Mira Lesmana: Jumlah Penonton Bukan Ukuran Sukses Sebuah Film

Doddy Rosadi
Mira Lesmana: Jumlah Penonton Bukan Ukuran Sukses Sebuah Film
Mira Lesmana. (Suara.com/Oke Atmaja)

Mira Lesmana membuat gebrakan dengan menghadirkan film "martial art" yang menghabiskan biaya Rp25 miliar.

Suara.com - Selama hampir 25 tahun, tidak pernah ada lagi film dengan genre martial art di layar lebar. Film terakhir dengan genre tersebut adalah Saur Sepuh di akhir 80-an. Kini, Mira Lesmana membuat gebrakan dengan memproduksi film martial art yang diberi judul Pendekar Tongkat Emas, yang akan diputar di seluruh Indonesia pada 18 Desember 2014.

Film yang menelan dana hampir Rp25 miliar ini bercerita tentang perjuangan dua pendekar untuk membalas dendam kematian guru mereka dan merebut kembali tongkat emas. Mira perlu waktu 8 tahun untuk mewujudkan mimpinya yaitu membuat film laga. Film ini menampilkan sejumlah bintang ternama seperti Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia dan Christine Hakim.

Ada banyak hambatan yang dihadapi mulai dari penulisan skenario, meyakinan investor untuk bersedia mendanai hingga proses syuting yang menelan waktu lama yaitu hampir 8 bulan. Kepada suara.com, Mira Lesmana yang bertindak sebagai produser menjelaskan suka duka pembuatan film Pendekar Tongkat Emas serta harapannya terhadap pemerintahan Jokowi agar bisa memberantas mafia pembajakan dan masukannya untuk Badan Ekonomi Kreatif.

Wawancara dilakukan usai pemutaran perdana Pendekar Tongkat Emas di salah satu bioskop di Jakarta, pekan lalu.

Kapan pertama kali muncul keinginan untuk membuat film silat Pendekar Tongkat Emas?

Tahun 2006, tadinya judulnya ingin mengadaptasi dari komik silat favorit saya waktu kecil yaitu Pendekar Seruling Gembala kemudian sekuelnya Pengemis Kusta dan Kembalinya Pengemis Kusta. Tapi agak sulit untuk dijadikan satu film, akhirnya saya putuskan untuk membuat cerita sendiri.

Perlu waktu 8 tahun untuk mewujudkan keinginan anda membuat film silat, apa kendalanya?

Saya seperti tidak tahu harus bagaimana, karena terakhir film-film silat itu kan tahun 80-an seperti Panji Tengkorak dan Si Buta dari Gua Hantu. Banyak yang bingung, saya itu mau bikin film seperti apa. Saya juga susah untuk memberi contoh. Akhirnya KG Film yang mengerti dengan keinginan saya seperti apa.

Apakah salah satu kesulitan yang dialami pembuatan skenario?

Itu juga, karena ini film laga jadi syutingnya kan juga harus lama. Ini sesuatu yang baru bagi saya. Penulis skenario untuk film silat kan juga beda ada filosofinya. Perlu waktu 1,5 tahun untuk menyelesaikan skenario.

Kenapa tidak memilih aktor laga seperti Iko Uwais atau Joe Taslim untuk tampil di film ini?

Kalau melihat cerita film ini, berbeda sekali dengan The Raid (film yang dibintangi Iko Uwais dan Joe Taslim-red). Ini film drama martial art bukan action. Pilihan kita ada dua yang pertama pilih orang yang bisa bela diri dan kita latih aktingnya atau pilih aktor profesional dan kita latih bela dirinya. Kita pilih yang nomor dua. Para pemain menghabiskan waktu 8 bulan untuk syuting film ini.

Siapa yang melatih bela diri para pemain di Pendekar Tongkat Emas?

Namanya Xiao Xingxing, dia adalah piñata laga di berbagai film baik di Asia dan juga Hollywood. Dia memulai karirnya sebagai body double Jet Lee (aktor kungfu ternama di film Mandarin-red).

Kenapa memilih Sumba Timur sebagai lokasi syuting?

Saya sudah berkeliling ke seluruh Indonesia dan saya belum pernah melihat suasana seperti Sumba Timur yang pas untuk menjadi negara antah berantah.

Ending film Pendekar Tongkat Emas agak ‘mengambang’, apakah ini artinya akan ada lanjutan dari film ini?

