Penerapan MEA, Pekerja Hotel Merasa Terkena Dampak Negatifnya

Arsito Hidayatullah

Kamis, 09 April 2015 | 20:35 WIB
Penerapan MEA, Pekerja Hotel Merasa Terkena Dampak Negatifnya
Ilustrasi suasana salah satu hotel di Yogyakarta. (Tripadvisor)
Penerapan kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya, ternyata berdampak kurang baik secara signifikan pada pekerja perhotelan di Yogyakarta.

Hal itu antara lain seperti diungkapkan Dyah Ambhara, Ketua Umum Serikat Pekerja dari Federasi Serikat Mandiri, yang juga adalah salah satu pekerja hotel di Yogyakarta. Kepada Suara.com, saat dijumpai di sela-sela aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Ara ini mengungkapkan, penerapan kebijakan MEA di Yogyakarta justru semakin memperlemah posisi tawar para pekerja hotel setempat.

"(Soalnya) Statusnya hanya pegawai kontrak atau outsourcing," kata Ara.

Selain itu, Ara menilai bahwa persaingan kerja menjadi lebih ketat. Pasalnya, tenaga kerja Indonesia akan bersaing dengan pekerja asing, meskipun secara kemampuan dan kualitas kerja tak berbeda jauh.

"Sekarang saja, manajemen hotel di Yogyakarta sudah banyak yang orang asing. Dari dulu itu sudah terjadi. (Dan) Setelah MEA, akan lebih banyak lagi bule-bule njalanin hotel. Bahkan mungkin beberapa hotel penanam modalnya juga dari asing. Kalau Pemda DIY tak segera buat kebijakan, bisa-bisa nanti pekerja hotel di bawah manajemen juga (berasal) dari luar seperti Filipina, Malaysia, yang keahliannya tak jauh beda dengan orang Indonesia," paparnya.

Permasalahan terkait penerapan MEA dan dampaknya bagi pekerja hotel tak hanya sampai di situ. Menurut Ara pula, banyak rekan-rekannya pekerja hotel yang hingga kini masih menjadi pegawai kontrak bahkan outsourcing.

"Bukan hanya soal kesejahteraan, mulai tahun 2000, saat adanya kebijakan kontrak dan outsourcing, kan banyak perusahaan yang tidak mau menjadikan pekerjanya menjadi pegawai tetap. Nah, kasus ini semakin parah saat mulai diterapkan MEA," ujarnya.

"Jika sebelumnya pegawai kontrak masih ada kesempatan jadi pegawai tetap, setelah MEA ini semakin kecil kesempatannya. Apalagi nanti saat pekerja asing mulai masuk. Perusahaan perhotelan kan pasti lebih memilih mengambil karyawan yang mau dibayar lebih rendah dan kemampuannya tak beda jauh dengan kita," tambah Ara.

Ara menambahkan, jika dulu bekerja di hotel itu memiliki prestise dan nilai jual tinggi, bahkan masih bisa bersaing dengan para pekerja di kapal pelayaran atau kapal pesiar, saat ini anggapan tersebut sudah tak berlaku lagi. Kini menurutnya, tak jarang malah di Yogyakarta pekerja hotel berpendapatan di bawah UMK.

Lemahnya posisi tawar para pekerja hotel pun makin berat, sebab menurut Ara, pembangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta yang tak terbendung, secara otomatis mengakibatkan pula perang tarif antara hotel satu dengan yang lain.

"Dengan MEA ini dan izin pembangunan hotel yang kemarin sebelum moratorium, itu kan gila-gilaan. Akibatnya, perang tarif hotel tak terkendali. Otomatis berdampak pada fee servis serta pendapatan yang diterima pekerja hotel di Jogja. Belum lagi, kebanyakan hotel baru di Jogja pekerjanya kontrak. Jam kerja bisa sampai 10 jam, bahkan lebih, sementara penghasilan tak sesuai," ujarnya.

Ara menambahkan bahwa selain minimnya pendapatan, banyak pula hotel yang tak memberikan asuransi pekerjaan bagi karyawannya, padahal mereka harus bekerja lebih lama dari waktu kerja pada umumnya.

