-
Jurnalis senior Amal Khalil tewas akibat serangan udara ganda militer Israel di Al-Tayri.
-
Korban dikenal sebagai wartawan pemberani yang konsisten mendokumentasikan dampak agresi di Lebanon.
-
Pemerintah Lebanon mengutuk peristiwa ini sebagai kejahatan perang dan menuntut keadilan internasional.
“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas semua yang dia lakukan untuk kami jurnalis muda,” ungkap Hussein Chaabane.
Bagi Amal, jurnalisme adalah alat perjuangan untuk membela hak-hak warga sipil yang tertindas.
“Dia begitu murah hati bahkan jika kami adalah pesaing. Dia tidak pernah ragu dalam berbagi kontak, sebuah kunci – dan dia memiliki semua kunci di selatan,” tambah Chaabane.
Meski memiliki kesempatan untuk menjauh dari zona bahaya, ia memilih tetap berada di sisi masyarakat.
“Dia mengenalnya seperti telapak tangannya sendiri dan dia membagikan cinta serta dedikasi ini kepada semua orang yang membutuhkannya,” jelas rekan sejawatnya.
Perdana Menteri Nawaf Salam secara tegas menyebut tindakan ini sebagai kejahatan perang yang nyata.
Suara Kebenaran yang Tak Terbungkam
Pemerintah Lebanon berkomitmen untuk membawa kasus pembunuhan ini ke jalur hukum internasional demi keadilan.
“Pembunuhan Amal adalah pembunuhan terhadap seorang perempuan perlawanan,” tegas pembuat film Bachir Abou Zeid.
Amal dipandang sebagai ancaman oleh pihak militer karena dokumentasinya yang sangat akurat tentang infrastruktur sipil.
“Israel membunuhnya karena dia adalah jurnalis perlawanan, bukan sekadar karena dia seorang jurnalis,” lanjut Abou Zeid.
Kini, warisan karyanya menjadi bukti sejarah yang akan terus hidup meskipun raganya telah tiada.
Selama bertahun-tahun, Amal menolak untuk tunduk pada batasan wilayah yang ditetapkan oleh pasukan penjajah.
“Tidak sedetik pun Amal mematuhi instruksi Israel tentang ke mana dia bisa pergi,” kata Abou Zeid.
Cintanya pada tanah air jauh melampaui aturan konvensional dalam menjalankan profesi yang penuh risiko.