CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Kamis, 09 April 2026 | 10:55 WIB
CELIOS: Ambisi Biofuel Bisa Korbankan Kedaulatan Pangan di Papua
Ilustrasi lahan sebelum dan sesudah dibuka proyek food estate (Freepik)

Suara.com - Pemerintah berencana untuk mempercepat pengembangan bahan bakar fosil berbasis nabati (biofuel). Namun, rencana ini kini menuai sorotan publik. Laporan terbaru dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa kebijakan ini bukan hanya berpotensi membebani keuangan negara, melainkan juga memicu tekanan terhadap lahan, hutan, fiskal hingga ketahanan pangan.

Dalam riset bertajuk “Why Food Estates Are Not the Answer for Food and Energy Security” yang diluncurkan pada Selasa (7/4/2026), para peneliti menyoroti rencana ini justru berpotensi menciptakan benturan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan bahan bakar dengan kedaulatan pangan, khususnya bagi masyarakat adat di Papua.

Risiko "Food vs Energy"

Laporan CELIOS menekankan bahwa kebijakan biofuel sangat sensitif terhadap inflasi pangan karena menggunakan bahan baku yang sama dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Biodiesel di Indonesia bergantung pada minyak sawit, sementara bioetanol direncanakan menggunakan tebu.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa pengalihan pasokan sawit untuk kebutuhan energi dapat memicu kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri, seperti krisis yang pernah terjadi di tahun 2022 akibat kelangkaan bahan baku.

"Subsidi dan pasokan bahan baku bisa bergeser dari minyak goreng ke perusahaan biodiesel," ujarnya.

Selain itu, potensi kehilangan ekspor pun turut menghantui.

Di sisi lain, ambisi bioetanol berbasis tebu dinilai kontradiktif dengan kondisi nasional. Peneliti dari Auriga Nusantara, Sesilia Maharani Putri juga memastikan adanya tekanan lahan.

Bahan baku bioetanol seperti tebu membutuhkan lahan yang luas, sementara Indonesia sendiri bukan produsen utama tebu dan bahkan masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan gula domestik. Jika perluasan lahan tebu lebih diarahkan untuk energi dibandingkan konsumsi, dikhawatirkan akan memperparah ketergantungan impor pangan tersebut.

Ekspansi Lahan dan Dampak Ekosistem di Merauke

Proyek food estate di Papua Selatan, yang menjadi bagian dari rantai pasok biofuel ini, memiliki skala sangat besar, mencapai hampir lima kali lipat dari luas budidaya tebu nasional yang ada saat ini. Berdasarkan catatan Auriga Nusantara, dampak ekspansi ini sudah mulai terlihat nyata.

Sesilia mengungkapkan bahwa deforestasi di Merauke pada tahun 2025 telah mencapai sekitar 9.000 hektare. Pembukaan lahan skala masif ini tidak hanya merusak ekosistem hutan alami, tetapi juga berisiko meningkatkan status Indonesia menjadi negara "berisiko tinggi" dalam regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR). Jika hal ini terjadi, komoditas ekspor lain seperti kelapa sawit, kayu, kopi, kakao, karet, kedelai, dan ternak akan terkena audit ketat yang berdampak pada daya saing ekonomi nasional.

Benturan Model Top-Down dengan Masyarakat Adat Papua

Selain isu lingkungan, laporan ini juga mengamati dampak sosial yang bisa merugikan masyarakat adat di Papua Selatan. Bagi masyarakat adat, hutan merupakan "supermarket alami" yang menyediakan sumber pangan berkelanjutan. Pengalihan hutan menjadi lahan dengan satu jenis tanaman yang sama, seperti tebu atau sawit dianggap dapat mencabut kedaulatan pangan lokal masyarakat adat.

Bhima menekankan bahwa untuk menjawab ketahanan pangan yang sesungguhnya, pemerintah seharusnya mendorong keterlibatan langsung masyarakat adat melalui model restoratif, bukan dengan model ketahanan pangan yang bersifat semu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Hanya Listrik, Energi Panas Bumi Bisa untuk Ketahanan Pangan

Tak Hanya Listrik, Energi Panas Bumi Bisa untuk Ketahanan Pangan

Bisnis | Kamis, 09 April 2026 | 07:31 WIB

CELIOS Ungkap Biofuel Tak Hanya Mahal, Tapi Berisiko bagi Fiskal Negara: Mengapa?

CELIOS Ungkap Biofuel Tak Hanya Mahal, Tapi Berisiko bagi Fiskal Negara: Mengapa?

News | Rabu, 08 April 2026 | 18:10 WIB

Konflik Timur Tengah Berpotensi Picu Krisis Pupuk, Ketahanan Pangan Terancam?

Konflik Timur Tengah Berpotensi Picu Krisis Pupuk, Ketahanan Pangan Terancam?

News | Senin, 06 April 2026 | 15:58 WIB

Terkini

Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus ''Neraka' Atmosfer Bumi

Misi Artemis II Hadapi Ujian Mematikan: Detik-Detik Menembus ''Neraka' Atmosfer Bumi

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:56 WIB

Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut

Iran Bocorkan Rute Alternatif Selat Hormuz Anti Ranjau Laut

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:52 WIB

Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci

Sadis! Dokter di Hawaii Dorong Istri dari Tebing, Kesaksian Anak Jadi Kunci

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:46 WIB

Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?

Selat Hormuz vs Malaka: Mana yang Lebih Penting untuk Ekonomi Dunia?

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:45 WIB

Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan

Program Vokasi Nasional 2026 Resmi Bergulir, 10 Ribu Peserta Tahap I Mulai Pelatihan

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:43 WIB

Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO

Donald Trump Pertimbangkan Amerika Serikat Keluar dari NATO

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:39 WIB

Update Kondisi Medis Andrie Yunus, RSCM: Mata Bakal Ditutup 6 Bulan Demi Pemulihan Intensif

Update Kondisi Medis Andrie Yunus, RSCM: Mata Bakal Ditutup 6 Bulan Demi Pemulihan Intensif

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:34 WIB

Trump Sebut China Jadi Sosok Penting di Balik Keputusan Iran Setuju Gencatan Senjata

Trump Sebut China Jadi Sosok Penting di Balik Keputusan Iran Setuju Gencatan Senjata

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:32 WIB

Galian PAM Jaya di Condet Jadi Biang Kerok Kecelakaan! Dirut Janji Percepat Pengerjaan Usai Viral

Galian PAM Jaya di Condet Jadi Biang Kerok Kecelakaan! Dirut Janji Percepat Pengerjaan Usai Viral

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:23 WIB

Apa Itu Amandemen ke-25? Didorong untuk Lengserkan Trump Pasca Kekalahan AS dari Iran

Apa Itu Amandemen ke-25? Didorong untuk Lengserkan Trump Pasca Kekalahan AS dari Iran

News | Kamis, 09 April 2026 | 10:21 WIB