Wawancara Najelaa Shihab: Krisis Pendidikan Kita Diperparah Pandemi

Arsito Hidayatullah
Wawancara Najelaa Shihab: Krisis Pendidikan Kita Diperparah Pandemi
Ilustrasi wawancara. Pendidik sekaligus aktivis pendidikan, Najelaa Shihab. [Foto: Dok. pribadi / Olah gambar: Suara.com]

Meski optimis bahwa dunia pendidikan Indonesia akan bergerak maju, Najelaa Shihab mengaku masih banyak "PR" yang harus diselesaikan. Apa saja?

Suara.com - Ketika pemerintah memutuskan untuk memberlakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona, banyak pihak yang tak siap menghadapinya. Semua pemangku kepentingan termasuk guru, orangtua, dan siswa sama-sama gagap.

Orangtua kewalahan menghadapi perubahan mendadak ini. Tanggung jawab belajar yang selama ini diemban sekolah terpaksa dikembalikan ke rumah. Banyak keluhan, terutama dari para ibu yang disampaikan via media sosial.

Sebuah video yang menayangkan kerepotan seorang ibu mengajari anaknya yang masih SD bahkan sempat viral. Dalam tayangan itu sang ibu antara lain mengeluhkan sikap sang anak yang tak mandiri mengerjakan tugas sekolah.

Potret ini menurut Najelaa Shihab bukan sesuatu yang mengejutkan, karena selama ini paradigma yang berkembang adalah pendidikan menjadi urusan sepenuhnya para guru di sekolah.

Baca Juga: PJJ Jadi Tantangan Bagi Orangtua, Bagaimana Strateginya?

"Tapi karena Corona ini, kemudian terpaksalah. Nah, orang tuanya (yang justru) tidak siap. Nggak siapnya bukan karena Corona, tetapi karena memang persiapan sebelumnya, modalnya nggak ada,” kata Elaa, demikian ibu tiga orang anak ini biasa disapa.

Ia bersama komunitasnya terus berupaya menyebarkan narasi pentingnya keterlibatan orang tua dalam sistem pendidikan.

Kondisi siswa pun tak kalah memprihatinkan. Kejenuhan belajar melanda sebagian besar mereka selama PJJ. Mereka mengeluhkan materi ajar yang membosankan dan guru yang dianggap tidak kreatif membuat soal. Tugas-tugas diselesaikan tanpa upaya maksimal karena toh semua jawaban dapat ditemukan dengan mudah lewat mesin pencari. Capaian akademik sudah pasti akan menurun setahun ini.

Semua persoalan ini, termasuk rendahnya kompetensi guru serta solusi mengatasinya, menjadi fokus percakapan kontributor Suara.com, Rin Hindryati, dengan Najelaa Shihab, pendidik dan aktivis pendidikan yang telah menggeluti dunia ini selama lebih dari 20 tahun.

Meski optimis melihat bahwa dunia pendidikan akan bergerak maju, putri sulung Ustadz Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab ini mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Baca Juga: dr Muhamad Fajri Adda'i: Adaptasi Pola Hidup, Kunci Hadapi Pandemi Ini

Berikut ini petikan lengkap wawancara eksklusif via Zoom yang berlangsung selama sekitar satu jam:

Kita mulai percakapan ini ya Mbak.

Silakan, Mbak.

Seperti sudah saya sampaikan, percakapan kita akan berfokus pada pendidikan di era pandemi. Sebagai tenaga pendidik dan pengelola sekolah, pertanyaan saya untuk Mbak Elaa, apa tantangan terberat belajar di zaman yang semuanya serba online?

Iya. Kalau bicara tantangan paling berat belajar, sebetulnya... betul [semua] kita sama bahwa kayaknya nggak ada lembaga pendidikan, guru, murid, maupun orang tua, atau bahkan pemangku kebijakan di bidang pendidikan, yang nggak kesulitan menghadapi masa pandemi ini.

Ini juga bukan spesifik masalah yang terjadi di Indonesia, bukan juga cuma di kota besar atau desa dan sebagainya. Karena memang pandemi COVID-19 terjadi dengan tiba-tiba. Bukan sesuatu yang direncanakan, sehingga memang ya wajar bahwa semua pemangku kepentingan butuh proses untuk beradaptasi, untuk kemudian menemukan pola belajar mengajar yang paling efektif itu seperti apa.

Tapi di satu sisi, kalau dilihat dari... kami kan di Cikal ada Kampus Guru Cikal yang menginisiasi komunitas guru belajar, ada juga jaringan sekolah dan madrasah belajar. Kita lihat cukup banyak sebetulnya praktek-praktek baik, artinya banyak yang berhasil. Tetap [dapat] mencapai kualitas pembelajaran yang baik, bahkan di masa pandemi dimana bentuk pembelajarannya memang nggak ada pertemuan tatap muka. Semuanya jarak jauh.

Jadi, kalau kami lihat dari pengalaman itu... sekali lagi ini bukan cuma pengalamannya sekolah Cikal atau guru Cikal, tapi semua guru yang ada di sekolah maupun madrasah yang ada di jaringan, memang yang berhasil itu sebetulnya mereka yang punya teknik-teknik pedagogi yang baik dan yang punya pemahaman tentang tujuan belajar yang utuh.

Apa itu? Bahwa yang namanya belajar – baik di sekolah maupun harus jarak jauh dari rumah – itu perlu banyak empati terhadap murid, kebutuhannya bukan hanya memenuhi kebutuhan akademis tetapi juga, terutama di masa pandemi seperti ini, ada kebutuhan sosial-emosional, psikologis dan sebagainya. Jadi bukan cuma tuntutan kurikulum atau pemberian tugas. Itulah yang harus amat sangat diperhatikan.

Kemudian yang biasanya juga kesulitan itu kalau memang paradigmanya adalah menstandarkan semua anak. Kalau [belajar] di sekolah itu agak lebih mudah karena anaknya ada di depan mata, sumber dayanya semua sumber daya sekolah, gurunya punya kontrol terhadap apa yang harus dilakukan, selesainya berapa lama dan sebagainya. Ibaratnya jika ada anak yang nggak punya motivasi atau disiplin belajar, dia pun bisa dipaksa untuk mengikuti struktur sekolah yang ada.

Tapi, begitu pembelajaran jarak jauh ini berlangsung di rumah masing-masing, tentu konteksnya berbeda. Apalagi tingkat keterlibatan orang tua dan kondisi keluarga masing-masing siswa juga berbeda. Nah penyeragaman menjadi tidak mungkin dilakukan.

Karena tidak semua guru, tidak semua sekolah punya modalnya: ada yang memang hubungan guru dan orang tua sudah [terjalin] baik atau orangtuanya memang sudah terlibat selama ini di kegiatan [belajar mengajar]. Tapi ada juga sekolah yang gurunya pun belum tentu bisa melakukan diferensiasi. Inilah yang menyebabkan banyak sekali tantangan yang terjadi selama masa pandemi.

Selain itu tentu ada juga tantangan yang terkait dengan akses teknologi, kuota data dan sebagainya. Tetapi menurut saya tantangan ini solusinya sudah berhasil ditemukan dengan berbagai subsidi dan dukungan-dukungan yang diberikan.

Tetapi tantangan yang sifatnya pedagogis dan paradigma ini yang sebetulnya lebih sulit. Karena, masalah krisis pembelajaran seperti ini sebelum pandemi pun sebetulnya sudah ada. Cuma diperparah dengan adanya wabah ini.

