Kandungan BPA dalam Makanan Kaleng, Seberapa Berbahayakah bagi Kesehatan?

Fabiola Febrinastri

Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:59 WIB
Kandungan BPA dalam Makanan Kaleng, Seberapa Berbahayakah bagi Kesehatan?
Ilustrasi makanan kaleng. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Belakangan, banyak artikel mengulas bahaya Bisphenol A (BPA) pada pangan, khususnya pada produk air minum dalam kemasan. Namun demikian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar keamanan pangan dan pakar kimia menyatakan bahwa air bukanlah pengantar yang baik untuk meluruhan BPA pada kemasan plastik. BPA akan lebih mudah larut pada pangan mengandung lemak dan dalam suhu yang panas.

Salah satu kemasan yang mengandung BPA adalah makanan kaleng. Lapisan plastik yang mengandung BPA pada bagian dalam makanan kaleng berfungsi untuk mencegah karat.

Karena makanan kaleng banyak yang berminyak dan dipanaskan sebelum dikonsumsi, maka BPA pada pelapis plastiknya lebih mudah bercampur dengan isi makanan kaleng.

Bahaya BPA pada makanan kaleng ini dijelaskan pernah dijelaskan oleh Prof. dr. Aru Sudono dalam seminar yang diselenggarakan YLKI beberapa waktu lalu.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Environmental Research juga menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan kaleng berhubungan dengan tingginya konsentrasi BPA dalam urin. Semakin banyak mengonsumsi makanan kaleng, maka semakin tinggi juga kadar BPA yang ditemukan dalam urin.

Dr. Karin Wiradarma, M. Gizi dari KlikDokter mengingatkan kembali bahwa makanan yang dikemas dalam kaleng biasanya ditambahkan garam dan gula sebagai penyedap rasa. Garam, gula, dan pengawet dalam makanan kaleng memang dalam batasan yang wajar, namun menurutnya, garam dan gula tambahan dalam makanan kaleng bisa meningkatkan risiko-risiko penyakit, seperti tekanan darah tinggi.

“Penambahan gula dalam makanan kaleng mempunyai dampak bahaya dan menyebabkan risiko terkena penyakit gula atau diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit jantung. Apabila sudah menderita kedua penyakit tersebut, sebaiknya hindari makanan kaleng agar tidak semakin parah,” ujarnya, Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Sementara itu, Dr. Melyarna Putri, M.Gizi yang juga dari KlikDokter, juga menyarankan tidak boleh sering-sering mengonsumsi makanan kaleng dalam jumlah yang terlalu banyak.

“Meski kandungan nutrisinya sama dengan makanan segar, tapi makanan kaleng ditambahkan bahan kimia selama proses pengemasan. Bahan kimia yang digunakan dalam pengemasan, salah satunya adalah BPA, yang digunakan untuk menghalau karat dari kaleng. Bahan kimia ini tidak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika mengonsumsi terlalu banyak makanan kaleng dapat, maka meningkatkan risiko diabetes akibat paparan BPA dari kemasan kalengnya.

“Terlalu banyak terpapar BPA dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme tubuh dan mengurangi sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah akan terus naik,” kata Melyarna.

Makanan kaleng biasanya dapat bertahan lama, karena mengandung bahan pengawet makanan. Bahan pengawet dapat mendorong pertumbuhan sel kanker.

Selain dapat menyebabkan tumbuhnya sel kanker pada tubuh, bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan makanan kaleng juga dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem pencernaan, misalnya menimbulkan pengedapan dalam usus, dan pada akhirnya dapat menyebabkan masalah pada sistem pencernaan, seperti diare dan sakit perut.

Makanan kaleng yang dibiarkan dalam jangka waktu lama juga dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri yang disebut clostridium. Hal ini dapat menyebabkan keracunan, yang biasanya ditandai dengan munculnya gejala seperti pusing dan mual-mual.

Ada juga banyak jenis makanan kaleng yang memiliki tambahan pemanis buatan yang cukup signifikan, misalnya buah kalengan. Pemanis buatan yang digunakan pada makanan kalengan biasanya sulit untuk dicerna oleh tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan gangguan pada ginjal dan saluran kemih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kertas Thermal Struk Belanja Bisa Picu Penyakit Bahaya, Begini Cara Pencegahannya

Kertas Thermal Struk Belanja Bisa Picu Penyakit Bahaya, Begini Cara Pencegahannya

Health | Selasa, 12 Oktober 2021 | 13:57 WIB

Adakah Perbedaan Antara Air Minum Biasa dengan Air Oksigen? Ini Faktanya!

Adakah Perbedaan Antara Air Minum Biasa dengan Air Oksigen? Ini Faktanya!

Your Say | Sabtu, 07 Agustus 2021 | 07:28 WIB

Tambahkan 5 Bahan Alami Ini dalam Air Minum dan Rasakan Efeknya!

Tambahkan 5 Bahan Alami Ini dalam Air Minum dan Rasakan Efeknya!

Health | Kamis, 06 Mei 2021 | 20:32 WIB

Jangan Keseringan! Ini 4 Makanan Kaleng Paling Buruk untuk Dikonsumsi

Jangan Keseringan! Ini 4 Makanan Kaleng Paling Buruk untuk Dikonsumsi

Health | Senin, 22 Juni 2020 | 18:42 WIB

Cara Aman Mengonsumsi Makanan Kaleng, Lakukan 4 Hal Ini

Cara Aman Mengonsumsi Makanan Kaleng, Lakukan 4 Hal Ini

Health | Rabu, 27 Mei 2020 | 07:47 WIB

Tips Pilih Makanan Kaleng : Jangan Dimakan Jika Bentuk Dagingnya Hancur

Tips Pilih Makanan Kaleng : Jangan Dimakan Jika Bentuk Dagingnya Hancur

Lifestyle | Minggu, 15 September 2019 | 10:05 WIB

Terkini

2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit

2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05 WIB

Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia

Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 07:59 WIB

Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat

Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat

Health | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:57 WIB

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Health | Senin, 01 Juni 2026 | 14:13 WIB

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB