Panduan Bertahan di Cuaca Ekstrem: Cara Menjaga Kesehatan dan Stok Air Saat Kemarau

Dwi Bowo Raharjo | Adiyoga Priyambodo | Suara.com

Jum'at, 06 Maret 2026 | 14:39 WIB
Panduan Bertahan di Cuaca Ekstrem: Cara Menjaga Kesehatan dan Stok Air Saat Kemarau
Ilustrasi musik kekeringan akibat musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. (Suara.com/Syahda)
  • BMKG mengimbau waspada musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih awal (April) dan lebih kering (Bawah Normal) dari biasanya.
  • Puncak kemarau diprediksi Agustus 2026, berpotensi menimbulkan krisis air, gagal panen, serta meningkatnya risiko Karhutla.
  • Pemerintah mengaktifkan status Siaga Darurat dan melakukan mitigasi seperti TMC, pompanisasi, serta edukasi penghematan air.

Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. Persiapan dini sangat diperlukan karena awal musim kemarau tersebut diprediksi maju dari rerata normalnya.

Musim kemarau diprediksi akan dimulai pada April 2026, diawali di 114 Zona Musim (ZOM) yang meliputi wilayah Jawa, NTB, hingga sebagian Kalimantan. Sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal kemarau yang "maju" atau lebih awal dari rerata klimatologisnya, mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Secara durasi, sebanyak 57,2% wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami masa kemarau yang lebih panjang dibandingkan durasi normalnya.

Musim kemarau tahun 2026 dikategorikan sebagai Bawah Normal, yang berarti kondisi cuaca akan jauh lebih kering jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya atau rata-rata klimatologisnya. Kondisi sangat kering ini terutama akan mendominasi wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga sebagian besar Pulau Papua.

Faktor Penyebab

Perubahan pola iklim ekstrem dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña menuju fase El Niño serta peralihan Monsun Asia ke Monsun Australia yang menandai dimulainya periode gersang. Selain itu, kondisi IOD yang diprediksi tetap Netral tidak akan memberikan tambahan curah hujan signifikan untuk mengimbangi potensi kekeringan tersebut.

Infografis tetap sehat dan aman meski kemarau melanda. BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. (Suara.com/Syahda)
Infografis tetap sehat dan aman meski kemarau melanda. BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. (Suara.com/Syahda)
  • Sektor Pertanian: Ancaman Gagal Panen (Puso)

Sektor pertanian akan menghadapi penurunan produktivitas akibat penyusutan debit air irigasi yang menyebabkan tanaman pangan mengalami stres air. Selain itu, terdapat risiko tinggi gagal panen total (puso) serta peningkatan kerentanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit selama periode kemarau ekstrem tersebut.

  • Sektor Lingkungan: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Kondisi "Bawah Normal" menyebabkan vegetasi dan lahan gambut menjadi sangat kering sehingga memicu lonjakan titik panas di wilayah rawan seperti Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran lahan tersebut berpotensi menimbulkan bencana kabut asap pekat yang sulit dipadamkan serta mengganggu jarak pandang dan aktivitas transportasi.

  • Sumber Daya Air: Krisis Air Bersih

Penyusutan debit air pada waduk, sungai, dan sumur warga akan memicu krisis air bersih untuk kebutuhan harian sekaligus menurunkan produksi listrik dari PLTA. Sementara itu, berkurangnya aliran air tawar ke muara menyebabkan terjadinya intrusi air laut yang mengakibatkan air tanah di wilayah pesisir menjadi payau atau asin.

  • Sektor Kesehatan: Penyakit Musiman

Peningkatan debu dan kabut asap akan memicu lonjakan kasus ISPA, sementara keterbatasan akses air bersih meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare dan kolera. Di sisi lain, gagal panen yang berkepanjangan berpotensi menaikkan harga pangan sehingga mengancam stabilitas asupan gizi masyarakat, terutama pada kelompok ekonomi rendah.

  • Dampak Ekonomi dan Sosial

Kelangkaan stok pangan seperti beras dan sayuran akibat kekeringan akan memicu kenaikan harga yang signifikan serta mendorong inflasi. Selain itu, terbatasnya ketersediaan air irigasi berpotensi menimbulkan gesekan atau konflik sosial antarpetani maupun antarwilayah dalam memperebutkan akses air.

