- Pemerintah Iran secara tegas membantah adanya negosiasi atau komunikasi dengan Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump.
- Teheran mengklaim AS mundur karena takut akan respons keras Iran terhadap potensi ancaman infrastruktur energi kawasan.
- Situasi ini bertolak belakang dengan klaim Trump mengenai pembicaraan produktif serta ultimatum militer terkait Selat Hormuz.
Suara.com - Pemerintah Iran membantah keras laporan adanya negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.
Pihak Iran justru menuding Washington saat ini ketakutan dan mulai berpikir untuk mundur dari perang melawan mereka.
Dalam pernyataan terbarunya, pejabat Teheran menegaskan tidak ada komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, baik langsung maupun melalui perantara.
Sumber yang dekat dengan milisi pro-Iran menyebut, “Tidak ada komunikasi dengan Trump, tidak secara langsung maupun melalui mediator.” ujarnya dilansir dari Channel 14.
Ia menambahkan bahwa perubahan sikap AS terjadi karena kekhawatiran akan respons keras Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan.
Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menyebut Washington kembali mundur.
“Trump dan Amerika Serikat sekali lagi mundur,” ujarnya, seraya mengklaim hal itu sebagai bukti keberhasilan strategi Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mempertegas sikap tersebut. “Tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington,” bunyi pernyataan resmi.
![Pemerintah Iran menyatakan siap membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Jepang di tengah meningkatnya perang melawan AS dan Israel. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/23/31142-donald-trump.jpg)
Kemenlu Iran menilai pernyataan Trump hanya bagian dari upaya menekan harga energi dan memberi waktu untuk rencana militer.
Situasi ini kontras dengan pernyataan sebelumnya dari Gedung Putih.
Donald Trump sempat mengklaim adanya pembicaraan yang baik dan produktif dengan Iran, bahkan menunda ultimatum militer selama 120 jam.
Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan sikap keras negaranya.
“Kami sama sekali tidak dalam suasana untuk berbicara,” katanya, menegaskan penolakan terhadap narasi negosiasi.
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka penuh jalur strategis Selat Hormuz dalam 48 jam.
Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.