-
Tiga prajurit TNI gugur akibat serangan ledakan saat menjalankan misi UNIFIL di Lebanon.
-
Wakil RI membacakan nama para korban di depan sidang darurat Dewan Keamanan PBB.
-
Indonesia mengutuk keras serangan tersebut dan menuntut perawatan maksimal bagi korban luka.
Suara.com - Duka mendalam menyelimuti bangsa Indonesia saat identitas para pasukan perdamaian PBB yang gugur diungkap ke publik.
Momentum emosional ini terjadi ketika perwakilan diplomatik Indonesia berbicara di tengah forum tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kejadian tersebut berlangsung dalam agenda rapat darurat yang digelar oleh Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa kemarin.
Umar Hadi selaku Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB memberikan penghormatan terakhir secara simbolis di New York.
Langkah ini diambil sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi para pahlawan yang kehilangan nyawa saat menjalankan misi kemanusiaan.
Penghormatan di Ruang Sidang PBB
Di hadapan para delegasi internasional termasuk perwakilan dari Israel, nama-nama prajurit kebanggaan Indonesia tersebut dibacakan.
"Izinkan saya memulai dengan menghormati kenangan para prajurit perdamaian yang gugur dengan menyebutkan nama-nama mereka di Ruang Sidang yang Terhormat ini," kata Hadi.
Ketiga personel yang telah berpulang tersebut memiliki rekam jejak pengabdian yang sangat luar biasa di zona konflik.
Mereka adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar yang menghembuskan napas terakhirnya pada usia ke-33 tahun.
Kemudian ada Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan yang masih sangat muda yakni berusia 25 tahun.
Rincian Lokasi Kejadian di Lebanon
Prajurit ketiga yang turut menjadi korban dalam misi ini adalah Kopral Farizal Rhomadhon yang berusia 27 tahun.
Sosok Farizal diketahui sedang bertugas mengamankan pos Indonesia yang terletak di kawasan strategis Adchit Al Qusayr.
Sementara itu dua rekannya yakni Zulmi dan Ichwan kehilangan nyawa saat sedang mengawal konvoi logistik penting.