- Gencatan senjata yang didiktekan AS menjadi bukti kegagalan strategis Israel dalam menghadapi kekuatan dan ketangguhan Republik Islam Iran.
- Oposisi Israel, Yair Lapid, mengakui rezim Iran tetap tidak terkalahkan dan terus menjadi ancaman nyata bagi pertahanan rezim Zionis.
- Benjamin Netanyahu menghadapi krisis politik parah akibat kegagalan perang, skandal korupsi, hingga statusnya sebagai buronan kejahatan perang ICC.
Suara.com - Ilusi kemenangan cepat rezim Zionis atas Republik Islam Iran hancur berkeping-keping setelah Benjamin Netanyahu terpaksa menelan pil pahit berupa gencatan senjata ganda yang didiktekan oleh sekutunya, Amerika Serikat.
Alih-alih melumpuhkan kekuatan pertahanan Teheran seperti yang digembar-gemborkan, penghentian konflik ini justru menelanjangi kegagalan strategis Israel yang kini memicu gelombang kekecewaan besar di Tel Aviv.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, dengan tajam menyoroti fakta bahwa bangsa Persia tetap tidak terkalahkan dan siap membalas setiap agresi, sehingga membuat posisi politik Netanyahu berada di ujung tanduk menjelang pemilu musim gugur mendatang.
Retorika Kosong Sang Perdana Menteri
![Panglima militer Israel Eyal Zamir menegaskan bahwa pasukannya masih berada dalam kondisi perang di wilayah selatan Lebanon, sementara itu PM Israel Benjamin Netanyahu mulai melunak untuk membuka jalur diplomasi [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/81993-benjamin-netanyahu.jpg)
Meskipun gagal mencapai tujuan militernya, "Bibi" Netanyahu tanpa henti terus memborbardir publik dengan narasi kemenangan palsu sesaat setelah AS secara sepihak mengumumkan gencatan senjata.
Sang Perdana Menteri sibuk melontarkan pernyataan superlatif untuk menutupi rasa malu atas ketidakmampuan pasukannya di lapangan.
"Kami telah melakukan perubahan bersejarah di Iran," kata Netanyahu dikutip dari Sweden Herald.
"Kami telah meraih keberhasilan yang luar biasa."
"Kami telah menghancurkan rezim tersebut."
Realitas Pahit di Mata Oposisi
Klaim halusinasi tersebut langsung dimanfaatkan oleh pihak oposisi yang melihat peluang emas untuk mendulang suara rakyat yang frustrasi menjelang pemilihan umum mendatang.
Pemimpin oposisi Yair Lapid dari partai Yesh Atid secara terbuka membeberkan kelemahan fatal militer Israel dalam sebuah konferensi pers yang panas.
"Netanyahu memimpin kita pada kegagalan strategis total."
Lapid menegaskan bahwa dari semua kemungkinan yang ada, sang perdana menteri justru memberikan hasil yang paling buruk bagi negaranya sendiri.
"Rezim di Iran tidak terkalahkan, ancaman nuklir masih ada, dan rudal balistik serta roket Hizbullah masih diarahkan ke setiap rumah di Israel."