Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker, Ini Penjelasan Ahli

Vika Widiastuti
Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker, Ini Penjelasan Ahli
Ilustrasi diabetes. (Shutterstock)

Kanker-kanker tersebut termasuk kanker ovarium, payudara, ginjal dan lainnya.

Suara.com - Penyakit diabetes bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti masalah jantung hingga stroke. Bahkan baru-baru ini, para peneliti telah mengidentifikasi alasan mengapa diabetes tipe 1 dan 2 bisa meningkatkan risiko kanker.

Seperti yang dilansir dari thehealthsite, studi ini dipresentasikan dalam American Chemical Society Fall 2019 National Meeting. Dalam pertemuan tersebut dikatakan bahwa, DNA lebih mungkin mengalami kerusakan saat kadar gula darah tinggi dibanding ketika kadar gula darah pada tingkat normal. Hal ini bisa meningkatkan risiko kanker.

"Sudah lama diketahui bahwa orang yang mengalami diabetes memiliki risiko 2,5 lebih besar mengalami kanker tertentu," terang John Termini, peneliti yang mempresentasikan hasil kerja pada pertemuan tersebut.

Kanker-kanker tersebut di antaranya adalah kanker ovarium, payudara, ginjal dan lainnya. Para ilmuan menduga peningkatkan risiko kanker pada pasien diabetes karena disregulasi hormon.

Baca Juga: Minum Rebusan Seledri dan Jus Lemon Setiap Hari, Bisa Obati Diabetes!

"Orang yang mengalami diabetes tipe 2, insulin mereka tidak secara efektif membawa glukosa ke dalam sel," terang Termini.

Ilustrasi tes gula darah (Foto: shutterstock)
Ilustrasi tes gula darah (Foto: shutterstock)

Hal ini menyebabkan, pankreas menghasilkan lebih banyak insulin dan membuat mereka mengalami hiperinsulinemia. Selain mengendalikan kadar glukosa dalam darah, hormon insulin juga bisa menstimulasi pertumbuhan sel, yang kemungkinan juga mengarah ke kanker.

Selain itu, kebanyakan orang yang mengalami diabetes tipe 2 kelebihan berat badan sehingga jaringan lemak berlebih bisa menghasilkan tingkat adipokin yang lebih tinggi.

Dalam penelitian ini, Termini dan rekan-rekannya mencari jenis kerusakan spesifik berbasis DNA yang dimidofikasi secara kimia, yang dikenal sebagai adducts dalam kultur jaringan dan model diabetes tikus.

Ilustrasi kromosom dan DNA. (Shutterstock)
Ilustrasi kromosom dan DNA. (Shutterstock)

Mereka menemukan, adducts DNA, yang disebut N2- (1- carboxyethyl) -2- deoxyguanosine, atau CEdG, yang terjadi lebih sering pada model diabetes daripada sel atau tikus normal.

Baca Juga: Studi : Penderita Diabetes Tipe 2 Diminta Jauhi Minum Suplemen Minyak Ikan

Para peneliti juga menentukan alasan molekuler mengapa adducts tidak diperbaiki dengan baik oleh sel. Mereka juga mengidentifikasi dua protein yang terlibat, yaitu faktor transkripsi HIF1a dan protein pensinyalan mTORC1, yang keduanya kurang menunjukkan aktivitas pada diabetes.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS