- Iran mengizinkan kapal non-Israel dan AS melewati Selat Hormuz, namun Iran menarik tarif transit 2 juta dolar AS.
- Kebijakan ini muncul saat Presiden Trump mengumumkan perundingan positif menuju deeskalasi konflik dengan Iran di Teluk Persia.
- Pakistan dan Mesir diketahui menjadi mediator aktif dalam perundingan informal antara perwakilan Amerika Serikat dan Iran.
Suara.com - Iran mulai mengizinkan kapal-kapal untuk melewati Selat Hormuz di Teluk Persia. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat diperbolehkan untuk melintasi selat sempit tersebut.
Meski demikian media-media Iran juga melaporkan bahwa Teheran menarik tarif 2 juta dolar AS atau sekitar Rp34 miliar per kapal di Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang dilintasi 20 persen minyak dunia itu.
Kebijakan ini diambil Iran saat Presiden Donald Trump mengatakan pihaknya dan Iran sedang melakukan perundingan dan ada tanda-tanda positif menuju deeskalasi konflik di Teluk Persia tersebut.
"Iran telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan pelayaran lewat jalur ini dan akan melakukan koordinasi yang diperlukan bagi kapal yang tidak berafiliasi dengan pihak agresor," kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Sementara Alaeddin Boroujerdi, anggota komite keamanan dan kebijakan luar negeri parlemen Iran, dalam wawancara dengan media lokal mengatakan pemerintah menarik tarif 2 juta dolar AS per kapal yang lewat di Selat Hormuz.
"Menarik 2 juta dolar AS sebagai biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz mencerminkan kekuatan Iran," kata Boroujerdi dilandir dari kantor berita Türkiye, Anadolu.
Sementara itu media-media maritim melaporkan bahwa kapal-kapal China mulai membayar pemerintah Iran untuk bisa melewati Selat Hormuz.
Dilansir dari Lloyd List, kapal Newvoyager milik perusahaan China Bengbu Shengda Transportation telah membayar pemerintah Iran untuk bisa melintasi Selat Hormuz. Meski demikian belum diketahui berapa besar ongkos dan bagaimana metode pembayarannya.
Pada akhir pekan kemarin Iran juga mengumumkan akan mengizinkan kapal tanker Jepang yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dari Irak untuk melewati Selat Hormuz.
AS dan Iran Berunding
Sebelumnya pada Senin Trump mengumumkan pihak AS dan Iran sedang berunding menuju arah deeskalasi konflik di Teluk. Trump sebelumnya berencana menghancurkan seluruh pembangkit listrik Iran pada malam tadi, tapi ultimatum itu diperpanjang hingga 5 hari ke depan karena adanya diskusi positif tersebut.
Meski beberapa pihak internal Iran membantah adanya pembicaraan tersebut, tetapi sejumlah analis mengatakan perwakilan Teheran dan AS sudah sejak lama berunding lewat perantara.
Ada dua negara yang saat ini diketahui aktif menjadi jembatan untuk mendamaikan AS dengan Iran. Keduanya adalah Pakistan dan Mesir.
Panglima Angkatan Bersenjatan Iran Asim Munir diketahui berbicara dengan Trump, sementara Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif berdialog dengan Presiden Iran Mashoud Pezeskian.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Mesir lewat media sosial X pada akhir pekan lalu mengumumkan bahwa utusan khusus AS yakni Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragachi sudah memulai negosiasi melalui jalur-jalur informal. Kabar ini muncul dari Kairo 24 jam sebelum Trump mengumumkan perpanjangan ultimatum.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan pembicaraan itu melibatkan Menlu Pakistan, Qatar, Turki, Iran dan Witkoff. Perundingan itu bertujuan untuk mencegah konflik terlalu besar sehingga tak lagi bisa dikendalikan oleh semua pihak.