Sikap Dingin Iran dan Tantangan Berat Prabowo Menjadi Juru Damai di Timur Tengah

Erick Tanjung | Novian Ardiansyah | Suara.com

Rabu, 18 Maret 2026 | 11:45 WIB
Sikap Dingin Iran dan Tantangan Berat Prabowo Menjadi Juru Damai di Timur Tengah
Ilustrasi misi Presiden Prabowo Subianto menjadi juru damai konflik Iran dan AS-Israel di kawasan Timur Tengah. [Suara.com/Iqbal]
  • Presiden Prabowo berambisi menjadi mediator dalam konflik Iran dan Amerika Serikat.
  • Rencana ini mendapat respons dingin dari Iran dan kritik tajam dari para diplomat.
  • Para pakar menilai misi perdamaian ini menghadapi tantangan yang sangat kompleks.

Suara.com - Ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk menempatkan Indonesia sebagai mediator konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tampaknya benar-benar serius. Rencana perjalanannya ke Teheran pun kian menggema.

Jika sebelumnya niat ini disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri, kini rencana tersebut mendapat sambutan hangat dari Pakistan. Pemimpin Pakistan dikabarkan berencana mendampingi lawatan Prabowo dalam misi perdamaian tersebut.

Dukungan Pakistan ini menjadi gambaran bahwa upaya Prabowo mulai mendapat sokongan internasional. Bukan hanya Pakistan, Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara Timur Tengah lainnya diklaim mendukung inisiatif Indonesia untuk memfasilitasi dialog demi memulihkan keamanan kawasan.

“Prinsipnya Bapak Presiden menginginkan adanya pertemuan dengan Iran untuk menjadi mediasi dan Iran membuka diri. Langkah-langkah yang diambil Pak Presiden itu mendapat support dari beberapa negara Timur Tengah dan negara Islam lain termasuk dari Pakistan, termasuk juga dari UAE,” ujar Menteri ATR, Nusron Wahid.

Infografis misi damai Presiden Prabowo di tengah konflik Iran dan AS-Israel. [Suara.com/Iqbal]
Infografis misi damai Presiden Prabowo di tengah konflik Iran dan AS-Israel. [Suara.com/Iqbal]

Bagaimana Sikap Teheran?

Namun, di tengah optimisme tersebut, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menilai niat Prabowo ini direspons dingin oleh Iran. Pandangannya didasarkan pada respons pemerintah Indonesia atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Melalui cuitannya di akun X @dinopattidjalal pada Rabu, 4 Maret 2026, Dino mempertanyakan mengapa pemerintah Indonesia tidak menyampaikan ucapan belasungkawa resmi. Belakangan diketahui, Prabowo memang mengutus Menteri Luar Negeri Sugiono untuk menyampaikan surat duka cita melalui Duta Besar Iran, namun langkah ini dinilai berbeda dengan tradisi diplomatik yang lazim.

Dino mengingatkan, Indonesia dan Iran adalah dua negara sahabat dengan sejarah panjang. Keduanya adalah anggota Gerakan Non-Blok, OKI, D8, hingga BRICS. Meski kerap berbeda pandangan, kedua negara tidak pernah berseteru.

"Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei tewas terbunuh, Pemerintah tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sebagaimana lazimnya kl pemimpin negara sahabat meninggal," kata Dino.

Ia pun mempertanyakan motif di balik sikap tersebut.

"Kelupaan atau sengaja? Kalau sengaja, yg kita takutkan apa? Apakah yakin kita masih bebas aktif?" tanya Dino retoris.

Berdasarkan hal itu, Dino menilai wajar jika tawaran mediasi Indonesia kemudian ditolak secara halus oleh Iran. Menurutnya, Teheran merasakan sikap dingin dari Jakarta.

"Krn merasakan sikap dingin kita thdp kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dgn halus tawaran mediasi . Mungkin mereka menyangsikan motivasi .. something to think about," ujarnya.

Sinyal penolakan itu semakin jelas ketika Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, secara tegas menyatakan tidak ada ruang negosiasi dengan AS. Ia meragukan komitmen Washington untuk patuh pada kesepakatan apa pun.

"Tetapi bagi kami, tidak ada negosiasi dengan negara yang melancarkan permusuhan dengan kami yaitu Amerika Serikat, dikarenakan apa jaminan Amerika Serikat patuh terhadap sebuah kesepakatan?" kata Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta.

Ilustrasi tentara yang mengoperasikan interceptor rudal di perang Iran vs Israel dan AS. (Gemini AI)
Ilustrasi tentara yang mengoperasikan interceptor rudal di perang Iran vs Israel dan AS. (Gemini AI)

Tidak Realistis dan Butuh Restu

Secara terpisah, Dino Patti Djalal kembali menegaskan bahwa ide mediasi ini sangat tidak realistis. Sebagai seorang diplomat senior dan ilmuwan politik, ia mengaku heran mengapa gagasan tersebut tidak disaring terlebih dahulu sebelum diumumkan ke publik.

