- Ira Puspita Rahayu resmi menjadi pramudi Transjakarta sejak 2024 setelah menempuh seleksi ketat dan pelatihan profesional.
- Ira menjalankan rute Kampung Rambutan–Ciputat dengan tanggung jawab besar menjaga keselamatan ratusan penumpang setiap harinya.
- Mantan perawat ini berhasil melawan stigma negatif perempuan pengemudi bus melalui kesabaran serta dedikasi tinggi bekerja.
Sebab di balik kemudi, keterampilan saja tidak cukup. Ketahanan adalah kunci.
“Ada ratusan nyawa yang harus kita jaga,” katanya.

Dari Perawat ke Pengemudi Bus
Yang menarik, Ira tidak berasal dari dunia transportasi. Ia adalah lulusan D3 Keperawatan dan sempat bekerja sebagai perawat K3 di sebuah perusahaan.
Sebelumnya, ia juga pernah menjadi kasir bank dan guru taman kanak-kanak.
Hingga suatu hari, ia melihat sosok yang mengubah arah hidupnya: seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pengemudi bus.
“Sepertinya saya harus bisa seperti beliau,” kenangnya.
Keputusan itu tidak mudah. Ia harus meninggalkan jalur pendidikan yang telah ia tempuh. Orang tuanya pun sempat menolak karena khawatir dengan risiko pekerjaan di jalanan.
Namun Ira memilih membuktikan lewat tindakan.
Seiring waktu, dukungan justru datang dari keluarga kecilnya. Suami dan anak-anaknya menjadi penyemangat terbesar.
“Mereka bangga dan sangat mendukung saya,” ujarnya.
Hidup dalam Dua Peran
Menjadi pramudi berarti hidup dengan ritme berbeda. Ira memulai hari saat sebagian besar orang masih terlelap.
Bus mulai beroperasi pukul 5 pagi, dan ia menyelesaikan shift sekitar pukul 1 siang.
Setelah itu, perannya berganti. Ia kembali menjadi ibu bagi tiga anaknya.