- Komnas HAM mengungkap temuan koordinasi sistematis dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus di Jakarta.
- Penyelidikan menemukan 14 orang yang saling terhubung melakukan pemantauan di sekitar lokasi kejadian melalui analisis CCTV.
- Para pelaku diduga menggunakan identitas palsu dan alat komunikasi khusus untuk memitigasi pelacakan selama aksi terencana tersebut.
Nomor-nomor tersebut diketahui hanya aktif dalam waktu yang sangat singkat, yakni satu hingga dua hari sebelum penyiraman air keras dilakukan terhadap Andrie Yunus.
“Patut diduga juga para pelaku menggunakan identitas atas nama lain untuk meregistrasi nomor HP telepon selulernya, diantaranya menggunakan nama anak berusia lima tahun, ibu rumah tangga, dan lansia guna menutupi identitasnya,” kata Saurlin sebagaimana dilansir Antara.
Praktik penggunaan identitas milik anak-anak dan lansia ini dinilai sebagai upaya terstruktur untuk memutus rantai pelacakan oleh aparat penegak hukum.
Penggunaan identitas "pinjaman" ini menunjukkan bahwa para pelaku memiliki kesadaran tinggi akan teknologi pelacakan dan berusaha memitigasi risiko terdeteksi sejak tahap persiapan.
Temuan penyelidikan lebih lanjut juga berhasil memetakan pergerakan para pelaku.
Terdapat keterkaitan antara pergerakan individu-individu mencurigakan tersebut dengan sebuah lokasi spesifik yang diduga kuat menjadi titik kumpul atau titik awal aktivitas sebelum serangan dilancarkan.
Pola pergerakan ini terekam secara konsisten dalam rangkaian CCTV yang dianalisis oleh tim Komnas HAM.
Selain pemantauan pergerakan, para pelaku juga teridentifikasi membawa barang-barang yang mencurigakan.
Beberapa di antaranya terlihat membawa wadah plastik yang diduga berisi cairan kimia atau air keras, serta perangkat tertentu yang mendukung aksi mereka.
Bahkan, setelah penyiraman air keras terjadi, beberapa orang dalam kelompok tersebut diketahui masih melakukan pembuntutan atau mengikuti korban untuk memastikan dampak dari serangan tersebut.
Rangkaian fakta yang ditemukan oleh Komnas HAM ini memberikan gambaran mengenai adanya pola koordinasi yang sangat kuat dan rapi.
Skala keterlibatan personel dan penggunaan identitas palsu mengindikasikan bahwa ini bukanlah aksi kriminalitas biasa, melainkan serangan yang dipersiapkan dengan matang.
Oleh karena itu, Komnas HAM menekankan pentingnya pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, untuk menindaklanjuti bukti-bukti teknis yang telah ditemukan.
Pengungkapan secara menyeluruh terhadap kasus ini dianggap sangat mendesak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa seluruh pihak, mulai dari eksekutor lapangan hingga aktor intelektual di balik layar, dapat diidentifikasi secara terang benderang.
Langkah hukum yang tegas dan transparan diperlukan untuk memberikan keadilan bagi Andrie Yunus serta menjamin perlindungan bagi para aktivis HAM lainnya di Indonesia agar terhindar dari intimidasi dan kekerasan serupa di masa depan.