Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.409,654
LQ45 640,294
Srikehati 312,025
JII 387,404
USD/IDR 17.908

Pengamat: Hipotesa Remunerasi Sri Mulyani Sudah Patah

Adhitya Himawan

Senin, 28 November 2016 | 12:45 WIB
Pengamat: Hipotesa Remunerasi Sri Mulyani Sudah Patah
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (Antara/Moch Asim).

Sebelum remunerasi diterapkan menjadi kebijakan penggajian yang layak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka sebagai Menteri saat itu Sri Mulyani lah yang meyakinkan publik dan menjamin bahwa ke depan tidak akan terjadi lagi korupsi. Sri Mulyani lah yang saat itu menjadi Menteri Keuangan yang sangat getol mengajukan kebijakan remunerasi PNS kepada Panitia Anggaran (Panggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2004-2009 dengan mengajukan berbagai alasan dan pertimbangannya.

"Isu utamanya saat itu yang dikemukakan Sri Mulyani adalah reformasi birokrasi tetkait rendahnya kinerja birokrasi adalah karena rendahnya gaji dan adanya ketimpangan gaji pejabat struktural yang diterima PNS," kata Defiyan Cori, mantan staf non struktural bidang ekonomi Bappenas dan Ekonom Konstitusi dalam keterangan tertulis, Senin (28/11/2016).

Usul ini sebenarnya sudah diolah pada saat Sri Mulyani menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas pada Kabinet Indonesia I periode 2004-2009 (sebelum akhirnya pindah posisi menjadi Menteri Keuangan pada akhir Tahun 2005) dan menjadi polemik di internal Bappenas. Menurut Defiyan, saat itu banyak yang tidak sepakat dengan kebijakan ini dengan berbagai alasan, diantaranya menolak hipotesa Sri Mulyani itu karena remunerasi tidak berkaitan dengan reformasi birokrasi apalagi kinerjanya sebab itu bukan permasalahan utama. "Masalah utamanya adalah moral dan mentalitas birokrasi," ujar Defiyan.

Terlebih Sri Mulyani mengajukan yang pertama memperoleh kebijakan remunerasi adalah para PNS di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebagaimana senior dan pendahulunya mantan Menteri Keuangan Ali Wardhana di era pemerintahan Presiden almarhum Soeharto pada tahun 1971 juga menerapkan kebijakan remunerasi sampai 9 kali lipat gaji saat itu dengan alasan yang sama. Melalui Keppres No. 15 Tahun 1971 diatur soal bagaimana membuat tunjangan khusus bagi pegawai Departemen Keuangan Republik Indonesia. Fakta yang terjadi setelah berjalannya kebijakan remunerasi ini justru jauh panggang dari api, korupsi atau kebocoran uang negara pada periode 1971-1998 sampai 30 persen lebih dan sasaran penerimaan pajak saat itu tidak pernah menjadi perhatian serius pemerintahan.

Bahkan yang saat ini terjadi justru lebih parah, dengan remunerasi lebih baik dibanding kementerian-kementerian lain berbagai kasus suap dan korupsi justru mendera pegawai di Kementerian Keuangan, yang menjadi perhatian publik karena aksi KPK adalah kasus Gayus Tambunan serta yang terkini adalah kasubdit di Ditjen Pajak dengan inisial HS. Hipotesa yang telah dibangun oleh Sri Mulyani sebagai seorang ekonom yang memegang teguh sistem kapitalisme dan neoliberalisme akhirnya menemukan kekeliruan faktual yang fatal, alih-alih meningkatkan kinerja birokrasi dan penerimaan negara hanya menambah beban belanja pegawai dan keroposnya APBN untuk membayar utang luar negeri.

Pandangan sebagian besar pegawai Bappenas atas kebijakan remunerasi inilah yang akhirnya menemukan bukti kesalahannya sejak Sri Mulyani mengajukannya pada DPR pada bulan Agustus 2007. "Kami yang saat itu menjadi staf non struktural bidang ekonomi di Bappenas justru mengajukan usulan lain sebagai pilot project remunerasi yang lebih memungkinkan untuk tidak membebani anggaran negara dan meningkatkan kinerja birokrasi, yaitu melalui sistem kontrak dengan evaluasi kinerjanya berdasar pengalaman berbagai negara maju yang pernah kami ikuti, namun ditolak Sri Mulyani," jelas Defiyan.

Dengan melihat berbagai kasus yang terjadi di jajaran birokrasi patut bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi atas kebijakan remureasi dan bahkan mempertimbangkan untuk dicabut, apalagi menambah beban anggaran negara dan tak akan berpengaruh pada kinerja dan penyimpangan yang terjadi di lingkungan pemerintahan. "Karena akar masalahnya bukan pada tinggi dan rendahnya pendapatan, melainkan moral dan mentalitas birokrasi hal mana juga terjadi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memperoleh gaji lebih baik," tutup Defiyan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kemenkeu Targetkan SBN di APBN 2017 Mencapai Rp597 Triliun

Kemenkeu Targetkan SBN di APBN 2017 Mencapai Rp597 Triliun

Bisnis | Senin, 28 November 2016 | 06:52 WIB

Sedih Pegawainya Kena OTT, Sri Mulyani Tulis Surat Cinta

Sedih Pegawainya Kena OTT, Sri Mulyani Tulis Surat Cinta

Bisnis | Rabu, 23 November 2016 | 16:59 WIB

Sri Mulyani Imbau Masyarakat Tidak Terhasut Isu Politik

Sri Mulyani Imbau Masyarakat Tidak Terhasut Isu Politik

Bisnis | Rabu, 23 November 2016 | 16:30 WIB

Kenangan Masa Muda Sri Mulyani dengan CT di Kampus

Kenangan Masa Muda Sri Mulyani dengan CT di Kampus

News | Selasa, 22 November 2016 | 14:04 WIB

Menteri Keuangan Era SBY Akui Tax Amnesty Era Jokowi Berhasil

Menteri Keuangan Era SBY Akui Tax Amnesty Era Jokowi Berhasil

Bisnis | Rabu, 16 November 2016 | 14:56 WIB

Sri Mulyani Akui Rupiah Terkena Dampak Donald Trump

Sri Mulyani Akui Rupiah Terkena Dampak Donald Trump

Bisnis | Jum'at, 11 November 2016 | 14:43 WIB

Rupiah Turun, Ini yang Dilakukan Sri Mulyani

Rupiah Turun, Ini yang Dilakukan Sri Mulyani

Bisnis | Jum'at, 11 November 2016 | 14:07 WIB

Menkeu Nilai Mulut Trump Bisa Rusak Ekonomi Dunia

Menkeu Nilai Mulut Trump Bisa Rusak Ekonomi Dunia

Bisnis | Jum'at, 11 November 2016 | 02:09 WIB

Menkeu: Infrastruktur Memadai Bisa Pulihkan Perekonomian

Menkeu: Infrastruktur Memadai Bisa Pulihkan Perekonomian

Bisnis | Rabu, 09 November 2016 | 04:07 WIB

Ini Respon Sri Mulyani Soal Dana Repatriasi Masih Rendah

Ini Respon Sri Mulyani Soal Dana Repatriasi Masih Rendah

Bisnis | Selasa, 08 November 2016 | 16:28 WIB

Terkini

Kebakaran Hebat Landa Gedung Bapenda DKI Jakarta

Kebakaran Hebat Landa Gedung Bapenda DKI Jakarta

Foto | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:00 WIB

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:47 WIB

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:40 WIB

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:39 WIB

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri

Sumsel | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:34 WIB

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:29 WIB

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 23:05 WIB

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026

Bola | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 22:36 WIB

×