- Dino Patti Djalal mengkritik absennya perwakilan setingkat menteri Indonesia pada upacara pemakaman pemimpin Iran di Teheran.
- Langkah pemerintah tersebut memicu kekhawatiran terkait lunturnya prinsip politik luar negeri bebas aktif akibat intervensi kekuatan Barat.
- Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa penugasan Duta Besar RI sudah menjadi bentuk representasi diplomatik yang resmi.
Ia menduga surat undangan resmi dari negara sahabat sering kali mandek di meja-meja pejabat tanpa ada yang berani mengambil keputusan strategis secara cepat.
Padahal, secara taktis, Indonesia setidaknya bisa mendelegasikan Wakil Menteri Luar Negeri urusan Dunia Islam, Anis Matta. Namun, momentum pembuktian posisi geopolitik RI ini terlewat begitu saja karena sang pejabat justru disibukkan oleh agenda kunjungan rutin di Asia Tengah.
![Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei [Dubes Iran untuk Indonesia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/06/84738-pemakaman-ayatollah-ali-khamenei.jpg)
Klarifikasi Kementerian Luar Negeri
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri RI memilih bersikap defensif menghadapi gelombang kritik tersebut. Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa posisi resmi Indonesia telah diwakili oleh Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat.
Yvonne menyatakan bahwa Dubes RI telah menunaikan tugas diplomatiknya dengan menghadiri prosesi penghormatan terakhir dan doa bersama di Grand Mosalla Teheran pada Sabtu (4/7/2026) pagi waktu setempat.
Pihak Kemlu berdalih bahwa kehadiran kepala perwakilan tersebut sudah merupakan representasi resmi dari sikap hormat dan penghargaan Pemerintah Indonesia atas undangan yang dilayangkan oleh Iran, meskipun langkah minimalis ini telanjur dicap publik sebagai bentuk diplomasi yang cari aman.