Pandemi COVID-19 menyebabkan dunia pendidikan kita gagap menghadapinya, termasuk tenaga pendidik. Sebelum pandemi pun kita sebetulnya sudah menghadapi masalah kompetensi guru. Banyak guru yang mengajar bukan karena passion tetapi sekadar untuk bekerja. Sekarang dengan sistem online, mereka kan dituntut untuk kreatif agar anak-anak tidak merasa bosan. Kalau mengajar bukan panggilan tentu ini menjadi beban dan akhirnya guru tidak termotivasi untuk kreatif dan menjadi minimalis. Apa solusinya?

Sebetulnya gini sih... Saya melihatnya seperti ini: Soal ada panggilan atau tidak – karena saya ketemu banyak sekali guru – menurut saya sebetulnya guru-guru itu bukan tidak terpanggil atau nggak punya niat jadi pendidik. Nggak.

Karena kalau memang enggak punya cita-cita mulia, atau tidak ingin menggerakkan perubahan, itu nggak mungkin mereka mau jadi guru, atau niatnya jahat gitu ya..itu nggak ada. Tapi yang banyak itu adalah guru-guru yang frustrasi, Mbak Rin.

Jadi guru-guru itu, kalo saya bilangnya sebetulnya guru-guru yang unfulfilled dreamer. Mereka masuk ke ekosistem ini, ingin melakukan perubahan; bukan nyari kaya, kalau nyari kaya nggak mungkin jadi pendidik atau jadi buru.

Tapi [masalahnya] banyak di antara mereka yang sebetulnya selama ini mungkin ingin melakukan inovasi tetapi konteks sistemnya tidak mendukung. Sebetulnya mereka menekankan ingin lebih banyak memberikan yang terbaik pada anak, tapi terbebani dengan berbagai tugas administrasi.

Jumlah guru yang seperti itu, proporsinya sangat banyak dan itu saya temukan di komunitas guru belajar. Guru-guru yang mungkin sebelumnya dianggap gila sendirian, melakukan banyak praktek baik tetapi justru dikomentari ‘ngapain sih’ oleh sejawat. Nah, kami menemukan simpulnya, menemukan guru-guru yang punya semangat yang sama untuk jadi penggerak guru belajar di daerah masing-masing dan kemudian bisa meneruskan semangat inovasi.

Soal isu kompetensi. Itu isu yang di profesi apapun – bukan cuma guru – itu pasti sesuatu yang perlu dikembangkan terus-menerus. Jadi jurnalis kan juga gitu, perlu meningkatkan [kompetensi] karena dunianya berubah. Guru pun demikian. Anak-anak berubah. Menjadi guru di tahun pertama harus belajar; jadi guru di tahun ke-10 pun belajar juga dan seterusnya.

Tapi kalau di Kampus Guru Cikal, kita itu selalu percaya bahwa kompetensi itu baru bisa muncul kalau memang gurunya udah punya kemerdekaan dulu. Karena kalau nggak, kompetensi itu enggak akan bisa tumbuh. Itu tidak akan bisa dipraktekkan kalau memang dilakukannya karena terpaksa. Termasuk saat pandemi ini.

Kami itu sangat berhati-hati; orang-orang kan banyak yang bilang: iya nanti kan sesudah pandemi, semuanya akan berubah. Teknologi akan mendominasi, guru-guru mau nggak mau jadi bisa ini, melakukan ini, dan sebagainya. Tapi kita bilang ‘eits nanti dulu.’ Belum tentu. Jangan-jangan perubahannya ini kalau dia dipaksakan, pemahaman tentang apa yang harus berubah ini cuma sementara. Nanti begitu pandeminya selesai, semuanya balik ke normal lagi. Nah jadi memang yang namanya inovasi itu butuh waktu; yang namanya pengembangan kompetensi itu harus terus-menerus. Tetapi kuncinya, itu harus dimulai dari gurunya sendiri.

Jadi kita memang harus menumbuhkan guru-guru yang selalu mau belajar. Guru-guru yang punya komitmen pada tujuan pendidikan, mandiri dalam proses belajarnya, dan reflektif. Itu tiga hal yang yang jadi dimensi kemerdekaan belajar versinya Cikal dan kampus guru Cikal. Itu yang kita tumbuhkan terus menerus. Dan itu modal yang sangat penting baik sebelum wabah, di saat wabah, maupun setelah wabah nanti.

Nah, ini kan berarti kita mengubah mindset dan paradigma?

Betul, mengubah paradigma.

Berarti harus ada semacam revolusi, karena kan mengupayakan perubahan yang mendasar. Kalau tadi dijelaskan bahwa seorang guru harus punya kemerdekaan dulu jika ingin kompetensinya berkembang. Ini kah antara lain konsep merdeka belajar yang telah lama diusung Cikal lalu sekarang digaungkan kembali oleh Mendikbud?

Jadi, [konsep] Merdeka Belajar itu sudah digunakan Cikal sejak awal, yakni 1999. Pada 2004, kita kemudian memformulasikan menjadi namanya Cikal Five Star Competencies. Itu ada 5 kompetensi Mbak, yang menjadi cita-cita dari program pendidikan yang dilakukan Cikal.

Yang pertama itu adalah pelajar merdeka, itu kalau dalam bahasa Inggrisnya self-regulated learner. Kemudian yang kedua, pribadi yang bahagia dan bijak atau emotionally, spiritually and morally rich, ketiga itu pemikir yang terlatih dan efektif atau skillful and an effective thinker, ke-4 individu yang berwawasan luas dan berfisik sehat atau broadminded and physically sound dan ke-5 adalah empowering member of just, sustainable and peaceful global society, menjadi warga dunia yang berdaya.

Nah, belajar merdeka itu kompetensi pertama kita.

Kenapa itu jadi penting, karena sesudah... sekarang kami tahun ke-22, kami menemukan – tentu setelah melakukan proses pendidikan dari mulai pra-sekolah sampai SMA juga kampus guru – bahwa itu [belajar merdeka] penting menjadi fondasi dari tumbuhnya kompetensi-kompetensi yang lain.

Sebagaimana yang tadi saya sampaikan, kalau kita nggak ada komitmen terhadap proses belajar, tidak tahu saya belajar ini buat apa, gak mandiri atau enggak self-reliance, maka saat menghadapi tantangan akan mudah menyerah. Kalau guru yang nggak punya kemerdekaan belajar, biasanya nunggu saja kebijakannya berubah atau nyalahin kepala sekolah.

Jadi dia melakukan ini karena X, Y, dsb. Gak ada kemandirian, tidak reflektif, tidak berani bercermin baik murid maupun guru untuk melihat: sebetulnya tantangannya apa yang harus diperbaiki, kelebihannya apa, keunikan konteks dia apa. Maka itu, apapun cita-cita berikutnya seperti: kepingin guru yang profesional, kepingin murid yang matang secara emosional, yang cerdas, dsb. Itu gak akan bisa tercapai [tanpa belajar merdeka].

Jadi kami memang membangun teori ini dapat inspirasi dari banyak teori pendidikan seperti Montessori, Zimmerman, Rahma El-Yunisiyah [tokoh pembaharu pendidikan Islam.Red] Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka yang bicara soal proses yang merdeka. Tapi kita formulasikan menjadi tiga dimensi kompetensi itu. Kita kumpulkan datanya, lalu kita terapkan di Cikal. Kemudian di 2004, itu kami mulai dengan yang namanya dulu Livelong Learner School of Education lalu kemudian berganti nama menjadi Kampus Guru Cikal.

Najelaa Shihab dalam salah satu momen bersama ayahandanya, Ustadz Quraish Shihab. [Dok. pribadi]
Najelaa Shihab dalam salah satu momen bersama ayahandanya, Ustadz Quraish Shihab. [Dok. pribadi]

Jadi awalnya itu di tahun 1999 saat divisi pelatihan di sekolah Cikal melatih guru-guru kami. Kita memang sejak awal berdiri di ‘99 itu ambil guru-guru dari beragam profesi, Mbak Rin.

