- Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.529 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 meningkatkan beban biaya impor energi nasional.
- Ketergantungan impor minyak di atas 50 persen menyebabkan beban keuangan negara dan badan usaha membengkak akibat kurs.
- Kenaikan harga minyak dunia dan rupiah memicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh badan usaha mengikuti mekanisme pasar domestik.
Ia juga memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung hingga akhir tahun, sehingga potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi masih terbuka lebar.
![Nilai tukar rupiah menguat 0,30 persen ke level Rp17.475 terhadap dolar AS pada penutupan Rabu sore, 13 Mei 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/70066-nilai-tukar-rupiah.jpg)
Hamid menambahkan, jika badan usaha tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi di tengah kenaikan biaya impor, maka kondisi keuangan perusahaan bisa tertekan cukup berat.
“Sangat berat bagi Pertamina untuk melakukan pengadaan melalui impor dengan nilai dolar AS yang sudah sangat tinggi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai masyarakat kini semakin memahami mekanisme penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mengikuti kondisi pasar global.
“Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. Kalau naik harga bahan bakunya, BBM-nya juga naik,” kata Hamid.