- Puluhan pengemudi ojek online di Yogyakarta rutin mengikuti Majelis Ojol Mengaji setiap Rabu pagi untuk belajar membaca Al-Qur'an.
- Kegiatan ini diselenggarakan secara gratis guna memfasilitasi pengemudi yang ingin mendalami ilmu agama tanpa merasa sungkan atau minder.
- Peserta sengaja mematikan aplikasi ojek online selama dua jam agar dapat fokus mengikuti pembelajaran di lokasi yang disediakan.
Suara.com - Di sela kesibukan mengejar orderan, puluhan pengemudi ojek online (ojol) di Yogyakarta rutin mematikan aplikasi mereka setiap Rabu pagi.
Selama sekitar dua jam, mereka tidak mengejar penumpang ataupun pesanan makanan. Mereka berkumpul untuk meluangkan waktu belajar membaca Al-Qur'an dalam kegiatan Majelis Ojol Mengaji (Momen).
Bagi Edi Sutanto (47), seorang pengemudi Gojek asal Umbulharjo, meluangkan waktu setiap Rabu pagi selama hampir tiga tahun terakhir merupakan keputusan besar yang mengubah hidupnya.
Pasalnya, sebelum bergabung dengan majelis ini, ia mengaku kesulitan mencari tempat belajar agama yang nyaman karena usianya sudah tidak lagi muda.
"Alhamdulillah setelah bergabung di sini kita ketemu teman-teman yang luar biasa, yang tadinya cuma saling sapa di jalan, alhamdulillah sekarang bisa gabung ngaji bareng," kata Edi saat ditemui di sela kegiatan, Rabu (15/7/2026).
Edi menceritakan, motivasi terbesarnya mengikuti pengajian adalah kesadaran akan pentingnya bekal spiritual setelah lelah mencari nafkah di dunia.
Awalnya, ia harus memulai semuanya dari nol, melewati lembar demi lembar buku Iqra sebelum akhirnya mampu membaca Al-Qur'an dan kini telah berada di sekitar juz ketiga atau keempat.
"Ya sebetulnya karena kemarin itu ya karena keterbatasan informasi ya. Tapi niat ya setelah sharing-sharing dengan beberapa teman memang akhirat memang harus dikejar lah ya toh. Jangan sampai cuma dunia karena kita tahu akhirat itu ada kan gitu," ucapnya.
Menghapus Rasa Malu Belajar Mengaji
Edi mengaku, hal paling berharga dari kegiatan tersebut adalah hilangnya rasa minder. Selama ini ia enggan belajar mengaji di lingkungan rumah atau masjid karena merasa malu harus memulai dari Iqra ketika anak-anak justru sudah lancar membaca Al-Qur'an.
Di Momen, seluruh peserta datang dengan semangat yang sama, yakni belajar sesuai kemampuan masing-masing.
"Enggak, enggak minder (kalau di sini) banyak yang sama gitu, masih belajar," ujarnya.
Ia bahkan kini kerap mengajak rekan-rekan sesama pengemudi untuk ikut belajar. Menurutnya, suasana yang santai membuat peserta tidak merasa tertekan.
Apalagi, belajar mengaji dilakukan sambil berbincang dan menikmati kebersamaan layaknya teman yang sedang berkumpul di warung kopi.
Rela Mematikan Aplikasi
![Kegiatan Majelis Ojol Mengaji (Momen) di Rumah Qur'an IQC Bausasran, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). [Suara.com/Hiskia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/15/24024-kegiatan-majelis-ojol-mengaji.jpg)
Komitmen para peserta terlihat dari keputusan mereka menghentikan aktivitas bekerja selama kegiatan berlangsung. Edi mengatakan aplikasi ojol sengaja dimatikan agar bisa fokus mengikuti pembelajaran. Terlebih, waktu pelaksanaannya dipilih saat orderan sedang tidak terlalu ramai.
"(Aplikasi ojol) Off, dioffkan (saat ngaji)," ucapnya.
Edi mengatakan, dalam sekali pertemuan jumlah peserta yang hadir biasanya berkisar 25 hingga 30 orang. Mereka datang dari berbagai wilayah di Yogyakarta dengan latar belakang yang beragam.
Manajemen waktu menjadi kunci utama bagi para pejuang jalanan ini agar urusan dapur tetap ngebul sekaligus target mengaji tetap tercapai. Hari Rabu dipilih bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan kesepakatan bersama mengenai dinamika naik turunnya pesanan di aplikasi.
PIC Majelis Ojol Mengaji, Sugiarto (40), menjelaskan bahwa pemilihan hari dan jam pengajian disesuaikan dengan pola kerja para pengemudi ojol agar mereka dapat hadir tanpa merasa terbebani kehilangan pendapatan harian.
"Ini kita milih hari Rabu jam 9 sampai 11 juga itu rekomendasi dari rekan-rekan ojol karena biasanya hari Rabu dan dalam rentang jam 9 sampai 11 itu orderan tidak terlalu ramai. Jadi, teman-teman bisa lebih mudah untuk meluangkan waktu kumpul di sini," kata Sugiarto.
Berawal dari Kegelisahan Para Driver
Sugiarto menceritakan, kegiatan tersebut memang dirancang untuk menjawab kegelisahan para pengemudi ojol yang ingin belajar mengaji, tetapi merasa sungkan jika harus belajar bersama anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
"Jadi, kita melihat kegelisahan rekan-rekan ojol biasanya kalau pengen belajar mengaji tapi kalau di rumahnya mungkin di masjid atau di lingkungannya itu agak sungkan," ucapnya.
Majelis yang akan memasuki usia tiga tahun pada Agustus mendatang itu kini memiliki 125 anggota terdaftar. Peserta yang rutin hadir berkisar 20 hingga 30 orang, dengan rentang usia mulai 27 hingga 72 tahun.
Kemampuan membaca mereka pun beragam. Sebagian besar memulai dari Iqra sebelum beranjak ke Al-Qur'an sesuai hasil penilaian ustaz pendamping.
Sugiarto menuturkan seluruh kegiatan diselenggarakan secara gratis di bawah naungan Mualaf Quran Center. Peserta tidak dipungut biaya. Bahkan, perlengkapan belajar seperti Iqra dan Al-Qur'an telah disediakan.
Setelah Ramadan, kegiatan juga diperluas melalui kolaborasi dengan Yayasan Rumpun Nurani dan Masjid Munzalan Mubarokan. Dengan demikian, kini tersedia tiga lokasi belajar setiap pekan agar lebih mudah dijangkau para pengemudi maupun masyarakat umum yang ingin belajar mengaji.
"Ini juga sedang kita kembangkan lagi untuk yang di satu titik di utara itu kita juga mulai meng-open untuk rekan-rekan ojol yang perempuan yang ingin belajar ngaji dan sebenarnya ini kita sudah mulai mensosialisasikan bahwa ini tidak khusus untuk ojol," ujarnya.