-
Jurnalis senior Amal Khalil tewas akibat serangan udara ganda militer Israel di Al-Tayri.
-
Korban dikenal sebagai wartawan pemberani yang konsisten mendokumentasikan dampak agresi di Lebanon.
-
Pemerintah Lebanon mengutuk peristiwa ini sebagai kejahatan perang dan menuntut keadilan internasional.
Suara.com - Amal Khalil menghembuskan napas terakhirnya di tanah kelahirannya akibat serangan udara pasukan Israel.
Kepergian jurnalis veteran ini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Lebanon yang mengenalnya sebagai pelapor garis keras.
Dikutip dari MME, ia bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan simbol keberanian yang tumbuh bersama sejarah pendudukan di wilayah selatan.

Dunia pers kehilangan sosok pionir yang mendedikasikan hidupnya untuk menyingkap realita di bawah bayang-bayang agresi militer.
Tragedi ini memperpanjang daftar panjang jurnalis yang menjadi target serangan saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Peristiwa nahas tersebut terjadi saat Amal sedang menuju lokasi serangan sebelumnya di kawasan Al-Tayri.
![Puluhan ribu warga Lebanon yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan, meski gencatan senjata dengan Israel masih diwarnai pelanggaran. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/25303-kondisi-lebanon.jpg)
Kendaraan di depan Amal dan fotografer Zeinab Faraj hantam rudal pertama, memaksa mereka berlindung di sebuah rumah.
Serangan kedua kemudian menghantam bangunan tempat mereka bernaung hingga meruntuhkan seluruh struktur dindingnya.
Tim penyelamat sempat terhambat oleh tembakan aktif sebelum akhirnya menemukan jenazah Amal di bawah reruntuhan.
“Amal hadir di setiap rumah. Setiap rumah di Lebanon telah kehilangan dia,” ujar Ali Khalil, saudara laki-lakinya.
Jejak Langkah Jurnalis Perlawanan
Sosok Amal dikenal sangat murah hati dalam berbagi informasi dan akses bagi rekan-rekan jurnalis muda.
“Amal menyerupai wilayah selatan dalam segala detailnya – semilir anginnya yang manis, lembah-lembahnya, pegunungan, dan rumah-rumah tuanya. Dia menyerupai semua itu,” kenang saudaranya.
Ketajaman tulisannya mulai terasah sejak bergabung dengan surat kabar Al-Akhbar pada tahun 2006 silam.
Ia tidak pernah gentar meski sering menerima intimidasi dan ancaman pembunuhan karena membongkar kasus korupsi.