Panduan Bertahan di Cuaca Ekstrem: Cara Menjaga Kesehatan dan Stok Air Saat Kemarau

Dwi Bowo Raharjo, Adiyoga Priyambodo

Jum'at, 06 Maret 2026 | 14:39 WIB
Panduan Bertahan di Cuaca Ekstrem: Cara Menjaga Kesehatan dan Stok Air Saat Kemarau
Ilustrasi musik kekeringan akibat musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal. (Suara.com/Syahda)
  • BMKG mengimbau waspada musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih awal (April) dan lebih kering (Bawah Normal) dari biasanya.
  • Puncak kemarau diprediksi Agustus 2026, berpotensi menimbulkan krisis air, gagal panen, serta meningkatnya risiko Karhutla.
  • Pemerintah mengaktifkan status Siaga Darurat dan melakukan mitigasi seperti TMC, pompanisasi, serta edukasi penghematan air.

Selain itu, pada wilayah dengan cadangan air waduk di bawah 30 persen, petani didorong secara agresif untuk melakukan diversifikasi ke tanaman palawija melalui penyuluhan lapangan intensif agar produktivitas lahan tetap terjaga meski dalam kondisi krisis air.

  • BNPB & BPBD (TMC dan Karhutla)

BNPB berkolaborasi dengan BRIN dan BMKG memprioritaskan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengisi waduk strategis serta membasahi lahan gambut di wilayah rawan seperti Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan guna mencegah kebakaran hutan sebelum awan hujan menghilang. Di tingkat daerah, Satgas Karhutla yang melibatkan TNI/Polri dan Manggala Agni telah diaktifkan dengan dukungan kesiagaan helikopter Water Bombing serta pengawasan titik panas melalui patroli darat dan pemantauan satelit selama 24 jam penuh.

  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes)

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi minimal 2-3 liter air sehari serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker, tabir surya, dan pakaian berbahan ringan guna menangkal dampak dehidrasi serta paparan debu pemicu ISPA.

Selain itu, masyarakat disarankan untuk senantiasa menjaga higiene sanitasi air dan pangan guna mencegah penyakit diare atau kolera serta membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan pada jam terik antara pukul 11.00 hingga 15.00 demi meminimalisir risiko kesehatan akibat paparan suhu ekstrem.

  • "Pekerjaan Rumah" Pemerintah

Kebijakan utama yang harus diprioritaskan pemerintah dalam menghadapi musim kemarau adalah menjamin ketersediaan pangan secara nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Jika stok pangan tercukupi dan terdistribusi dengan baik, dampak buruk dari kekeringan ekstrem tidak akan menjadi beban sosial yang berat.

"Kemarau pun ya nggak masalah," ujar pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah.

Pemerintah daerah juga perlu aktif melakukan edukasi serta memberikan informasi persiapan kemarau berdasarkan pemetaan data titik kekeringan yang akurat. Sosialisasi ini penting agar masyarakat di wilayah rawan dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini sebelum dampak kemarau semakin meluas.

Percepatan pembangunan dam atau waduk di wilayah berpotensi krisis air turut dirasa sama pentingnya. Selain membangun baru, pemerintah daerah juga harus membenahi bendungan yang ada agar pemenuhan kebutuhan air tetap berjalan.

"Harus dipastikan bangunan ini berfungsi supaya daya tampungnya optimal," kata pakar hidrologi, Hatma Suryatmojo.

Untuk wilayah perkotaan dan penyangganya seperti Jakarta, pemerintah disarankan mulai menyiapkan tempat penampungan air tanah. Dengan demikian, kebutuhan air bagi warga bisa tercukupi lebih panjang.

"Di kawasan perkotaan, bisa mengoptimalkan sumur resapan. Kalau di pedesaan, bisa menggunakan embung," jelas Hatma.

Pemerintah tak lupa dituntut tegas dalam menangani potensi kebakaran hutan. Pengawasan ketat terhadap aktivitas perburuan di dalam hutan perlu ditingkatkan guna mencegah kecerobohan manusia yang dapat memicu bencana kebakaran di musim panas.

"Yang nekat membakar-membakar, misalnya yang berburu di wilayah hutan, itu harus disanksi," tegas Trubus.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk melakukan panen air hujan melalui pembuatan biopori dan tandon guna mencegah genangan yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Pemanfaatan air hujan ini sangat disarankan untuk memenuhi kebutuhan non-konsumsi sekaligus menjaga ketersediaan cadangan air saat memasuki musim kemarau.

Praktik penghematan air juga dapat dimulai dengan menggunakan kembali air bekas cucian rumah tangga untuk menyiram tanaman atau membersihkan area halaman. Langkah efisiensi ini, menurut data kesehatan lingkungan, mampu menekan penggunaan air bersih rumah tangga hingga 30 persen dan menjaga keberlanjutan sumber air tanah.

Kebijakan ini selaras dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 yang menekankan pentingnya manajemen air yang sehat untuk mencegah risiko penyakit menular. Dengan menerapkan kedua langkah tersebut, keluarga dapat secara aktif menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus menghemat biaya pengeluaran kebutuhan air sehari-hari.

Imbauan tersebut, dalam pandangan Hatma Suryatmojo, juga dinilai sudah sangat tepat sebagai langkah mitigasi jangka pendek sebelum menghadapi musim kering. "Kan memang sudah banyak teknologi juga untuk menyediakan air di musim kemarau," kata Hatma.

Sementara bagi petani, Kementerian Pertanian sudah memberikan imbauan untuk beralih ke tanaman palawija seperti jagung atau kedelai guna menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan. Strategi diversifikasi ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional saat pasokan air irigasi mulai terbatas.

Dalam hal ini, Hatma pun sependapat karena langkah tersebut tetap dianggap penting untuk mencegah krisis pangan. Meski di sisi lain, sudah banyak juga jenis padi amfibi yang tetap bisa bertahan di tengah musim kering.

"Tinggal dioptimalkan saja untuk distribusi benih padinya," tutur Hatma.

Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) juga terus digencarkan untuk memperbaiki saluran yang rusak sehingga kehilangan debit air selama penyaluran dapat diminimalisasi. Peningkatan efisiensi saluran ini diyakini mampu mengoptimalkan distribusi air ke petak sawah dan menjaga produktivitas lahan meskipun dalam kondisi musim kemarau.

Langkah-langkah adaptif ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan sektor pertanian dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan fenomena El Nino yang ekstrem. Ke depan, tinggal kembali ke diri kita sendiri untuk bagaimana menyikapi ancaman kemarau yang diprediksi lebih kering dari biasanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alarm Bahaya BPBD Menyala, Cuaca Ekstrem Kepung Jakarta hingga 12 Maret

Alarm Bahaya BPBD Menyala, Cuaca Ekstrem Kepung Jakarta hingga 12 Maret

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 13:16 WIB

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prakiraan Cuaca BMKG

Kapan Musim Hujan 2026 Berakhir? Simak Prakiraan Cuaca BMKG

Lifestyle | Kamis, 05 Maret 2026 | 06:27 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 15:21 WIB

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncaknya Agustus

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 14:21 WIB

Terkini

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:48 WIB

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:35 WIB

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:54 WIB