga akan memicu krisis air bersih untuk kebutuhan harian sekaligus menurunkan produksi listrik dari PLTA. Sementara itu, berkurangnya aliran air tawar ke muara menyebabkan terjadinya intrusi air laut yang mengakibatkan air tanah di wilayah pesisir menjadi payau atau asin.
Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus
- Sektor Kesehatan: Penyakit Musiman
Peningkatan debu dan kabut asap akan memicu lonjakan kasus ISPA, sementara keterbatasan akses air bersih meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare dan kolera. Di sisi lain, gagal panen yang berkepanjangan berpotensi menaikkan harga pangan sehingga mengancam stabilitas asupan gizi masyarakat, terutama pada kelompok ekonomi rendah.
- Dampak Ekonomi dan Sosial
Kelangkaan stok pangan seperti beras dan sayuran akibat kekeringan akan memicu kenaikan harga yang signifikan serta mendorong inflasi. Selain itu, terbatasnya ketersediaan air irigasi berpotensi menimbulkan gesekan atau konflik sosial antarpetani maupun antarwilayah dalam memperebutkan akses air.
Peran Pemerintah
Memasuki bulan Maret 2026, dengan prediksi kemarau "Bawah Normal" yang akan mencapai puncaknya pada Agustus, pemerintah telah mengaktifkan status Siaga Darurat Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan.
- Kementerian PUPR & PDAM (Manajemen Air)
Pemerintah melalui Kementerian PUPR sedang mengoptimalkan fase "panen hujan" dengan memperketat operasional pintu air di bendungan besar seperti Jatiluhur, Gajah Mungkur, dan Tilong agar elevasi tetap stabil, sembari mempercepat pengerukan sedimen di saluran irigasi untuk mencegah hambatan aliran serta meminimalisir kehilangan air. Sementara itu, untuk menjamin kebutuhan air bersih di wilayah rawan seperti NTT, Gunungkidul, dan Pantura, PDAM telah menyiagakan armada mobil tangki dan mempercepat pembangunan sumur bor baru di titik-titik kritis sebagai solusi darurat jangka pendek.
- Kementerian Pertanian (Kementan)
Kementerian Pertanian mempercepat Gerakan Pompanisasi Nasional dengan mendistribusikan ribuan unit pompa air ke sentra produksi padi tadah hujan guna menyelamatkan Musim Tanam II, sekaligus menyalurkan bantuan benih varietas unggul yang toleran kekeringan seperti Inpari 38 dan varietas Gogo.