Insiden Kanker Paru Meningkat 10 Kali Lipat

Vania Rossa, Firsta Nodia

Minggu, 11 November 2018 | 06:16 WIB
Insiden Kanker Paru Meningkat 10 Kali Lipat
Paru-paru. (Shutterstock)

Suara.com - Kanker paru merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi di dunia di antara seluruh kanker. Satu dari lima kematian seluruh kanker disebabkan oleh kanker paru. Setidaknya, ada 1,7 juta orang meninggal setiap tahunnya karena kanker paru.

Disampaikan Dokter spesialis paru (konsultan), Elisna Syahruddin, Ph.D, dari Departemen Pulmonologi dan Respiratori FKUI/RSUP Persahabatan di Indonesia, kanker paru juga merupakan jenis kanker dengan insiden tertinggi pada lelaki di Indonesia. Meski demikian, sekitar 11,2 persen kasus kanker paru juga dialami oleh kaum hawa.

"Di RSUP Persahabatan sebagai Pusat Rujukan Respirasi Nasional, termasuk pusat rujukan kanker paru, angka kunjungan pasien kanker paru meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu," ujar dr. Elisna dalam temu media di Rumah PDPI, Jumat (9/11/2018).

Lebih lanjut Elisna menambahkan, faktor risiko terbesar terjadinya kanker paru adalah pajanan asap rokok. Namun ada pula faktor risiko lain seperti tinggal atau bekerja di pabrik dengan paparan karsinogen yang tinggi, terpapar polusi, radon, dan memiliki riwayat penyakit paru fibrosis. Tentu saja pencegahan kanker paru kata dr Elisna bisa dilakukan dengan menghindari faktor risikonya.

Ia menambahkan, gejala kanker paru sendiri cenderung tidak khas seperti batuk yang bisa juga menyerupai penyakit lainnya. Namun Elisna memeringatkan masyarakat yang batuk tak kunjung sembuh hingga dua minggu untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

"Batuk lebih dari dua minggu waspada paru. Sesak napas juga bisa karena cairan memenuhi paru-paru. Biasanya kalau sel kanker masih 1 cm tidak ada gejala. Dari sel kanker sampai terdeteksi minimal butuh waktu 10 tahun," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), mengimbau pemerintah untuk peduli kanker paru, melalui sistem perundangan pengurangan pajanan tembakau, upaya pengurangan polusi udara dan industri, serta upaya perlindungan pekerja yang terpapar karsinogen.

"Lebih dari 80 persen pasien kanker paru datang setetah stadium lanjut. Ini karena mereka baru merasakan gejalanya. Jadi harapan hidupnya sudah kecil ketika stadium lanjut. Ini yang kita dorong agar pencegahan faktor risiko bisa dilakukan," tambah dr Agus.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), kata dr. Agus, mengapresiasi pemerintah melalui pembiayaan sistem jaminan kesehatan nasional dalam diagnosis dan terapi kanker paru. Ia mengimbau keberlanjutan serta ketersediaan fasiIitas tersebut baik di layanan primer maupun rujukan.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ini 9 Khasiat Makan Kuaci yang Tak Banyak Diketahui

Ini 9 Khasiat Makan Kuaci yang Tak Banyak Diketahui

Health | Minggu, 11 November 2018 | 04:45 WIB

Obesitas, Rabun, Hingga Kanker Intai Anak-Anak Pengguna Gadget

Obesitas, Rabun, Hingga Kanker Intai Anak-Anak Pengguna Gadget

Health | Jum'at, 09 November 2018 | 07:00 WIB

Angka Kematian Akibat Kanker Kulit Meningkat pada Lelaki

Angka Kematian Akibat Kanker Kulit Meningkat pada Lelaki

Health | Kamis, 08 November 2018 | 18:55 WIB

Terkini

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

×