- Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Muktamar Ke-35 pada 1–5 Agustus 2026 untuk menentukan arah masa depan organisasi.
- Pemilihan Rais Aam dilakukan melalui mekanisme AHWA dengan melibatkan sembilan ulama sepuh untuk menjaga marwah kepemimpinan.
- Calon Rais Aam wajib memenuhi standar integritas, kedalaman ilmu agama, serta keteladanan merujuk pada tiga pendiri utama NU.
Ketiga, KH Bisri Syansuri (Rais Aam 1972-1980) yang dikenal sebagai ahli fiqh ketat namun progresif dalam isu pendidikan perempuan dan keluarga berencana.
Dari ketiga tokoh tersebut, muncul empat patokan utama bagi calon Rais Aam masa depan:
- Kedalaman ilmu agama dengan sanad yang jelas.
- Memiliki karya nyata (kitab, pesantren, atau fatwa).
- Kiprah yang melampaui kepentingan pribadi dan kelompok.
- Keteladanan dalam sikap wara’ (menjaga diri dari syubhat) dan zuhud.
Mekanisme AHWA dan Isyarat dari Ploso
Untuk menjaga marwah jabatan ini dari tarikan politik praktis, NU menerapkan sistem Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA).
Dalam sistem ini, Rais Aam dipilih melalui musyawarah mufakat sembilan ulama sepuh yang memiliki integritas moral tinggi.
Gus Lilur membeberkan, menjelang Muktamar Ke-35, pertemuan para masyayikh di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, telah memunculkan sembilan nama ulama yang diproyeksikan sebagai anggota AHWA.
Nama-nama ini dianggap merepresentasikan kekuatan intelektual dan spiritual NU saat ini:
- KH Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri) – Rujukan ruhani pesantren Jawa Timur.
- KH Abdullah Kafabihi Mahrus (Lirboyo, Kediri) – Penjaga sanad keilmuan fiqh.
- KH Ahmad Mustofa Bisri/Gus Mus (Rembang) – Penjaga nurani dan teladan ketawadhuan.
- KH Ma'ruf Amin (Banten) – Ahli fiqh ekonomi syariah dan penjaga memori kelembagaan.
- KH Said Aqil Siroj (Jakarta) – Pakar akidah-tasawuf dan rujukan pemikiran kontemporer.
- Tgk H Nuruzzahri Yahya/Waled Nu (Aceh) – Ulama kharismatik dengan khidmah sosial nyata.
- KH Ali Kholil (Balikpapan) – Cicit Syaichona Kholil Bangkalan, penyambung sanad mahaguru NU.
- TGH Turmudzi Badruddin (Lombok) – Ulama sepuh lintas muktamar dari Nusa Tenggara.
- KH Asep Saifuddin Chalim (Mojokerto) – Putra pendiri NU dengan karya besar di bidang pendidikan.
Komposisi itu menunjukkan sebaran geografis dan spesialisasi keilmuan yang luas, mulai dari penjaga sanad klasik hingga penggerak pendidikan modern.
Kehadiran tokoh-tokoh ini diharapkan mampu memastikan bahwa Rais Aam yang terpilih nantinya adalah sosok yang benar-benar "selesai dengan dunia" dan mampu mengimami puluhan juta warga Nahdliyin.
Kursi yang Menghadap Kiblat Sejarah
Posisi Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural dalam organisasi, melainkan sebuah imamah atau kepemimpinan keagamaan.
Kursi ini memikul beban sejarah besar untuk tetap setia pada garis perjuangan para muassis (pendiri) sekaligus menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Muktamar Ke-35 di tahun 2026 akan menjadi ujian bagi para muktamirin untuk meletakkan kepentingan jam'iyyah di atas segalanya.
Dengan mengukur setiap kandidat melalui patokan tiga pendiri, NU diharapkan mampu memasuki abad keduanya dengan nakhoda yang memiliki kedalaman ilmu, karya nyata, dan keteladanan yang tak tergoyahkan.
Sejarah NU telah menetapkan bahwa untuk "menjadi Rais Aam, integritas dan otoritas keulamaan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar," tambahnya.