Jadi kami bukan mengambil guru-guru yang udah pengalaman atau misalnya lulusan LPTK gitu yah, lulusan IKIP. Tapi memang mencari individu-individu yang punya kemerdekaan belajar. Itu menjadi kriteria rekrutmen kita di awal, yakni mereka yang memang punya jiwa penggerak. Kalo kurikulum pengambangannya, fokusnya [pada] empat hal, yakni kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi dan karir. Itu kita bilang empat kunci pengembangan guru.

Nah mulai 2004 kita mulai mendirikan LLE [long life education] yang kemudian berganti nama menjadi Kampus Guru Cikal dan menyebarkannya ke ratusan daerah di Indonesia. Jadi kami bikin pelatihan-pelatihan untuk menumbuhkan kemerdekaan belajar, kompetensi guru dan sebagainya. Kemudian alumnusnya – alumni dari pelatihan itu – kemudian mendirikan komunitas guru belajar di berbagai daerah.

Jadi itulah konsep kemerdekaan belajar yang kemudian kami coba formulasikan menurut versi kami. Lalu kita coba implementasikan menjadi gerakan yang melibatkan puluhan ribu guru dan sekolah. Pada saat konsep ini digunakan, kita hibahkan untuk digunakan oleh Mendikbud. Kami hibahkan penggunaannya. Ya tentu ada penerjemahan lain dari Kemendikbud tentang merdeka belajar ini sebagai kebijakan. Nah itu bukan tempatnya saya untuk cerita.

Udah muncul juga kan berbagai episode Merdeka Belajar versinya kemendikdud.

Tapi secara umum kalau yang dilakukan Cikal sejak 1999, lalu 2004, dan kemudian 2015 kami memulai temu pendidik Nusantara, selanjutnya di 2017 kita menerbitkan buku Merdeka Belajar dan sebagainya, sudah konsisten kita lakukan. Dan Insya Allah puluhan tahun ke depan pun kita akan terus melakukan itu terlepas dari apakah merdeka belajar ini menjadi slogannya Kemendikbud atau Mas Menteri untuk beberapa tahun ke depan. Itu urusan lain.

Kita prinsipnya adalah gerakan publik yang akan terus menerus mengupayakan kemerdekaan belajar yang memang kami percaya itu jadi kompetensi dan kunci yang sangat penting untuk kita tumbuhkan pada anak-anak maupun dipraktekkan oleh guru-guru yang ada di ekosistem.

Konsep ini kan bagus sekali. Artinya setiap guru diberi kebebasan untuk kreatif, mengembangkan dan memahami kebutuhan siswa. Yang saya amati, sebagian besar guru terutama di sekolah-sekolah publik itu terpaku pada kurikulum. Belum ada keberanian untuk kreatif, entah khawatir salah atau takut disalahkan. Apa yang sekarang digulirkan Mendikbud tentang konsep merdeka belajar pun nampaknya belum kelihatan gaungnya. Apakah ini karena masih banyak PR yang harus diselesaikan dan berat banget? Apalagi ini kan seperti saya bilang tadi mengubah paradigma dan mindset. Bagaimana menurut Mbak Elaa?

Yang namanya perubahan paradigma, yang namanya perubahan pendidikan, itu kan juga memang bukan sesuatu yang hanya bisa diupayakan oleh pemerintah atau kementerian.

Ada satu jaringan lain yang juga saya inisiasi. Salah satu pendirinya itu Kampus Guru Cikal, bersama 23 organisasi pendidikan lain, namanya Jaringan Semua murid, Semua Guru. Sebetulnya pesan utamanya itu [sesuai nama jaringan] bahwa pendidikan itu tanggung jawabnya semua.

Jadi kalau kita memang percaya perlu ada perubahan paradigma, perlu ada perbaikan pendidikan, kita juga nggak bisa cuma bilang bahwa pendidikan itu tanggung jawabnya pemerintah. Kalau menterinya keren dan kemendikbud bagus lalu [alokasi] anggaranya 20%, apakah masalah selesai? Itu juga nggak mungkin. Jadi memang orang tua harus terlibat, ada komunitas dan organisasi pendidikan yang fokus di pendidikan keluarga.

Di Jaringan Semua Murid, Semua Guru yang terdiri dari 790 lebih komunitas dan organisasi pendidikan, itu ada kluster khusus sekitar 35 yang memang fokus khusus untuk bikin training-training orang tua, mengembangkan pola pengasuhan dari mulai isu menyusui, keterlibatan ayah, dsb. Ada lagi yang kerja di pengembangan guru.

Apakah gak cukup yang dilakukan pemerintah untuk pelatihan guru? Jawabannya tentu enggak cukup. Jadi sudah melakukan, tapi nggak cukup. [Karena itu] tetap harus ada organisasi-organisasi seperti Kampus Guru Cikal, seperti IGI, seperti Bantu Guru Belajar Lagi, dll. Di Indonesia banyak sekali yang bekerja untuk ini.

Jadi saya ingin kita semua juga melihat dengan lebih bijak. Kalau ditanya apa capaiannya Kemdikbud baik di periodenya Mas Nadiem, di periodenya Pak Muhajir, Mas Anies, dan seterusnya – dimana saya ikut bekerja bersama mereka – termasuk juga dulu dengan Pak Nuh? Tentu ada yang memang bisa dicapai oleh pemerintah, ada perubahan yang merupakan dampak dari kebijakan kemendikbud. Jadi ada yang dilakukan pemerintah.

Tetapi, perlu [keterlibatan] semua pemangku kepentingan. Kalau kita belajar dari perubahan pendidikan di berbagai negara, sebetulnya terlihat sekali bahwa bukan cuma soal perubahan di pemerintahnya. Tapi justru makin banyak [keterlibatan] masyarakat yang melakukan praktek baik untuk melakukan inovasi. Nah kemudian, inovasi-inovasi itu diperbesar skalanya.

Jadi justru pemerintah yang belajar dari inovasi-inovasi dan praktek-praktek yang sudah dilakukan masyarakat. Itu yang kemudian diimplementasikan. Itulah yang jadi kunci suksesnya banyak negara pada saat melakukan perubahan pendidikan.

Kalau kita bicara pemerintah, Mbak Rin, sebetulnya ada pemerintah pusat, ada pemerintah daerah juga kan. Jadi memang banyak sekali fungsi pendidikan itu yang diotonomikan, ada desentralisasi di situ. Dan memang tantangannya itu masing-masing daerah pun beda-beda. Jadi memang ini masalah besar yang butuh waktu. Bukan Cuma 1 tahun, 5 tahun.

Begini Mbak. Ide merdeka belajar yang mengandalkan kompetensi guru serta infrastruktur yang memadai nampaknya lebih bisa bersemai baik di lembaga pendidikan swasta yang memang resourcesnya mendukung. Hubungan guru-murid sudah terjalin baik, gurunya pun banyak yang berkualitas, komunikasi guru-orang tua juga baik, dsb. Tetapi bagaimana dengan sekolah-sekolah negeri yang jumlahnya mayoritas? Saya amati selama 6 bulan terakhir, belajar online justru menyebabkan kualitas peserta didik cenderung tidak maksimal. Gurunya hanya memberi tugas, anak-anak mengerjakan di rumah. Apalagi soalnya pun bisa di-copy-paste lewat Google dan jawabannya sudah ada. Interaksi guru-murid juga sangat terbatas. Bukankah ini memprihatinkan?

Iya, betul, betul. Saya melihatnya begini: Bahwa, buruk dan tidak optimal itu iya. Tetapi bahwa sebelumnya buruk, itu juga harus kita sadari.

