- Ira Puspita Rahayu resmi menjadi pramudi Transjakarta sejak 2024 setelah menempuh seleksi ketat dan pelatihan profesional.
- Ira menjalankan rute Kampung Rambutan–Ciputat dengan tanggung jawab besar menjaga keselamatan ratusan penumpang setiap harinya.
- Mantan perawat ini berhasil melawan stigma negatif perempuan pengemudi bus melalui kesabaran serta dedikasi tinggi bekerja.
Suara.com - Matahari belum terbit, tapi Ira Puspita Rahayu sudah memulai harinya. Pukul 3 pagi, ia tiba di pool Transjakarta, lebih awal dari kebanyakan orang memulai aktivitas.
Rutinitasnya dimulai dari pemeriksaan kesehatan, dilanjutkan dengan pengecekan kendaraan. Semua harus dipastikan aman sebelum ia duduk di balik kemudi bus besar yang akan membawanya menyusuri jalanan Jakarta.
Di balik setir itu, ada tanggung jawab besar dan cerita panjang yang jarang diketahui penumpang.
Melawan Stigma di Jalanan
Ira bertugas di rute Kampung Rambutan–Ciputat, jalur non-BRT yang menyatu dengan lalu lintas umum. Artinya, ia harus menghadapi kemacetan, kendaraan yang saling berebut jalan, hingga pengendara motor yang kerap menyalip dari berbagai arah.
Di tengah kondisi itu, bukan kecepatan yang jadi kunci, melainkan kesabaran.
Namun tantangannya bukan hanya soal jalanan. Ira juga masih harus menghadapi stigma sebagai perempuan pengemudi bus.
“Karena saya perempuan, anggapannya ‘emak-emak’ itu bawa kendaraan sembarangan. Kadang mereka memperlakukan kita tidak baik di jalan,” ujarnya saat ditemui di kantor pusat Transjakarta, Selasa (21/4/2026).
Alih-alih terpancing emosi, Ira memilih mengalah. Bukan karena tak mampu melawan, tapi karena ia sadar apa yang ia bawa bukan sekadar kendaraan.
Ada ratusan nyawa di dalamnya.
Pengalaman dan pelatihan yang ia terima sebelumnya membantunya tetap tenang menghadapi situasi tak terduga di jalan.
Perjalanan Panjang di Balik Kemudi
Perjalanan Ira menjadi pramudi bukan hal instan. Sejak 2017, ia sudah mengemudikan bus tronton di salah satu mitra Transjakarta, kendaraan yang lebih panjang dan menantang.
Selama tujuh tahun, jalanan menjadi ruang belajarnya. Hingga akhirnya pada 2024, ia resmi bergabung sebagai pramudi Transjakarta.
Untuk sampai di titik itu, Ira harus melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes tertulis, psikotes, hingga uji kemampuan mengemudi. Semua menguji fisik dan mentalnya.
Sebab di balik kemudi, keterampilan saja tidak cukup. Ketahanan adalah kunci.
“Ada ratusan nyawa yang harus kita jaga,” katanya.

Dari Perawat ke Pengemudi Bus
Yang menarik, Ira tidak berasal dari dunia transportasi. Ia adalah lulusan D3 Keperawatan dan sempat bekerja sebagai perawat K3 di sebuah perusahaan.
Sebelumnya, ia juga pernah menjadi kasir bank dan guru taman kanak-kanak.
Hingga suatu hari, ia melihat sosok yang mengubah arah hidupnya: seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pengemudi bus.
“Sepertinya saya harus bisa seperti beliau,” kenangnya.
Keputusan itu tidak mudah. Ia harus meninggalkan jalur pendidikan yang telah ia tempuh. Orang tuanya pun sempat menolak karena khawatir dengan risiko pekerjaan di jalanan.
Namun Ira memilih membuktikan lewat tindakan.
Seiring waktu, dukungan justru datang dari keluarga kecilnya. Suami dan anak-anaknya menjadi penyemangat terbesar.
“Mereka bangga dan sangat mendukung saya,” ujarnya.
Hidup dalam Dua Peran
Menjadi pramudi berarti hidup dengan ritme berbeda. Ira memulai hari saat sebagian besar orang masih terlelap.
Bus mulai beroperasi pukul 5 pagi, dan ia menyelesaikan shift sekitar pukul 1 siang.
Setelah itu, perannya berganti. Ia kembali menjadi ibu bagi tiga anaknya.
Tak selalu mudah menjalani dua peran sekaligus. Ada saat-saat ia harus tetap bekerja meski anaknya sedang sakit di rumah.
“Itu yang paling terasa,” katanya pelan.
Namun justru dari situ, ia menemukan alasan untuk terus bertahan.

Perempuan Juga Bisa
Bagi Ira, menjadi perempuan bukan berarti harus selalu terlihat kuat di ruang publik. Tapi setiap peran yang dijalani perempuan adalah bentuk perjuangan.
“Semua perempuan di Indonesia itu Kartini, buat keluarganya dan bangsanya,” ujarnya.
Kini, ruang bagi perempuan di dunia transportasi mulai terbuka. Transjakarta memberikan kesempatan melalui pelatihan seperti Transjakarta Academy, yang melatih perempuan dari nol hingga siap menjadi pramudi.
Jumlahnya memang belum banyak, tapi langkah itu sudah dimulai.
Di balik kemudi, Ira bukan hanya mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Ia juga membawa pesan bahwa batasan sering kali hanya ada di pikiran.
Selama ada kemauan, jalan akan selalu terbuka.
“Teruslah berusaha,” pesannya.
Dan esok pagi, saat banyak orang masih terlelap, Ira akan kembali memulai harinya—duduk di balik kemudi, menghadapi jalanan yang sama, dengan tekad yang tak pernah berubah.