Peran Pemerintah

Memasuki bulan Maret 2026, dengan prediksi kemarau "Bawah Normal" yang akan mencapai puncaknya pada Agustus, pemerintah telah mengaktifkan status Siaga Darurat Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan.

  • Kementerian PUPR & PDAM (Manajemen Air)

Pemerintah melalui Kementerian PUPR sedang mengoptimalkan fase "panen hujan" dengan memperketat operasional pintu air di bendungan besar seperti Jatiluhur, Gajah Mungkur, dan Tilong agar elevasi tetap stabil, sembari mempercepat pengerukan sedimen di saluran irigasi untuk mencegah hambatan aliran serta meminimalisir kehilangan air. Sementara itu, untuk menjamin kebutuhan air bersih di wilayah rawan seperti NTT, Gunungkidul, dan Pantura, PDAM telah menyiagakan armada mobil tangki dan mempercepat pembangunan sumur bor baru di titik-titik kritis sebagai solusi darurat jangka pendek.

  • Kementerian Pertanian (Kementan)

Kementerian Pertanian mempercepat Gerakan Pompanisasi Nasional dengan mendistribusikan ribuan unit pompa air ke sentra produksi padi tadah hujan guna menyelamatkan Musim Tanam II, sekaligus menyalurkan bantuan benih varietas unggul yang toleran kekeringan seperti Inpari 38 dan varietas Gogo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alarm Bahaya BPBD Menyala, Cuaca Ekstrem Kepung Jakarta hingga 12 Maret

Alarm Bahaya BPBD Menyala, Cuaca Ekstrem Kepung Jakarta hingga 12 Maret

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 13:16 WIB

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prakiraan Cuaca BMKG

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prakiraan Cuaca BMKG

Lifestyle | Kamis, 05 Maret 2026 | 06:27 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 15:21 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 14:21 WIB

Terkini

Diplomasi Nuklir Iran Memanas, Amerika Serikat Memberikan Ultimatum Mau Mengubah Poin Kesepakatan

Diplomasi Nuklir Iran Memanas, Amerika Serikat Memberikan Ultimatum Mau Mengubah Poin Kesepakatan

News | Minggu, 12 April 2026 | 12:30 WIB

Bahlil Peringatkan Kader Golkar Sulut: Jangan Ada Kubu Sana-Sini Kalau Mau Menang 2029!

Bahlil Peringatkan Kader Golkar Sulut: Jangan Ada Kubu Sana-Sini Kalau Mau Menang 2029!

News | Minggu, 12 April 2026 | 12:28 WIB

Blokade Selat Hormuz Penghambat Utama Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran

Blokade Selat Hormuz Penghambat Utama Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:55 WIB

Ironi Sawit RI: Indonesia Punya Kebun, Tapi Kenapa Singapura yang Meraup Cuan?

Ironi Sawit RI: Indonesia Punya Kebun, Tapi Kenapa Singapura yang Meraup Cuan?

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:54 WIB

Ini Poin Jalan Buntu Perundingan Amerika Serikat dan Iran

Ini Poin Jalan Buntu Perundingan Amerika Serikat dan Iran

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:36 WIB

Breakingnews! Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan Buntu

Breakingnews! Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan Buntu

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:20 WIB

Berompi Oranye dan Tangan Terborgol, Bupati Tulungagung Tertunduk Lesu Usai Kena OTT KPK: Mohon Maaf

Berompi Oranye dan Tangan Terborgol, Bupati Tulungagung Tertunduk Lesu Usai Kena OTT KPK: Mohon Maaf

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:09 WIB

Negosiasi Iran dan AS di Islamabad Berlanjut, Delegasi Perpanjang Waktu Perundingan

Negosiasi Iran dan AS di Islamabad Berlanjut, Delegasi Perpanjang Waktu Perundingan

News | Minggu, 12 April 2026 | 11:08 WIB

Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis

Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis

News | Minggu, 12 April 2026 | 10:51 WIB

Dikawal Ketat! Bus Rombongan Bonek Dipastikan Aman Keluar Tol Cikatama Usai Diserang Batu-Petasan

Dikawal Ketat! Bus Rombongan Bonek Dipastikan Aman Keluar Tol Cikatama Usai Diserang Batu-Petasan

News | Minggu, 12 April 2026 | 10:47 WIB