Karena gini, saya juga dalam banyak seminar bilang,”loh yang namanya krisis pembelajaraan ini, misalnya anak-anak inklusi, anak-anak dengan disabilitas dimana sekarang mereka gak dapat layanan sama sekali, saat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini, sebelumnya pun [artinya] gak pake corona pun, mereka juga memang kesulitan."

Jadi memang kita ini berada dalam kondisi yang masalah, bahkan sebelum adanya pandemi.

Mungkin kabar baiknya pandemi adalah justru banyak yang sadar bahwa orang tua harus terlibat aktif. Orang tua [sebagai] pendidik pertama dan utama itu, gak pake corona pun, paradigma itulah yang sebetulnya kita mau percayai. Dan kita seharusnya praktekkan itu. Semua lembaga pendidikan bikinlah program-program pendidikan keluarga, percaya bahwa pendidikan itu multi generasi, dan lain sebagainya.

Tapi karena corona ini, kemudian terpaksalah. Nah orang tuanya [yang justru] tidak siap. Gak siapnya bukan karena corona, tetapi [lebih] karena memang persiapan sebelumnya, modalnya nggak ada.

Nah jadi itu yang juga ingin saya luruskan bahwa krisis pembelajaran ini bukan hanya muncul karena pandemi. Semua hasil evaluasi tentang capaian kita, lulusan kita capaiannya seperti apa, kompetensi guru kita seperti apa, keterlibatan orangtua kita seperti apa. itu memang sudah bukan yang terbaik di dunia bahkan sebelum wabah. Nah ini pada saat wabah... Jadi sebetulnya bukan surprise juga bahwa kemudian muncul masalah di sini.

Tapi satu hal lagi yang juga penting – berdasarkan pengalaman kami baik sebelum wabah maupun pada saat wabah – nampak bahwa keberhasilan melakukan proses pembelajaran yang secara pedagogi tepat dan memenuhi kebutuhan anak, ternyata kaitannya bukan karena fasilitas, Mbak Rin.

Jadi, sekolah-sekolah yang ada di jaringan sekolah dan madrasah belajar kami, termasuk pengerak-penggerak guru belajar itu, lebih dari 70% adalah sekolah negeri.

Kalau melihat contoh guru-guru penggerak Komunitas Guru Belajar, itu mereka ada yang berada di daerah 3 T (tertinggal, terdepan, dan terluar di Indonesia --Red), ada yang sekolahnya sangat kecil, madrasah di daerah terpencil dengan uang sekolah yang Cuma sekian puluhan ribu. Jadi itu menunjukkan bahwa isunya bukan hanya isu fasilitas atau daerah perkotaan, dan lain sebagainya. Karena memang praktek baik itu bisa muncul dalam berbagai konteks.

Jadi ada praktek baik untuk oke kalau dia sekolah di swasta, di gedung, anak-anaknya adalah anak profesional, di ibu kota, maka praktek baiknya sebenarnya kebutuhannya seperti apa.

Tapi kalau kita mau ambil contoh praktek baik, misalnya di SMK Negeri 2 Gowa - Pak Usman Djabar tuh ketua komunitas guru belajarnya – atau Madrasah di Pekalongan, itu banyak contoh yang seperti itu. Jadi kita jangan mengsimplikasi bahwa yang namanya praktek baik itu cuma bisa muncul dengan prasyarat tertentu.

Justru banyak sekali hal-hal prinsip seperti bagaimana memanusiakan hubungan... Kalau di kampus Guru Cikal itu ada 5M memanusiakan hubungan, jadi hubungan yang kuat antara guru, orang tua, dan murid itu enggak butuh. Itu adalah guru yang berempati, orangtua yang peduli, dsb, pengaruhnya bisa amat sangat besar terhadap kualitas belajar mengajar.

Di era pandemi ini kan semua dilakukan secara daring. Tentu outreach-nya bisa lebih luas. Apakah situasi ini juga dimanfaatkan oleh organisasi Mbak Elaa untuk menyebarkan kebaikan ini secara lebih luas dan masif?

Iya, justru kalau lihat di Semua Murid Semua Guru [gerakan kolaborasi para pemangku kepentingan pendidikan Indonesia yang diinisiasi Najelaa untuk mempercepat kemajuan pendidikan di tanah air], juga refleksi kegiatan-kegiatan dari organisasi yang saya inisiasi, misalnya Keluarga Kita, Kampus Guru Cikal, Ini Budi, kemudian Sinedu, itu pekerjaan yang dilakukan selama pandemi ini lebih banyak.

Jadi sederhananya gini, Kampus Guru Cikal dan Komunitas Belajar itu jumlah temu pendidiknya untuk tahun ini, justru frekuensi pertemuannya jauh lebih banyak di saat wabah. Terutama karena itu bisa diselenggarakan secara online.

Para guru jauh lebih bersemangat untuk menambah frekuensi pertemuan demi memenuhi kebutuhan belajarnya di era pandemi.

Memang salah satu hikmah dari wabah ini adalah adanya dorongan untuk berubah. Ada keinginan untuk mencoba cara baru; ada kesediaan untuk ‘oke gak nyaman sedikit, gak apa-apa’, mari kita praktekkan inovasi ini. Dorongan untuk berubah itu terasa lebih besar dibandingkan dengan situasi yang sebelumnya kayaknya baik-baik aja, tapi tidak ada perubahan yang berarti.

Jadi saya optimis sih, Mbak Rin. Walaupun kelihatannya sekarang ini proses adaptasinya belum berjalan terlalu lancar. Masih ada tantangan dimana-mana. Tetapi kalau semangat untuk beradaptasi dan semangat untuk mengadopsi teknologi dan sebagainya itu berjalan maka bisa jadi akan lebih baik.

Tapi kalau ditanya apakah online ini bisa sebagus offline? Saya termasuk pendidik yang percaya bahwa, [itu] nggak bisa. Yang namanya pendidikan yang ideal itu, tetap harus blended. Jadi ada porsi yang memang bisa diperkaya dengan teknologi; tujuan-tujuan pembelajaran yang bisa dicapai dengan online. Tetapi pertemuan-pertemuan tatap muka, pembentukan budaya dalam komunitas sekolah, interaksi, bertemu, dsb, tetap harus menjadi bagian yang essensial dari pembelajaran. Itu yang gak mungkin tergantikan.

Cuma sekarang kondisinya darurat. Kan gak mungkin kita ketemu. Tapi saya sangat ingin Insya Allah bisa segera ada kesempatan untuk memulai pertemuan tatap muka juga di sekolah. Di beberapa daerah sudah ada piloting untuk membuat prosesnya jadi lebih ideal untuk anak-anak.

Saya sepakat dengan Mbak Elaa. Tanpa tatap muka motivasi anak untuk belajar juga jadi terpengaruh. Artinya effort anak-anak untuk mengerjakan assignment menjadi minimalis. Tidak ada pantauan yang intens dari guru. Untuk sementara ini, bagaimana caranya memotivasi anak-anak untuk tetap komit belajar dan mengerjakan tugas-tugas?

Sebetulnya, kalau kita bicara anak yang merdeka belajar, dia itu yang pertama, modalnya harus punya komitmen. Dia harus tahu tujuan belajarnya apa. Anak-anak itu, dalam kondisi yang ideal kalau kita mau dia menjadi pelajar sepanjang hayat dan kita mau lihat dia lulus dengan kompetensi utuh, maka anak-anak harus tahu untuk apa sih mereka mengerjakan tugas ini. Harus terjawab dulu peranyaan seperti: ‘kalau saya bisa menyelesaikan soal ini, saya bisa apa. Saya bisa praktek apa.'

