- Pemerintah Iran menolak membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap pelabuhan militer mereka.
- Otoritas Iran berencana membuka ruang udara nasional secara bertahap, namun penjualan tiket pesawat masih tetap ditangguhkan.
- Kebuntuan diplomasi dan tekanan militer Amerika Serikat meningkatkan risiko pecahnya kembali konflik fisik di Timur Tengah.
Suara.com - Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran internasional kecuali Amerika Serikat (AS) menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan miliknya.
Pernyataan ini mempertegas kebuntuan diplomatik yang tengah terjadi antara Teheran dan Washington.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada jadwal pasti untuk putaran baru pembicaraan tatap muka dengan pihak AS, seperti yang dikutip dari Aljazeera.
Ia melontarkan kritik tajam terhadap Washington yang dinilai enggan melepaskan tuntutan "maksimalis" yang memberatkan posisi Iran dalam negosiasi.
Saling klaim dan pesan yang kontradiktif dari kedua negara mengenai status Selat Hormuz ini terus memicu ketidakpastian bagi industri pelayaran global, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi dunia.
Meski situasi di laut masih menegang, Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran di sektor transportasi udara. Mengutip kantor berita Tasnim, Wakil Direktur Organisasi Penerbangan Sipil Iran mengumumkan rencana pembukaan kembali ruang udara nasional yang akan dilakukan dalam empat tahapan:
Tahap Pertama: Pembukaan ruang udara khusus untuk penerbangan transit.
Tahap Kedua: Operasional penerbangan dari bandara-bandara di wilayah timur Iran.
Tahap Ketiga: Izin penerbangan dari Bandara Mehrabad dan Bandara Internasional Imam Khomeini (IKA) di Teheran.
Tahap Keempat: Pembukaan seluruh bandara di wilayah barat.
Kendati demikian, otoritas terkait saat ini masih menangguhkan seluruh penjualan tiket pesawat. Masyarakat diminta untuk terus memantau pengumuman resmi mengenai ketersediaan jadwal penerbangan dan mekanisme pembelian tiket di masa mendatang.
Strategi "Dua Jalur" Amerika Serikat
Abas Aslani, peneliti senior di Centre for Middle East Strategic Studies, menilai bahwa Iran saat ini sedang menghadapi strategi "dua jalur" dari Amerika Serikat yang dinilai saling bertolak belakang.
"Jalur pertama adalah negosiasi. Namun, Iran mempertanyakan ketulusan AS; jika mereka benar-benar mencari kesepakatan, mengapa mereka masih menerapkan blokade angkatan laut, menambah sanksi, dan memperkuat kehadiran militer di kawasan?" ujar Aslani dalam wawancaranya bersama Al Jazeera.
Jalur kedua, menurut Aslani, adalah tekanan dan ancaman. Ia mencermati bahwa eskalasi ini terjadi menjelang berakhirnya tenggat waktu dua perjanjian gencatan senjata—yakni antara AS-Iran serta Israel-Lebanon.