'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 23 April 2026 | 22:05 WIB
'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran
Sebuah kapal kontainer kandas di terusan Suez.[Instagram]
baca 10 detik
  • Blokade Selat Hormuz memicu krisis energi dunia yang lebih parah dibanding pandemi.

  • Perusahaan global beralih dari strategi efisiensi ke penumpukan stok barang demi keamanan.

  • Relokasi pabrik ke wilayah stabil menjadi solusi utama menghindari titik rawan konflik.

Suara.com - Blokade Selat Hormuz oleh Iran kini memicu kekhawatiran besar terkait potensi kehancuran fondasi perdagangan dunia yang lebih dalam dibandingkan era pandemi COVID-19.

Krisis ini memaksa pelaku industri global untuk merombak total strategi operasional mereka guna menghadapi guncangan geopolitik yang terus berulang.

Dikutip dari DW, berbeda dengan COVID-19 yang melumpuhkan pusat manufaktur, konflik ini menghantam langsung jantung distribusi energi dan bahan baku mentah.

Ilustrasi virus (pixabay)
Ilustrasi virus (pixabay)

Dampaknya terasa sangat akut pada sektor komoditas strategis seperti minyak bumi, gas alam, hingga bahan baku pupuk pertanian.

Ketidakpastian ini menandai berakhirnya era ketergantungan pada satu jalur transportasi laut yang sangat rentan terhadap konflik bersenjata.

Data menunjukkan bahwa dunia kehilangan sekitar 10 persen pasokan minyak dan seperlima gas alam cair hanya dalam satu bulan terakhir.

Ilustrasi lokasi Laut Merah dan Selat Hormuz (Gemini AI)
Ilustrasi lokasi Laut Merah dan Selat Hormuz (Gemini AI)

Kondisi ini disebut sebagai gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi global oleh International Energy Agency (IEA).

Pakar rantai pasok menilai situasi ini berbeda secara fundamental dengan guncangan permintaan yang terjadi pada masa pandemi sebelumnya.

"COVID memaparkan ketergantungan berlebihan pada pusat manufaktur, sementara Hormuz memaparkan ketergantungan berlebihan pada koridor transportasi dan masukan energi," kata analis rantai pasok Sebastian Janssen kepada DW.

baca juga

Stabilitas harga energi yang terjaga selama pandemi kini justru menjadi titik terlemah yang mengancam inflasi global.

Transformasi Strategi Manajemen Risiko

Perusahaan kini tidak lagi melihat gangguan pasokan sebagai peristiwa tunggal, melainkan risiko sistemik yang bersifat permanen.

"COVID membuat perusahaan sampai pada titik di mana mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan pasokan datang saat mereka membutuhkannya," ujar Lisa Anderson kepada DW.

"Perang Iran menunjukkan bahwa itu bukanlah peristiwa sekali jadi," lanjut Anderson menekankan pentingnya perubahan cara pandang risiko.

Kenaikan biaya asuransi perang yang mencapai jutaan dolar per transit telah mengerek harga barang jadi di tingkat konsumen.

Kapal-kapal tanker terpaksa melakukan perjalanan jauh memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan demi keamanan kargo.

Dampak nyata dari kelangkaan energi ini diprediksi baru akan muncul sepenuhnya dalam beberapa bulan ke depan saat stok menipis.

"Dampak dari kelangkaan ini masih merambat melalui rantai pasok multitier perusahaan ... dan akan memakan waktu berbulan-bulan bagi efek penuhnya untuk muncul dan bagi rantai pasok untuk stabil setelah Selat dibuka sepenuhnya," Janssen menunjukkan.

Survei terhadap 6.000 perusahaan menunjukkan mayoritas pelaku usaha khawatir terhadap keberlanjutan produksi mereka akibat lonjakan biaya komoditas.

Fenomena reshoring atau pemindahan pabrik ke wilayah yang lebih dekat dengan konsumen kini menjadi tren utama, terutama di Eropa.

"Salah satu cara untuk menghindari titik sumbat utama adalah dengan mendekatkan manufaktur ke tempat pelanggan berada," kata Anderson kepada DW.

Perubahan Permanen Pola Dagang

Strategi produksi "just-in-time" yang mengutamakan efisiensi kini mulai digantikan oleh pendekatan "just-in-case" yang mengandalkan cadangan stok.

Indeks Volatilitas Rantai Pasok Global mencatat bahwa penumpukan stok pengamanan saat ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Banyak perusahaan mulai menerapkan skema diversifikasi dengan menambah negara mitra baru di luar China untuk meminimalisir risiko.

Negara-negara seperti Indonesia, India, dan Vietnam menjadi target utama relokasi rantai pasok di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.

Vulnerability saat ini bukan lagi soal ketergantungan semata, melainkan tentang ketangguhan sistem yang saling terhubung secara global.

Konflik di Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah upaya dunia pulih dari disrupsi logistik pasca-pandemi dan kebijakan tarif dagang.

Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang jika terganggu akan langsung memicu krisis biaya hidup secara global akibat kenaikan harga bahan bakar dan logistik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Detik-detik Pasukan Iran Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Gedung Putih Sebut Perompak

Detik-detik Pasukan Iran Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Gedung Putih Sebut Perompak

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:04 WIB

Iran Menang Banyak! Tol Selat Hormuz Resmi Hasilkan Cuan di Tengah Kepungan AS-Israel

Iran Menang Banyak! Tol Selat Hormuz Resmi Hasilkan Cuan di Tengah Kepungan AS-Israel

News | Kamis, 23 April 2026 | 17:00 WIB

Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?

Rupiah Tembus Rp17.310, Sinyal Bahaya Ekonomi Lebih Buruk dari Krisis 1998?

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 16:52 WIB

Terkini

Hasil Pemeriksaan Masih Berjalan, Jenazah di Enggano Belum Teridentifikasi Jurnalis Hilang

Hasil Pemeriksaan Masih Berjalan, Jenazah di Enggano Belum Teridentifikasi Jurnalis Hilang

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:44 WIB

Pit Stop Tahap II 2026 Rampung, Kilang Plaju Perkuat Keandalan dan Ekonomi Lokal

Pit Stop Tahap II 2026 Rampung, Kilang Plaju Perkuat Keandalan dan Ekonomi Lokal

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 20:42 WIB

Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?

Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 20:40 WIB

Cara Gampang Dapat Saldo Gratis Rp50.000 dari BRI, Langsung Bulan Ini

Cara Gampang Dapat Saldo Gratis Rp50.000 dari BRI, Langsung Bulan Ini

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 20:39 WIB

Pemerintah Tetapkan Libur Nasional 2027 18 hari, Cuti Bersama 8 Hari

Pemerintah Tetapkan Libur Nasional 2027 18 hari, Cuti Bersama 8 Hari

Video | Selasa, 15 September 2026 | 20:35 WIB

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:22 WIB

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Banten | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

×