Tapi susahnya, sekarang kan tidak semua tugas yang diberikan menjawab pertanyaan itu. Gurunya pada saat memberikan instruksi tidak memberi penjelasan kaitan antara tugas dan manfaatnya. Jadi mengkaitkan,’nanti kalau kamu [mengerjakan] ini, di kehidupan sehari-hari kamu bisa seperti ini, misalnya.

Jadi justru teknik pedagogi seperti itu yang harus terus kita berikan.

Karena kalau kita mau anak-anak termotivasi, terus kita bilang: ‘supaya kamu termotivasi kamu diancam aja. Supaya kamu termotivasi kamu disogok, dikasih hadiah kalo kamu mengerjakan essay.’ Itu saja tidak menumbuhkan motivasi semangat belajar. Karena pada saat kita bicara komitmen, dalam konsep merdeka belajar, itu motivasinya adalah motivasi internal.

Masalahnya itulah yang terjadi saat ini. Anak-anak belajar, mengerjakan tugas. [karena] khawatir nilainya kecil atau kena remedial. Artinya mereka belajar karena takut nilainya tidak lengkap.

Betul, betul. Jadi belajar hanya untuk nilai, belajar hanya untuk ujian, belajar hanya karena takut sama guru. Makanya gak heran begitu sekolahnya gak ada, lalu mereka dipaksa belajar di rumah, yang muncul [ungkapan] jadinya ya kayak,’yah ngapain belajar.’

Nah tapi sekali lagi, ini symptom dari tidak adanya kegemaran belajar, tidak ditumbuhkannya motivasi internal selama bertahun-tahun ini. Jadi bukan cuma karena corona.

Saya terus terang kalo di webinar tuh Mbak Rin, kalau ada orangtua yang nanya: ‘anak saya ini sejak corona gak termotivasi belajar.’ Saya bilang, ’Bu memang kalau sebelum corona termotivasi belajarnya? Jangan-jangan dia ke sekolah bukan untuk belajar loh. Buat ketemu teman. Di sekolah pun belum tentu belajar. Jadi kita perlu mempertanyakan lagi, gitu yah.

Berarti kondisi ini diperparah dengan pandemi. Motivasi anak untuk belajar makin terpuruk...

Iya karena tekanan sosial-emosional-nya Mbak Rin. Jadi, ini kan situasi yang menekan untuk semua.

Justru karena itu, menurut saya kalau kita ingin menyelamatkan motivasi belajar anak dalam jangka panjang maka fokus pembelajaran kita di jarak jauh di masa pandemi ini, tidak bisa hanya soal akademik. Justru pada kesempatan ini, saya sebagai guru dan sebagai orang tua, harus mengembalikan komitmen kita dulu terhadap tujuan belajar.

Aktivis pendidikan Najelaa Shihab saat jadi pembicara dalam salah satu kegiatan. [Dok. pribadi]
Aktivis pendidikan Najelaa Shihab saat jadi pembicara dalam salah satu kegiatan. [Dok. pribadi]

Sebelum kita minta anak termotivasi untuk belajar, kita perlu pertanyakan dulu komitmen kita, guru maupun orangtua, apa sebenarnya tujuan belajar. Mau mereka belajar di sekolah atau dari rumah, kan kita ingin anak-anak itu tumbuh Mandiri.

Kalau kita udah sepakat sama itu, berarti [untuk guru] kalo memberi tugas jangan kasih tugas anak yang kebanyakan sehingga membuat anak kelabakan dan akhirnya justru bikin mereka mogok atau menyerah sebelum selesai. Lebih baik diberikan tugas yang bertahap.

Orangtua juga kalau percaya bahwa tujuan belajar itu mandiri, ya jangan mengambil alih tugas anak. Sebaiknya dibantu anaknya untuk membagi dan membuat jadwal. Kalau misalnya butuh minta perpanjangan waktu [mengerjakan tugas] sebaiknya dikomunikasikan, dinegosiasikan dengan guru. Bukan malah dibantu curang dan lain sebagainya. Jadi itu sebetulnya kembali lagi ke pemahaman kita tentang pendidikan itu gunanya apa, apa tujuan belajar sebenarnya.

Karena anak itu mencontoh kita. Kalau kita bilang: ‘Ya udah curang gak apa-apa, yang penting nilainya bagus. Bunda aja yang bantuin, yang penting selesai, gak direcokin dan sebagainya. Nah itulah yang kemudian akan menjadi sesuatu yang dipercaya oleh anak tentang apa arti belajar.

Apalagi Mbak, kalau tugasnya itu hanya meng-copy-paste tugas sebelumnya, maka anak-anak akan akan mudah mencari jawabannya di Google.

Betul itu.

Anak-anak tidak berpikir untuk membaca referensi. Mau mudahnya saja dengan googling; apalagi pertanyaan-pertanyaannya bisa di-copy-paste dan jawabannya sudah tersedia di sana.

Itu yang salah yang ngasih tugas Mbak Rin.

Jadi, salah satu kompetensi dasar yang seharusnya dimiliki oleh guru, itu adalah kemampuan melakukan penilaian atau assessment. Nah ini yang kalau di kampus Guru Cikal selama berbulan-bulan ini kita tuh heboh, ibaratnya mencoba melakukan remedial kepada guru agar bisa melakukan assessment.

Karena selama ini guru-guru... Ini sekali lagi dalam kondisi sebelum corona pun, pemahaman mereka tentang assessment itu cuma ujian nasional, test. Jadi assessment itu disamakan dengan ujian, tes atau bentuk evaluasi yang lain. Padahal assessment itu sebetulnya adalah pemberian umpan balik terhadap proses belajar.

Jadi ya bisa dalam bentuk project, presentasi, memberikan informasi pada anak. Nah itu pelatihannya kampus guru cikal itu banyak sekali soal assessment sekarang.

Karena guru gini: “Jadi gimana saya bisa kasih nilai, gimana bisa ujian supaya anaknya gak curang.” Kan jawabannya bukan berarti nyala’in kamera 24 jam. Jawabannya adalah berikanlah bentuk assessment, penilaian yang anaknya gak bisa nyontek, gak bisa copy-paste seperti yang Mbak Rin bilang tadi kan...

Jadi, cara memberikan penilaian dan cara memberikan tugasnya lah yang harus berubah. Karena kalau memang tugasnya itu gampang di-copy-paste, bisa dicurangin, dsb, maka pada akhirnya itu juga gak akan bisa menumbuhkan kompetensi-kompetensi yang kita ingin tumbuh pada anak.

Nah jadi seringkali, daripada kita menyalahkan anak, lebih baik kita kemudian refleksi: apa metode pedagogi yang lebih tepat yang kita bisa berikan pada anak-anak ini. Dan ini kembali lagi kepada kompetensi guru dan orangtua.

Masalahnya, itulah yang terjadi di mayoritas sekolah negeri, Mbak. Saya mengamati itu dari banyak anak-anak teman. Gurunya banyak yang tidak kreatif kalo gak mau dibilang kompeten. Dulu kan pernah ada program uji kompetensi guru. Persoalannya itu pun banyak ditukangi dan tidak berjalan efektif sehingga tidak merefleksi tingkat kompetensi pedagogi seorang guru. Meprihatinkan. Lalu, bagaimana memulai menyelesaikan masalah ini?

Masih banyak PR-nya Mbak Rin. Masih banyak tantangannya. Tapi sekali lagi... Saya udah 20 tahun lebih ngerjain ini. Jadi, kalau mau pilih, 'aduh frustrasi, kayaknya masih banyak banget masalah, dsb’, itu juga bisa.

Tapi saya sebagai pendidik, supaya semangat terus menggerakan perubahan, [memilih] membiasakan diri – dan juga teman-teman yang kerja bareng di berbagai organisasi – untuk melihat kabar-kabar baik juga.