Menurut Ara, peliknya permasalahan yang ada dengan ratusan hotel baru di Jogja, tak terlepas dari kegagapan pemerintah daerah yang dirasa memang belum siap dengan MEA. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya menerapkan kebijakan atau regulasi yang tepat, sebelum Yogyakarta dibanjiri tenaga kerja asing yang akan semakin memperlemah posisi tawar para pekerja hotel.

Ara pun berharap, pemerintah daerah di Yogyakarta dapat belajar dari Bali. Soalnya menurutnya, kendati di Bali penuh dengan hotel, namun para pekerja hotel di sana masih memiliki nilai tawar yang tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik.

Selain memperbaiki regulasi dan membuat kebijakan, Pemda pun diminta harus mempererat kerja sama, bukan hanya dengan pengusaha, namun juga dengan pekerja hotel dan pihak-pihak terkait. Ini demi mempublikasikan Yogyakarta secara lebih luas, sehingga kunjungan wisatawan ramai tak hanya saat liburan, serta tak perlu sampai ada perang harga yang meresahkan pekerja perhotelan. [Wita Ayodhyaputri]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mengintip Revitalisasi Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta

Mengintip Revitalisasi Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta

Lifestyle | Senin, 06 April 2015 | 15:04 WIB

Hari Pertama Garuda Travel Fair, Pengunjung Membludak

Hari Pertama Garuda Travel Fair, Pengunjung Membludak

Lifestyle | Jum'at, 03 April 2015 | 17:19 WIB

Indonesia, Destinasi dengan Penginapan Termurah

Indonesia, Destinasi dengan Penginapan Termurah

Lifestyle | Jum'at, 03 April 2015 | 07:11 WIB

Tiket Liburan ke Bali dan Lombok Paling Laku

Tiket Liburan ke Bali dan Lombok Paling Laku

Lifestyle | Jum'at, 27 Maret 2015 | 17:22 WIB

Terkini

The Blue Road Rilis Teaser, Son Suk Ku dan Eita Nagayama Siap Buru Pembunuh

The Blue Road Rilis Teaser, Son Suk Ku dan Eita Nagayama Siap Buru Pembunuh

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:15 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Gambut Mengering dan Kearifan Lokal Kian Terabaikan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Gambut Mengering dan Kearifan Lokal Kian Terabaikan

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:12 WIB

Kanye West gelar konser perdana, puluhan ribu penonton padati GBK

Kanye West gelar konser perdana, puluhan ribu penonton padati GBK

Video | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:10 WIB

Tragis! Atlet Selam Jepara di Porprov Jateng 2026 Tewas Tenggelam, Ini Kronologinya

Tragis! Atlet Selam Jepara di Porprov Jateng 2026 Tewas Tenggelam, Ini Kronologinya

Jawa Tengah | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:06 WIB

Ze Gomes Siapkan Taktik Khusus Jelang Laga Tensi Tinggi Menghadapi Persebaya Surabaya

Ze Gomes Siapkan Taktik Khusus Jelang Laga Tensi Tinggi Menghadapi Persebaya Surabaya

Bola | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:05 WIB

PT Kristalin Ekalestari: Profil, Penyebab Cabut Izin Tambang, dan Sanksi

PT Kristalin Ekalestari: Profil, Penyebab Cabut Izin Tambang, dan Sanksi

Bisnis | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:04 WIB

Muka Glowing tapi Rekening Kering: Saatnya Sadar Pentingnya Dana Darurat

Muka Glowing tapi Rekening Kering: Saatnya Sadar Pentingnya Dana Darurat

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Suka Pakai Sweater Rajut? Coba 5 Trik Styling agar Tampilan Lebih Modern

Suka Pakai Sweater Rajut? Coba 5 Trik Styling agar Tampilan Lebih Modern

Lifestyle | Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Garudayaksa vs Persib Bandung, Bobotoh Protes Kebakaran Hutan

Garudayaksa vs Persib Bandung, Bobotoh Protes Kebakaran Hutan

Bola | Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:52 WIB

MAKI Adukan Pimpinan KPK ke Dewas, Dinilai Melempem Hadapi Mangkir Nusron Wahid

MAKI Adukan Pimpinan KPK ke Dewas, Dinilai Melempem Hadapi Mangkir Nusron Wahid

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:35 WIB

×