- Presiden Trump menolak keras tuduhan Joe Kent, mantan direktur Kontraterorisme, mengenai perang tidak berdasar ancaman nyata Iran.
- Kent menuduh keputusan penyerangan dipengaruhi tekanan Israel dan menyebut narasi ancaman Iran merupakan kebohongan yang menyesatkan.
- Gedung Putih membantah tuduhan Kent, menegaskan Iran adalah sponsor terorisme terbesar dan ancaman serius bagi Amerika Serikat.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak keras tuduhan mantan Direktur Kontraterorisme Joe Kent yang menyebut perang melawan Iran tidak berdasar ancaman nyata.
Trump menyebut pernyataan Kent sangat lemah dan tidak memahami soal keamanan nasional.
“Saya membaca pernyataannya. Saya pikir dia orang baik, tapi sangat lemah dalam urusan keamanan,” kata Trump dilansir dari The Hill.
“Bagus dia sudah keluar, karena dia bilang Iran bukan ancaman. Iran itu ancaman, semua negara tahu itu,” tegasnya.
![Direktur Kontraterorisme AS Mundur, Joe Kent Sebut Perang Iran karena Provokasi Israel [ndtv]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/17/34534-joe-kent.jpg)
Kent sebelumnya mundur dari jabatannya sebagai direktur Kontraterorisme dan menuduh keputusan menyerang Iran dipengaruhi tekanan Israel.
Dalam surat pengunduran dirinya, ia menulis bahwa pemerintah AS terjebak dalam narasi ancaman yang tidak nyata.
“Echo chamber ini membuat Anda percaya Iran ancaman langsung, padahal itu kebohongan. Taktik yang sama pernah menyeret kita ke perang Irak yang menghancurkan,” tulis Kent.
Ia juga menambahkan, “Saya tidak bisa mendukung mengirim generasi berikutnya untuk mati dalam perang yang tidak memberi manfaat bagi rakyat Amerika.”
Gedung Putih langsung membantah keras tuduhan tersebut.
Juru bicara Karoline Leavitt menyebut klaim Kent sebagai tidak benar dan menyesatkan.
“Banyak klaim dalam surat itu salah dan absurd. Iran adalah sponsor terorisme terbesar di dunia dan jelas merupakan ancaman bagi Amerika,” kata Leavitt.
Ia menegaskan Trump tidak akan mengerahkan kekuatan militer tanpa alasan kuat.
“Presiden tidak pernah mengambil keputusan militer dalam ruang kosong. Iran secara terbuka mengancam Amerika dan memperluas kemampuan militernya,” ujarnya.
Perang Iran sendiri telah menelan korban di kedua pihak dan memicu ketegangan global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang mengguncang pasar energi dunia.
Pemerintahan Trump menyatakan operasi militer tidak bertujuan mengganti rezim, tetapi tetap menuntut kepemimpinan baru di Teheran.