Kabar gembira, praktek baik. Contohnya guru-guru yang berubah paradigmanya yang kemudian bisa mempraktekkan inovasi-inovasi dari level PAUD sampai SMA dan [mereka] terus belajar. Belum sempurna tapi terus menyesuaikan diri. Dan yang paling penting [adalah] melihat kebutuhan anak, menyesuaikan pola pengajarnya. Karena, anak dalam satu sekolah, dalam satu kelas pun itu bisa sangat berbeda kebutuhannya. Jadi betul-betul melakukan personalisasi. Dan itu jumlahnya banyak.

Kalau Mbak Rin tanya, apakah udah mayoritas apa belum? Jawabannya belum. Jadi mungkin kalo dari pengalaman kami di Kampus Guru Cikal, sekarang pun 20% mungkin belum. Tapi jumlahnya makin lama makin banyak, dan memang kalau ditanya, apakah misalnya Mbak Elaa dalam 5 tahun kedepan Mbak Elaa yakin bahwa 100% guru akan berubah? Saya yakin, gak akan.

Gak mungkin 100 persen guru bisa berubah dalam jangka waktu sesingkat itu.

Karena kita gurunya banyak, 4 juta [sedangkan] sekolahnya 300 ribu. Tetapi apakah Mbak Elaa yakin bahwa jumlah guru yang akan bergerak, jumlah [guru] yang akan mempraktekkan kemerdekaan belajar dan teknik-teknik pedagogi yang seperti itu akan bertambah? Itu saya yakin.

Dan apakah corona memberikan dampak yang positif terhadap... ini terlepas dari tentu saja kita tidak ada yang senang dengan adanya wabah, korbannya, dsb... Saya yakin Insya Allah justru pandemi ini akan jadi sesuatu yang mempecepat perubahan itu.

Karena menemukan juga contoh yang paling sederhana saja deh: Penggerak-penggerak Komunitas Guru Belajar itu banyak guru muda, Mbak Rin. Memang ada juga guru-guru yang udah usia 50 tahun lebih dan lain sebagainya tetapi kalau kita lihat proporsinya maka 70 persennya itu adalah guru muda yang jadi Penggerak Komunitas Guru Belajar ini.

Salah satu hambatan mereka pada saat mengadakan temu pendidik, pada saat mencoba menyebarkan praktik-praktik baik itu, kadang-kadang ada yang bilang: ‘wah kamu baru berapa tahun sih jadi guru.’ Atau, ‘guru muda gak usah sok tahu, gak usah terlalu bersemangat, dsb.’ Jadi hambatan-hambatan seperti itu justru munculnya dari teman sejawat.

Tetapi, sejak pandemi... Ini kan sesuatu atau situasi yang belum pernah dialami oleh guru mana pun. Jadi guru yang udah pernah ngajar 30 tahun pun, udah ngajar 20 tahun pun, belum pernah ngajar di masa corona. Nah jadi pengalamannya sama-sama kosong.

Saya dapat cerita dari guru-guru penggerak Komunitas Guru Belajar: Bu Elaa sekarang kita sudah lebih Pede [percaya diri. Red], katanya. Kalau ada yang nanya... Kalau dulu ada yang nanya, ‘udah berapa lama ngajar.’ ‘Ya kita baru 2 tahun, baru 5 tahun.’

Nah kalau sekarang ditanya, ‘udah berapa lama ngajar?’ Mereka akan balik bertanya, ’Ibu udah berapa lama ngajar PJJ [Pembelajaran Jarak Jauh --Red] di masa Corona?’ Jawabnya, ‘Dari bulan Maret.’ ‘Oh sama dong berarti pengalamannya.’

Mereka... kemampuannya untuk mempengaruhi, menggerakkan perubahan... Nah itu aja buat saya udah: ‘Wow, Alhamdullilah.’ Akhirnya ada kepercayaan diri yang muncul dari inovator-inovator ini dan kesediaan mendengar, merasa sejajar... sementara mungkin kalau di pertemuan tatap muka, mereka merasa udah jauh [gap-nya], yang itu udah merasa lebih jago..tapi saat ini semua masih sama-sama belajar, berdampingan, saling menemani di situasi yang memang gak mudah ini.

Di era pandemi ini kan guru-guru milenial ya, yang lebih advance karena lebih familiar dengan internet dan media sosial.

Betul.

Justru guru-guru millenial inilah yang dibutuhkan sekarang ya Mbak; guru-guru yang sudah 50 tahun ke atas, mereka agak kerepotan beradaptasi.

Secara umum, Mbak Rin betul. Data kami di Komunitas Guru Belajar menunjukkan bahwa memang guru yang lebih muda, biasanya tingkat kecemasannya terhadap teknologi itu lebih rendah. Karena memang udah lebih biasa menggunakan. Dalam konteks bukan sebagai guru pun mereka aktif di dunia digital, dsb.

Jadi memang yang lebih tua biasanya lebih cemas karena gak terbiasa, dsb. Tetapi proses belajarnya selama mereka ada komitmen, ada motivasi internal untuk berubah dan memang melihat kebutuhan anak, kita lihat banyak juga yang kemudian bisa belajar dengan sangat cepat.

Walaupun sebelumnya, kita ngajarinnya mulai dari gimana pakai WhatsApp; email itu apa itu. Masih harus diajarkan dari awal. Banyak, kita ada jenjangnya. Kita ada gerakan Sekolah Lawan Corona. Inilah yang dilakukan Kampus Guru Guru Cikal, Keluarga Kita, Sekolah.mu.

Pelatihannya itu dari mulai cara instal WhatsApp, gimana buka email dan seterusnya. Jadi bukannya soal platform digital tapi yang betul-betul kayak literasi digital yang sangat dasar itu yang kita lihat banyak guru-guru dari Bantaeng, di Sulawesi Selatan, dari daerah-daerah di Jawa Barat, dsb. [Mereka] Bisa berubah dan belajar dengan cepat. Tapi ya butuh didampingi.

Saya juga pernah bercakap dengan pemilik sekolah internasional. Mereka saat pandemi pun kualitas belajar mengajar tetap terjaga. Artinya seluruh platform long-distance learning terkini dari US itu mereka adopsi. Siswa dan murid betul-betul aktif terlibat. Bandingkan dengan murid-murid di sekolah negeri yang paling banter menggunakan ruang guru, google classroom atau sesekali google meet. Artinya ada gap yang lebar sekali. Mbak Elaa melihat kekhawatiran ini? Artinya, ada segelintir siswa yang dengan kecanggihan teknologi bisa maju pesat sekali, sementara sebagian besar terutama sekolah-sekolah negeri dan di daerah itu masih harus terseok-seok untuk beradaptasi.

Sangat amat khawatir karena teknologi itu membawa isu kesenjangan juga. Digital divide itu nyata kan. Di satu sisi ada anak yang mungkin pada saat pembelajaran jarak jauh ini dapat lebih banyak daripada sebelum wabah. Karena kemudian [ketersediaan] sumber daya belajarnya macam-macam. Orang tuanya mendukung. Jadi ibaratnya gurunya pun bagus, berusaha, dan orangtuanya pun tidak hanya ngasih fasilitas tetapi juga terlibat.

Di sisi lain ada anak-anak yang gak dapat akses sama sekali, orangtua pun mau nggak mau harus kerja jadi gak bisa ngasih perhatian, ada tekanan ekonomi, gurunya kompetensi rendah. Jadi memang kesenjangan capaian, kesenjangan kesempatan itu nyata menjadi makin besar dengan adanya teknologi pembelajaran jarak jauh maupun situasi pandemi. Itu nyata dan itu memang jadi tantangan dan PR [pekerjaan rumah.Red] yang harus kita selesaikan.

