- Wakil Ketua Komisi X DPR RI menyoroti dugaan skandal riset fiktif oleh WNI dalam konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark.
- Praktik manipulasi data dan penyalahgunaan AI tersebut dinilai melanggar etika akademik serta dapat merusak reputasi internasional Indonesia.
- DPR mendesak investigasi menyeluruh dan pengetatan pengawasan integritas akademik untuk menjaga martabat para peneliti Indonesia yang profesional.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani prihatin atas munculnya kasus dugaan skandal riset fiktif yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark.
Ia menegaskan, praktik manipulasi data, pemalsuan identitas akademik, hingga dugaan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk riset palsu merupakan pelanggaran serius yang dapat merusak reputasi Indonesia di mata dunia.
"Jika benar terdapat manipulasi data, pemalsuan identitas akademik, atau penggunaan AI untuk menghasilkan riset fiktif, maka hal itu bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga dapat mencoreng nama baik Indonesia di mata internasional," ujar Lalu kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).
Politisi PKB itu juga menyoroti penyalahgunaan teknologi AI dalam dunia akademik.
Menurutnya, kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat bantu peningkatan kualitas riset, bukan justru dipakai untuk memproduksi karya ilmiah palsu.
"AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat kualitas riset, bukan dipakai untuk memanipulasi karya ilmiah," tegasnya.
Lalu meminta agar pihak terkait segera melakukan investigasi menyeluruh serta menegakkan sanksi etik jika dugaan tersebut terbukti.
Ia menilai langkah tegas penting untuk menjaga marwah akademisi Indonesia yang bekerja secara jujur dan profesional.
"Kami mendorong adanya investigasi dan penegakan sanksi etik apabila dugaan tersebut terbukti. Jangan sampai tindakan segelintir oknum merusak kepercayaan internasional terhadap para akademisi dan peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dengan jujur dan profesional," tambahnya.\
![Peneliti Indonesia diduga pakai riset palsu untuk travel grant ke berbagai negara [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/26/53680-peneliti-indonesia-diduga-pakai-riset-palsu-untuk-travel-grant.jpg)
Sebagai langkah antisipasi, Komisi X DPR RI juga meminta pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga riset memperketat pengawasan serta tata kelola integritas akademik, termasuk literasi etika penggunaan AI di kalangan peneliti.
"Indonesia membutuhkan budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan meritokrasi. Hal ini penting agar reputasi pendidikan dan riset nasional tetap terjaga," katanya.
Sebelumnya, dugaan riset fiktif yang dipresentasikan dalam forum ISPPD di Denmark mencuat ke publik setelah disebut dilakukan demi mendapatkan dana atau grant penelitian.
Kasus ini viral usai diunggah oleh peneliti Universitas Udayana Ida Bagus Mandhara Brasika melalui media sosial Threads pada Senin (25/5/2026).