- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan komitmen AS terkait Memorandum Islamabad.
- Iran mengajukan syarat pencabutan sanksi, pelepasan aset, investasi, serta penghentian perang di Lebanon untuk membuka selat.
- Situasi krisis memicu penurunan ekspor-impor Iran serta gangguan sektor energi yang berdampak pada perekonomian domestik.
Iran juga mengklaim telah mengekspor hampir 90 juta barel minyak selama kesepakatan sebelumnya berlangsung.
![Kapal-kapal di Selat Hormuz dekat pantai Bandar Abbas, Iran, pada 21 Juni. [West Asia News Agency/via Reuters]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/27/92283-selat-hormuz.jpg)
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz bukan hanya menyangkut jalur kapal. Bagi Iran, akses pelayaran, ekspor energi, investasi, dan pencabutan sanksi saling berkaitan dengan upaya mempertahankan aktivitas ekonomi negara.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Energi
Iran dan Oman sebelumnya telah membahas pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam kesepakatan sebelumnya, AS dan Iran disebut sepakat memperpanjang gencatan senjata dan secara bertahap mengembalikan pelayaran melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang.
Namun, Iran menilai komitmen tersebut tidak dipenuhi sehingga upaya mengembalikan kondisi pelayaran seperti semula mengalami kegagalan.
Kini, rute yang disepakati bersama Oman menjadi salah satu upaya baru untuk mengatur kembali lalu lintas di kawasan tersebut. Akan tetapi, Iran masih menjadikan pemenuhan komitmen AS sebagai syarat utama.
Tekanan Energi Mulai Terasa di Dalam Negeri
Di tengah persoalan Selat Hormuz, Iran juga menghadapi tekanan energi di dalam negeri.
Pezeshkian menggambarkan kondisi negaranya sebagai situasi perang. Sejumlah jalur transportasi disebut terblokir, pasokan barang terganggu, dan pendapatan negara mengalami tekanan.
Sektor energi juga ikut terdampak. Infrastruktur pembangkit listrik serta fasilitas minyak dan gas disebut menjadi sasaran serangan sehingga produksi energi menurun.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Situasi tersebut membuat pemerintah Iran harus mencari cara untuk menekan konsumsi bahan bakar tanpa semakin membebani masyarakat.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan kerja jarak jauh, perluasan transportasi umum, peningkatan standar efisiensi kendaraan, serta elektrifikasi taksi dan sepeda motor.
Harga Bensin Belum Diputuskan
Tekanan energi juga memunculkan wacana perubahan harga bensin. Namun, Pezeshkian menegaskan pemerintah belum memutuskan kapan dan seberapa besar kenaikan harga akan diberlakukan.
Ia mengatakan salah satu usulan yang sedang dibahas berkaitan dengan tarif ketiga untuk konsumsi yang melampaui kuota reguler.
Tarif yang diusulkan disebut sekitar 10.000 toman. Pezeshkian membantah rumor yang menyebut harga bensin akan melonjak menjadi 50.000 toman.
Sebelum kebijakan diterapkan, pemerintah masih perlu melakukan konsultasi dengan parlemen dan lembaga yudikatif.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.