Tapi isu kesenjangan dalam pendidikan ini juga bukan isu baru. Sebelum corona pun sebetulnya kesenjangan itu nyata. Ada sekolah yang gurunya lengkap, bagus, tapi ada sekolah yang boro-boro punya cukup guru atau fasilitas. Jadi ini memang pekerjaan besar yang harus kita selesaikan terus-menerus.

Tapi bahwa corona itu membawa bukan cuma dampak jangka pendek – sekarang anak-anak gak bisa sekolah – tapi juga menengah dan jangka panjang. Dengan adanya kesenjangan capaian ini...bukan cuma anak-anak yang rentan dalam kemiskinan, tapi juga seperti yang saya sampaikan tadi anak-anak inklusi, Mbak. Anak-anak dengan disablitas.

Itu yang bikin saya gelisah. Anak-anak disabilitas itu, mereka banyak sekali intervensi, terapi, bimbingan pendidikan yang perlu dilakukannya itu dengan tatap muka. Gak akan bisa efektif sama sekali. Kalau anak-anak yang gak punya kebutuhan khusus mungkin kita bisa bilang, ya [pembelajaran] jarak jauh itu efektif 50 persen atau mungin 70 persen. Tapi kalo anak-anak berkebutuhan khusus itu mungkin efektifnya cuma 20 persen atau bahkan 10 persen. Nah ini yang mereka betul-betul perlu segera dapat dukungan juga.

Orangtuanya itu betul-betul harus dapat dukungan kapasitas. Nanti ada proses remedial. Kemudian kalau masyarakat rentan miskin, itu perlu ada perbaikan intervensi gizi dan lain sebagainya. Jadi banyak PR-nya memang. Karena Corona ini, itu menjadi berlipat ganda, makin sulit.

Saat keadaan mulai kembali normal, apa yang perlu segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan ini terutama dalam menstandarisasi kualitas output anak didik ya mbak. Atau kita realistis saja merelakan satu tahun ini kita anggap hilang, dan mulai lagi saja dari awal.

Yang pertama, yang paling penting, tadi saya sudah sampaikan, itu sebetulnya assesment. Kita perlu meng-assess... Assessment-nya ini bukan dalam bentuk ujian nasional tapi semua guru perlu meng-assess sebetulnya kemampuan anaknya itu sampai mana.

Jadi untuk melihat antara ketuntasan kurikulum dan apa yang seharusnya sudah bisa mereka pahami. Nanti begitu masuk, pertama kali, [siswa] di-assess dulu. Jadi kita tahu kesenjangannya gimana. Karena kan kalau di sekolah, itu kesempatannya mungkin setiap hari bisa dicek pemahamannya sampai dimana, bisa kelihatan.

Nah begitu nanti kita kembali ke sekolah dan kalau bisa dari sekarang pun dilakukan assesment yang berkelanjutan untuk melihat kebutuhan masing-masing anak itu seperti apa.

Najelaa Shihab bersama putrinya. [Dok. pribadi]
Najelaa Shihab saat bersama dua di antara murid sekolah Cikal, beberapa waktu lalu. [Dok. pribadi]

Yang kedua itu tentu ya remedial-remedial program. Tujuannya untuk melakukan diferensiasi cara mengajar bahkan mungkin kompetensi dasar yang diajarkan, tujuan pembelajaran. Itu semua harus disesuaikan. Jadi kita gak bisa samaratakan; kita anggap semua anak yang ada di kelas 1 SD di sekolah kita itu butuh sesuatu yang sama. Dituntut kemampuan [guru] untuk mengajar sesuai level anak didiknya, memberikan tugas yang beragam, ngasih lebih untuk anak yang memang butuh lebih, itu harus dilakukan oleh guru.

Nah ketiga itu sebetulnya intervensi-intervensi lain yang gak berkaitan dengan akademik. Jadi banyak anak yang tertekan secara mental, mungkin jadi korban kekerasan, punya frustrasi, merasa lonely dan sebagainya, itu juga butuh dukungan sebetulnya dari sekolah. Dan ini buka cuma pekerjaan guru BP [Bimbingan Penyuluhan.Red], guru BK [Bimbingan Konseling.Red] aja sebetulnya tapi semua wali kelas, semua guru harusnya bisa membangun hubungan yang baik dengan anak. Karena memang ini kan situasinya anak [mengalami] isolasi, bosan, kangen teman, dsb. Nah ini juga bisa dimulai dari sekarang.

Keempat yang menurut saya penting adalah terus melibatkan orang tua. Jadi, walaupun sekarang kayaknya orang tua kebebanan dan kesusahan, mungkin juga udah gak sabar ‘kapan sih ini anak balik lagi ke sekolah,’ bisa nitipin lagi, dsbnya.

Sebetulnya modal keterlibatan [orang tua] selama masa pandemi ini jangan sampai nanti berbalik lagi 180° saat pertemuan tatap muka sudah dimulai kembali. Jadi, koneksi antara rumah dan sekolah, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua harus dipertahankan terus sampai nanti sehingga jangan sampai kembali ke asal, jangan sampai tingkat keterlibatannya... kalau menurun pasti karena udah dibagi lagi bebannya dengan guru, dibandingkan pada saat sekarang. Tetapi kita harapkan tentu kesadaran orang tua ini juga tetap tinggi. Mereka juga tetap terlibat dalam proses pembelajaran anak walaupun nanti sekolah sudah dibuka kembali.

Ini seharusnya menjadi agenda pemerintah juga ya Mbak supaya ada gerakan nasional. Karena kalau mengharapkan inisiatif guru atau kepala sekolah di sekolah-sekolah negeri terutama, akan sangat kecil kemungkinan terjadi. Harus ada instruksi dari Kemendikbud untuk menjalankannya. Harus menjadi program nasional.

Kalau Kemdikbud, sebetulnya kan sudah ada beberapa ruang... Saya memang PSPK [Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan; salah satu dewan pakarnya adalah Najelaa Shihab --Red] kami gak kerja dalam konteks covid ini sama Kemdikbud, tetapi saya tahu ada kurikulum darurat yang sudah disiapkan, ada kebijakan-kebijakan anggaran untuk alokasi BOS [Bantuan Operasional Sekolah. Red], BOP [Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan. Red] juga yang jadi lebih fleksibel di masa pandemi seperti ini. Kemudian ada juga subsidi kuota data, dsb.

Jadi, sudah ada beberapa kebijakan [pemerintah]. Tapi ya mungkin kalau dalam konteks organisasi, kami itu [yang terdiri dari] sekolah.mu, Kampus Guru Cikal, dan Keluarga Cikal, kita ada kerja dengan Pemprov DKI Jakarta, dengan Pemprov Jawa Tengah, dan juga dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan, kemudian juga dengan Pemerintah Kota Bandung. Jadi memang ada beberapa Pemda yang kami bantu prosesnya...Dan itu kita lihat betul-betul [ada] komitmen dari pemerintah daerahnya untuk memastikan bahwa proses pembelajaran jarak jauh ini berjalan dengan baik. Itu betul-betul ada gitu ya.

Jadi ada dukungan buat guru, dukungan buat orang tua, kemudian ada juga upaya-upaya untuk menjaga kelangsungan lembaga-lembaga pendidikan. Dan saya yakin, pasti bukan cuma ini. Saya ceritakan ini karena memang saya bekerja intens dengan Jakarta, dengan Jawa Tengah, Bantaeng, dan Bandung. Tapi secara umum pasti banyak contoh-contoh lain Mbak Rin dimana memang pemerintah pusat maupun pemerintah daerah itu melakukan sesuatu.

