- Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.326 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 29 April 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh faktor domestik terkait kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal dan cadangan devisa negara.
- Sentimen negatif diperparah oleh tren kenaikan harga minyak dunia serta antisipasi pengumuman suku bunga The Fed.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang kembali merangkak naik. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang sulit turun.
![Ilustrasi inflasi. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/04/03/77497-ilustrasi-inflasi-ist.jpg)
Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pengumuman hasil rapat FOMC (Federal Open Market Committee) nanti malam.
Meskipun bank sentral AS, The Fed, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, pernyataan sang Ketua, Jerome Powell, diprediksi akan tetap bernada keras (hawkish).
"Kepala The Fed diperkirakan akan memberikan pernyataan hawkish merespons kenaikan tinggi harga minyak mentah dunia. Secara umum, rupiah masih tertekan kecuali ada perkembangan positif seputar konflik di Timur Tengah dan retorika yang lebih melunak (less hawkish) dari The Fed," jelas Lukman.
Prediksi pergerakan rupiah berdasarkan analisis teknikal dan fundamental saat ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tren konsolidasi dengan kecenderungan melemah.
Untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diprediksi akan bergerak dalam rentang harga yang cukup lebar.
"Range pergerakan rupiah diperkirakan berada di level Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS," pungkasnya.