Suara.com - Bank Pembangunan Asia (ADB) menilai, usaha kecil dan menengah adalah tulang punggung perekonomian di Asia. Tetapi, UKM memerlukan akses yang lebih baik lagi untuk tumbuh sehingga bisa menciptakan lebih banyak lagi peluang kerja. Hal itu diungkapkan dalam laporan yang dikeluarkan Bank Pembangunan Asia.
“Sebagian besar UKM di Asia mengalami kesulitan untuk meraih pembiayaan. UKM memerlukan opsi lain yaitu pembiayaan non bank termasuk pasar modal apabila mereka sadar dengan potensi yang mereka miliki,” kata Noritaka akamatsu, Wakil Kepala ADB, dalam siaran pers yang diterima suara.com, Jumat (4/4/2014).
Menurut ADB, Usaha Kecil dan Menengah mampu menyediakan 66 persen lapangan pekerjaan di Asia. Namun, UKM hanya mewakili 38 persen dari Produk Domestik Bruto. Ini mengindikasikan, pemerintahan di Asia bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara mengembangkan UKM.
Selama ini, UKM kesulitan untuk memperoleh pembiayaan agar bisa tumbuh. Mereka sering kalah dari perusahaan besar dalam mengajukan kredit ke bank. Krisis global pada 2008-09 membuat bank memotong alokasi kredit untuk sektor UKM. Laporan Bank Pembangunan Asia itu juga memberi contoh Cina yang UKM nya mampu memberikan kontribusi 50 persen terhadap penerimaan pajak, 60 persen dari Produk Domestik Bruto dan 80 persen pekerjaan.
Selain itu, UKM di Cina juga mempunyai alternatif pendanaan melalui pasar modal, instrument obligasi UKM dan juga perusahaan mikro kredit. ADB menilai, perlu studi yang lebih jauh lagi untuk memberikan alternatif pembiayaan yang lebih banyak kepada UKM selain dari sektor perbankan.