Kita perlu kumpulkan aja terus contoh-contoh itu. Memang ada contoh-contoh yang masih kesulitan, masih masalah, tapi ini loh ada contoh-contoh yang baik dan bisa melakukan sesuatu. Nah ini kan bisa kita sebarkan narasinya sehingga bisa saling belajar dan mengadaptasi inovasi dengan sukses dan berkelanjutan terus.

Setelah pandemi nampaknya sistem pembelajaran yang blended akan terus berlangsung ya Mbak? Kalau pendapat pribadi bagaimana?

Kalau saya, karena saya percaya sama pentingnya blended... dan saya lewat berbagai organisasi di sekolah.mu, di Keluarga Kita dan Kampus Guru Cikal sudah bekerja dengan ribuan sekolah dan melihat betapa sebetulnya teknologi ini kalau didayagunakan dengan baik bisa sangat amat berdampak positif pada anak. Maka saya tentu berharap bahwa blended ini akan terus menjadi kebiasaan dan budaya baru untuk kepentingan muridnya.

Kalau [ditanya] apakah akan langsung bisa diimplementasikan oleh semua sekolah, prediksi saya tidak. Kan ada sekolah-sekolah yang memang sampai sekarang pun masih kesulitan. Pada saat menggunakan teknologi, mungkin aksesnya masih susah ya itu nggak mungkin untuk mempertahankan blended.

Kemudian ada lagi sekolah tipe kedua: dia pakai teknologi tapi pake teknologinya dengan cara yang salah. Jadi kelihatannya aja keren, pakai aplikasi dan sebagainya, tetapi sebetulnya secara prinsip pedagogi, penerapannya enggak efektif. Nah itu butuh dukungan.

Apa misalnya ya Mbak?

Misalnya, pake teknologi tetapi itu digunakan hanya untuk ngasih tugas. Jadi sifatnya satu arah. Atau pake teknologi Cuma buat try out ujian aja. Padahal sebenarnya teknologi itu kan nature nya dia bisa membuat konsep pembelajaran lebih menarik; dia bisa membuat anak-anak berkolaborasi lewat jarak jauh dengan bukan hanya teman sekelasnya tapi juga dari murid-murid berbagai sekolah dan daerah. Teknologi itu bisa memberikan umpan baik.

Banyak fitur teknologi yang harusnya digunakan malah tidak digunakan. Kalau di Kampus Guru Cikal itu istilahnya kopong. Jadi keren di luar tapi sebetulnya rapuh di dalam. Teknologinya ada, tapi pedagoginya gak memadai.

Ada juga sekolah-sekolah yang memang secara teknologi itu sebetulnya terbatas, tetapi secara pedogogi kuat. Ini juga banyak, saya lihat. Jadi teknologi itu kan bukan Cuma aplikasi. Guru datang, guru kunjung pun itu sebetulnya teknologi; membagikan lembar kerja, materi-materi non digital pun itu bisa jadi metode yang sangat efektif. Nah ini sebenarnya mudah-mudahan buat ke depannya kita bisa lengkapi dengan teknologi yang harganya murah dan terjangkau, sehingga pada akhirnya pedagogi yang sudah efektif akan menjadi makin kaya dengan teknologi itu.

Dan kelompok terakhir tentu yang tadi saya bilang, praktik baik yang teknologinya sudah memadai dan pedagoginya juga sudah kuat. Itu yang sekarang pun bahkan sebelum corona pun mungkin sudah mempraktekan blended learning dengan baik. Di saat corona, online-nya baik dan seterusnya akan baik.

Jadi memang ada 4 kelompok lembaga ini yang masing-masing perlu mendapat dukungan yang berbeda-beda. Nah itu kami rencanakan akan dilakukan juga di Kampus Guru Cikal, Keluarga Kita, dan Sekolah.mu.

Itu kan sangat bergantung pada guru ya Mbak, bagaimana dia bisa kreatif dan punya motivasi untuk menciptakan sesuatu yang menarik.

Betul.

Survei UNICEF menunjukkan sekitar 69% murid [selama PJJ] merasa jenuh. Mereka bosan dengan belajar online. Artinya something must be wrong dengan sistem pembelajaran online; kalau 69 persen siswa mengatakan bosan berarti sebagian besar guru tidak mempraktekkan hal-hal yang tadi Mbak Elaa sampaikan, yakni menarik, lebih inovatif dan lebih kreatif. Ini bagaimana memotivasi guru supaya mau melakukan seperti yang sudah dilakukan Mbak Ela dilingkup komunitas.

Kalau Kemendikbud, itu ada beberapa program juga yang saya tahu, seperti Guru Berbagi, itu ada portalnya, kemudian ada pelatihan-pelatihan untuk guru juga yang dilakukan online. Kalau dengar dari guru-guru di Komunitas Guru Belajar Cikal yang juga ikut program Sekolah Lawan Corona, katanya program itu cukup efektif untuk menjangkau banyak guru dan banyak sekolah.

Jadi memang kalau ditanya sudah 100%? Belum, tetapi saya lihat sebenarnya upaya-upaya untuk terus mendukung guru itu juga ada.

Nah media seperti ini yang menceritakan berbagai inovasi, kemudian melakukan sesuatu juga untuk menyebarkan kabar baik maupun masalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, itu juga sangat membantu. Korporasi: banyak juga upaya-upaya gotong royong lain, kolaborasi untuk pelatihan guru, untuk juga pendidikan orang tua dan sebagainya, itu saya rasa sesuatu yang perlu dilanjutkan terus.

Pertanyaan terakhir saya, apa prediksi Mbak Elaa terkait arah pendidikan kita? Mau ke mana setelah COVID-19 ini? Kan memori manusia itu singkat, mereka mungkin sudah akan lupa kejadian ini beberapa bulan kemudian dan akhirnya orang-orang akan kembali ke paradigma lama. Seberapa optimis Mbak Elaa bahwa kita bisa belajar banyak dari pandemi?

Aku optimis kok. Optimis bahwa makin banyak praktek baik dan inovasi akan muncul. Dan optimisme ini bukan tanpa dasar. Karena ya selama bertahun-tahun ini kerja, kemudian melihat bahwa perubahan yang terjadi dari Maret sampai November ini, 8 bulan, terlihat signifikan sekali. Makin banyak guru yang semangat belajar; makin banyak guru yang bersemangat untuk berbagi; makin banyak lembaga yang...kalo dulu mungkin kita di sekolah.mu itu untuk meyakinkan bahwa integrasi digital ini penting, blended learning itu baik, kemudian kita kerja sama Keluarga Kita yang menyerukan pendidikan keluarga itu penting, memberikan pelatihan pada orang tua... Nah itu proses meyakinkannya agak butuh waktu.

Tapi kalo sekarang itu ibaratnya kalo mereka dengan motivasi sendiri, lembaga-lembaga itu banyak sekali yang memang ingin meningkatkan kapasitasnya, ingin meningkatkan kompetensi gurunya untuk kemudian bisa melakukan transformasi ini dengan baik.

Jadi saya yakin Insya Allah kalau banyak yang mendukung ekosistem pendidikan ini, makin banyak yang ambil peran dan bekerja untuk mendorong perubahan... Sekali lagi bukan cuma perubahan di kebijakan tapi juga perubahan di lapangan. Guru, orangtua, muridnya sendiri dan sebagainya itu pasti, walaupun susah di masa ini. Tapi akan banyak hikmahnya yang bisa mendorong perbaikan ke depannya.

Baik, menarik sekali Mbak percakapan ini. Tapi harus diakhiri. Terima kasih loh Mbak Elaa untuk waktu bincang-bincangnya.

Terima kasih banyak, Mbak Rin.

Iya, sama-sama.

Sampe ketemu ya.

Iya, thank you.

Bye, bye.

Kontributor : Rin Hindryati

Komentar