Mantan Menteri Luar Negeri periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, turut mengingatkan satu syarat fundamental yang belum terpenuhi. Menurutnya, poin utama untuk menjadi mediator adalah adanya penerimaan dari kedua belah pihak yang bertikai.

"Dengan kata lain, untuk menjadi mediator kan harus juga ada penerimaan dari dua pihak yang bertikai, dan kita belum lihat tanda-tanda itu," kata Hassan usai bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, merinci tantangan kompleks yang membuat misi ini sangat sulit direalisasikan.

Pertama, posisi AS-Israel yang menghendaki pergantian rezim di Iran mustahil diterima Teheran. Di sisi lain, Iran merasa wajib membalas serangan atas kedaulatannya, sebuah tindakan yang dibenarkan oleh hukum internasional.

Kedua, gugurnya Ayatollah Khamenei telah memengaruhi psikologi masyarakat Iran secara mendalam, membuat kompromi politik menjadi lebih sulit.

Ketiga, Rezasyah mempertanyakan apakah Indonesia sudah memiliki Negotiation Blue Print yang jelas. Menurutnya, sikap Indonesia selama ini yang cenderung diplomatis dan tidak tegas menyebut Iran sebagai korban akan menyulitkan lobi ke Teheran.

Keempat, Indonesia belum terlihat menggerakkan forum multilateral seperti ASEAN, GNB, atau OKI untuk membangun dukungan kolektif, sehingga posisi tawar Indonesia menjadi lemah.

"Dengan demikian, sangatlah sulit bagi RI meyakinkan Iran," kata Rezasyah.

Kelima, ada potensi AS akan menuntut Israel untuk ikut serta dalam negosiasi, sebuah syarat yang kemungkinan besar akan menjadi penolakan halus bagi Indonesia.

"Bagi RI dan Israel, keadaan ini sebagai penolakan halus dari pihak AS," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!

AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:21 WIB

Perang AS-Iran Memanas: WNI Cemas Harga BBM Bakal Melejit

Perang AS-Iran Memanas: WNI Cemas Harga BBM Bakal Melejit

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:10 WIB

"Ini Bukan Perang Kami": Negara Eropa Tolak Bantu AS di Selat Hormuz

"Ini Bukan Perang Kami": Negara Eropa Tolak Bantu AS di Selat Hormuz

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:05 WIB

Terkini

Mudik Hemat 2026! KAI Daop 1 Obral Diskon Tiket Kereta 30 Persen, Cek Sisa Kursinya

Mudik Hemat 2026! KAI Daop 1 Obral Diskon Tiket Kereta 30 Persen, Cek Sisa Kursinya

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:37 WIB

Dasco: Presiden Prabowo Berhasil Hapus Pasal 'Harus Akui Israel' di BoP

Dasco: Presiden Prabowo Berhasil Hapus Pasal 'Harus Akui Israel' di BoP

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:25 WIB

AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!

AS Terpecah, Trump Meradang Joe Kent Tolak Perangi Iran: Dia Lemah!

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:21 WIB

Hipertensi Dominasi Keluhan Pemudik di Stasiun Gambir, Kemenkes Siagakan Layanan Kesehatan Gratis

Hipertensi Dominasi Keluhan Pemudik di Stasiun Gambir, Kemenkes Siagakan Layanan Kesehatan Gratis

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:15 WIB

Perang AS-Iran Memanas: WNI Cemas Harga BBM Bakal Melejit

Perang AS-Iran Memanas: WNI Cemas Harga BBM Bakal Melejit

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:10 WIB

"Ini Bukan Perang Kami": Negara Eropa Tolak Bantu AS di Selat Hormuz

"Ini Bukan Perang Kami": Negara Eropa Tolak Bantu AS di Selat Hormuz

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:05 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Ancam Pemudik, Wamenkes Ingatkan Cukup Minum Selama Perjalanan

Cuaca Panas Ekstrem Ancam Pemudik, Wamenkes Ingatkan Cukup Minum Selama Perjalanan

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 11:03 WIB

Dasco Bukber Bareng Aktivis Senior, Serap Aspirasi Hariman Siregar hingga Connie Rahakundini

Dasco Bukber Bareng Aktivis Senior, Serap Aspirasi Hariman Siregar hingga Connie Rahakundini

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 10:51 WIB

Teheran Membara! Presiden Iran Bersumpah Balas Dendam Atas Tewasnya Ali Larijani

Teheran Membara! Presiden Iran Bersumpah Balas Dendam Atas Tewasnya Ali Larijani

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 10:51 WIB

Bisakah Ekonomi Tumbuh Memperparah Krisis Iklim? Studi Terbaru Ungkap Jawabannya

Bisakah Ekonomi Tumbuh Memperparah Krisis Iklim? Studi Terbaru Ungkap Jawabannya

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 10:45 WIB