- Gubernur DKI Jakarta menginstruksikan gerakan pemilahan sampah dari sumber untuk seluruh masyarakat di wilayah Jakarta.
- Warga RT 02/RW 03 Komplek Gudang Peluru, Tebet, telah menginisiasi program pemilahan sampah sejak tahun 2017.
- Program warga tersebut kini kembali diaktifkan pada awal 2026 dengan sistem pengolahan sampah organik yang lebih modern.
Suara.com - Instruksi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terkait gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber, yang belum lama ini disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendapat sambutan positif di sebagian masyarakat.
Salah satunya di wilayah Komplek Gudang Peluru, RT 02/RW 03, Tebet, Jakarta Selatan, yang justru telah memulai langkah ini lebih awal dan menjadi pionir bagi lingkungan sekitarnya.
Sekretaris RT 02, Erik, mengungkapkan bahwa inisiatif warga di wilayahnya selaras dengan instruksi Gubernur terkait pemilahan empat bentuk sampah.
Erik mengungkapkan, program dilingkungannya merupakan kelanjutan dari upaya panjang yang sudah dirintis sejak tahun 2017, yang kini aktif lagi di awal tahun 2026.
"Jadi justru makanya karena kami di dalam grup-grup RT RW ini jadi disebut pioneer-nya kan ya pionirnya untuk program ini. Kami bahkan nggak pernah kebayang bahwa itu akan jadi sebuah instruksi Gubernur," ujar Erik saat ditemui Suara.com, pada Senin (11/5/2026).
Erik menjelaskan bahwa kesadaran warga muncul dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan dan keselamatan petugas kebersihan.
Ia menceritakan bagaimana pada tahun 2017, pihaknya mulai mengedukasi warga untuk memisahkan sampah basah dan kering menggunakan plastik transparan khusus.
"Kenapa dipisahkan? Karena selama ini masyarakat di kita keseringan adalah mencampur dengan satu jenis plastik warna hitam, semua sampah digabung. Akibatnya apa? Sebenarnya kalau dari dalam rumah nggak punya akibat apa-apa nih, tapi begitu keluar rumah jadi akibat, akibatnya apa? Ada pemulung, ada kucing, ada tikus, yang akhirnya dia harus sobek, karena di dalam plastik hitam itulah akhirnya mereka harus menyobek. Ketika nyobek kena air hujan, akhirnya keluar bau," jelasnya.

Meski sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, pengurus beserta warga RT 02 ini kembali mengaktifkan program ini pada awal tahun 2026 sebagai bentuk kelanjutan program terdahulu.
"Tapi sebenarnya program ini program kelanjutan. Jadi tahun 2017 kita sudah coba edukasi ke masyarakat, ke warga kita khususnya di RT 02 untuk memilah sampah. Tapi waktu itu 2017 sampai 2020 kira-kira gitu ya, itu kita memilah sampah dengan pola memisahkan sampah basah dan kering dengan dua plastik yang berbeda," tambahnya.
Saat ini, pengolahan sampah di wilayah tersebut telah berkembang lebih modern. Erik dan pengurus lingkungan lainnya memanfaatkan teknologi sederhana yang dipelajari secara mandiri untuk mengolah sampah organik di lahan terbatas.
"Ya udah akhirnya sekarang pakailah sistem yang kita pelajari dari YouTube juga dari ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang yang sudah pernah jalanin, ya udahlah kita adalah namanya Teba Modern," ujarnya.
Langkah swadaya warga RT 02 Tebet ini diharapkan menjadi contoh nyata bagi wilayah lain di Jakarta dalam mendukung kebijakan strategis pemerintah daerah terkait manajemen sampah kota, sekaligus mengurangi beban pembuangan di tempat pemrosesan akhir seperti TPA Bantar Gebang. (Tsabita Aulia)