Kita lihat saja, kalau ada demand yang kuat kami merasa sebuah cerita silat itu sangat memungkinan untuk dibuat berseri. Ini bisa dibuat prekuel atau juga sekuel.

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat film ini?

Hampir Rp25 miliar. Yang paling besar untuk operasional karena kita harus tinggal 3 bulan di Sumba

Ada target jumlah penonton untuk film ini?

Targetnya sebanyak-banyaknya.

Di mata seorang Mira Lesmana, seperti apa definisi dari film sukses yang pernah anda buat?

Agak susah jawabnya, karena tergantung dari jenis film yang saya buat. Tidak semua film yang saya buat ditujukan untuk audiens yang luas. Seperti film Atambua 39 derajat Celcius, itu film yang saya buat untuk audiens khusus. Dia menjadi sukses justru ketika penonton yang tepat menyaksikan film tersebut. Tapi film-film lain yang pernah saya buat seperti Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Laskar Pelangi dan Pendekar Tongkat Emas, ini ditujukan untuk mass audience. Artinya kalau mendapat sambutan dari masyarakat dan ditonton banyak orang tentu itu bisa disebut sukses. Tentu ada ukuran sukses lainnya seperti bisa masuk ke sebuah festival film. Tapi, penghargaan yang paling bagus buat saya itu adalah ketika penonton menyaksikan film yang kita buat dan dia nyambung. Gue ngerti banget dengan film yang elo bikin. Jadi pesannya sampai dan excitement-nya sampai.

Pada pemerintahan SBY ada Kementerian Ekonomi Kreatif sedangkan di pemerintahan Jokowi hanya dalam bentuk Badan Ekonomi Kreatif, anda kecewa?

Tidak, justru dengan adanya Badan Ekonomi Kreatif maka langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Sebenarnya tidak terlalu masalah, Kementerian atau Badan Ekonomi Kreatif, yang penting programnya. Itu yang nanti kita tunggu.

Kalau diminta, apakah anda bersedia menjadi anggota Badan Ekonomi Kreatif?

Belum, karena kalau sampai saya bilang ya berarti saya harus berhenti bikin film. Menurut saya, kekacauan sebuah badan itu adalah ketika anggotanya masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa saat tengah membuat sebuah sistem. Saya belum siap kalau harus berhenti bikin film dan bergabung ke Badan Ekonomi Kreatif.

Permasalahan lain yang dihadapi pekerja film adalah pembajakan, apa saran anda kepada pemerintahan Jokowi untuk memberantas para pembajak ini?

Kita kan tahu, tugas terberat Jokowi adalah melawan mafia, bukan hanya mafia minyak tetapi juga mafia pembajakan. Jadi ini memang persoalannya mafia dan itu sulit diberantas kecuali dengan turut serta banyak orang. Tapi ini bukan hanya tugas Jokowi sendiri, jangan semua beban dan permasalahan ditaruh di pundak Jokowi, gila aja kalau begitu.

Fenomena yang terjadi saat ini, sebagian besar bioskop yang ada lebih banyak memutar film Hollywood dibandingkan film Indonesia. Apakah pemerintah harus turun tangan dengan menyediakan bioskop yang memutar lebih banyak film Indonesia?

Pendapat saya mungkin berbeda dengan yang lain. Betul, jumlah bioskop itu harus diperbanyak. Terlalu banyak kota yang tidak punya bioskop. Tetapi kita jangan punya pikiran sempit bahwa bioskop hanya harus memutar film Indonesia saja. Itu malah akan membunuh industri bioskop. Apakah film Indonesia yang ada sudah cukup bagus sehingga bisa diputar lama di bioskop? Yang penting sekarang adalah kuotanya, tapi bukan berarti film Indonesia harus lebih lama diputar. Kalau filmnya memang tidak bagus, mau bagaimana? Yang harus dilakukan adalah sekolah film diperbanyak sehingga makin banyak orang yang ngerti bagaimana cara membuat film yang bagus. Selain itu, pajak untuk film impor dinaikkan. Sehingga kita banyak film impor yang masuk maka pemerintah terima banyak uang dan bisa membuat sekolah film.

Jadi seperti apa peran yang harus dijalankan pemerintah untuk meningkatkan industri film?

Saya ambil contoh di Korea. Di sana, kalau ada orang yang mau bikin film maka pemerintah justru memberikan insentif, misalnya pajak dikurangi. (Doddy Rosadi/Madinah)

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS