Rupiah Bangkit ke Rp16.865 Per Dolar AS, Putus Tren Pelemahan Berturut-turut

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:33 WIB
Rupiah Bangkit ke Rp16.865 Per Dolar AS, Putus Tren Pelemahan Berturut-turut
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah berhasil menguat tipis pada Rabu (14/1/2026) setelah delapan hari pelemahan, ditutup pada Rp16.865 per dolar AS.
  • Penguatan rupiah dipicu intervensi Bank Indonesia dan pergerakan indeks dolar AS yang cenderung datar pada hari tersebut.
  • Penguatan rupiah ini dinilai sementara karena belum ada pergeseran fundamental ekonomi besar dan mayoritas mata uang Asia juga menguat.

Suara.com - Rupiah (IDR) akhirnya berhasil keluar dari tekanan setelah mengalami pelemahan selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Setelah tertekan selama delapan hari perdagangan berturut-turut, mata uang Garuda akhirnya berhasil ditutup di zona hijau, meskipun penguatan yang tercatat masih cenderung tipis.

Pada penutupan pasar Rabu (14/1/2026), nilai tukar rupiah tercatat menguat tipis dan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) (USD).

Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp16.865 per dolar AS. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 0,07 persen jika dibandingkan dengan penutupan pada Selasa lalu yang berada di posisi Rp16.874 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah kali ini tidak lepas dari langkah strategis bank sentral. Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing menjadi faktor penentu kembalinya rupiah ke zona hijau.

"Rupiah menguat tipis terhadap dolar AS dipicu aksi intervensi BI setelah pelemahan berkelanjutan yang mulai mendekati ambang psikologis Rp17.000," ujar Lukman pada Rabu sore.

Selain upaya intervensi, pergerakan indeks dolar AS yang cenderung datar pada hari ini memberikan kesempatan bagi rupiah untuk berbalik arah.

Namun, Lukman memberikan catatan bahwa penguatan ini kemungkinan besar hanya bersifat sementara.

Hal ini dikarenakan belum adanya pergeseran fundamental ekonomi yang besar serta belum terjadi penurunan signifikan pada indeks dolar global secara keseluruhan.

Baca Juga: Rupiah Masih Keok Lawan Dolar AS, Ditutup di Level Rp 16.876

Kenaikan rupiah hari ini sejalan dengan tren penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Namun, jika dibandingkan dengan negara tetangga, persentase kenaikan rupiah masih tergolong moderat. Berikut adalah rincian performa mata uang di kawasan regional:

  • Ringgit Malaysia memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan sebesar 0,25 persen.
  • Baht Thailand menyusul dengan apresiasi sebesar 0,23 persen.
  • Won Korea mencatatkan penguatan 0,12 persen, sementara Dolar Taiwan naik 0,08 persen.
  • Dolar Hong Kong dan Yuan China masing-masing menguat 0,06 persen dan 0,05 persen.
  • Dolar Singapura naik 0,04 persen, sedangkan Yen Jepang menguat tipis 0,006 persen.

Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia bernasib serupa. Peso Filipina terpantau melemah 0,18 persen, diikuti oleh Rupee India yang terkoreksi tipis 0,006 persen terhadap dolar AS pada sore ini.

Sementara itu, Bank Indonesia melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menetapkan posisi rupiah di level Rp16.871 per dolar AS.

Stabilitas nilai tukar ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan moneter dalam negeri serta dinamika data ekonomi Amerika Serikat yang memengaruhi pergerakan modal global.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI