Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.610.000
Beli Rp2.480.000
IHSG 5.820,790
LQ45 573,007
Srikehati 285,023
JII 338,419
USD/IDR 17.957

Emiten Ritel Hypermart Masih Rugi Rp22,3 Miliar

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 14 Mei 2025 | 10:06 WIB
Emiten Ritel Hypermart Masih Rugi Rp22,3 Miliar
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), sang pemilik jaringan ritel Hypermart harus gigit jari karena kinerja keuangan mereka masih harus merugi di tiga bulan pertama tahun 2025.

Suara.com - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), sang pemilik jaringan ritel Hypermart harus gigit jari karena kinerja keuangan mereka masih harus merugi di tiga bulan pertama tahun 2025.

Pasalnya, laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan bahwa emiten Grup Lippo ini mencatat kerugian sebesar Rp22,3 miliar. Meskipun demikian, secercah harapan mulai terlihat karena kerugian ini menciut signifikan sebesar 25,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai minus Rp30,07 miliar. Alhasil, rugi per saham dasar tetap berkisar di angka Rp2.

Di tengah tantangan tersebut, Hypermart justru mencatatkan kinerja penjualan yang menggembirakan. Penjualan bersih perseroan melambung 6,59 persen menjadi Rp2,1 triliun, naik signifikan dari Rp1,97 triliun pada kuartal pertama 2024. Sayangnya, peningkatan penjualan ini diiringi dengan pembengkakan beban pokok penjualan menjadi Rp1,78 triliun dari sebelumnya Rp1,65 triliun. Kendati demikian, laba kotor Hypermart masih mampu mencatatkan kenaikan tipis menjadi Rp324,1 miliar dari Rp318,75 miliar.

Kabar baik lainnya datang dari upaya efisiensi yang dilakukan Hypermart. Beban penjualan berhasil ditekan menjadi Rp45,89 miliar dari Rp46,92 miliar, begitu pula dengan beban umum dan administrasi yang menyusut menjadi Rp291,19 miliar dari Rp292,92 miliar. Selain itu, pendapatan sewa juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan menjadi Rp23,51 miliar dari Rp21,34 miliar. Hasilnya, laba usaha Hypermart melonjak tajam menjadi Rp10,2 miliar, berbalik arah dari laba usaha Rp3,54 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Upaya manajemen dalam mengelola keuangan juga membuahkan hasil. Beban keuangan berhasil ditekan menjadi Rp34,26 miliar dari Rp36,73 miliar. Meskipun penghasilan keuangan hanya naik tipis menjadi Rp1,68 miliar dari Rp1,67 miliar, namun secara keseluruhan, rugi sebelum pajak Hypermart berhasil diciutkan menjadi Rp22,37 miliar dari sebelumnya Rp31,51 miliar.

Namun, catatan kurang menggembirakan terjadi pada pos pajak. Manfaat pajak penghasilan mengalami penurunan menjadi Rp1,52 miliar dari Rp2,23 miliar, sementara beban pajak final justru membengkak menjadi Rp1,46 miliar dari Rp785 juta. Alhasil, rugi periode berjalan Hypermart tercatat Rp22,31 miliar, masih lebih baik dari kerugian Rp30,07 miliar pada kuartal pertama tahun lalu.

Dari sisi neraca keuangan, Hypermart mencatatkan penurunan jumlah ekuitas menjadi Rp129,45 miliar dari Rp150,26 miliar pada akhir 2024. Defisit juga tercatat sedikit meningkat menjadi Rp2,82 triliun dari Rp2,8 triliun. Sementara itu, total liabilitas mengalami pembengkakan menjadi Rp3,64 triliun dari Rp3,41 triliun. Di sisi lain, jumlah aset Hypermart justru mengalami lonjakan signifikan menjadi Rp3,77 triliun dari Rp3,56 triliun pada akhir tahun lalu.

Hypermart adalah sebuah jaringan hipermarket di Indonesia yang dimiliki oleh PT Matahari Putra Prima Tbk. Meliputi 100 gerai (2021), Hypermart menyatakan dirinya sebagai ritel modern yang menargetkan kelas menengah yang berkembang. Hypermart menyediakan berbagai macam produk, mulai dari groseri, produk segar, bazaar, softlines dan barang-barang elektronik.

PT Matahari Putra Prima Tbk sendiri didirikan 11 Maret 1986. Perusahaan menjalankan bisnis utamanya yakni mengelola hypermarket dan jaringan supermarket yang menyediakan berbagai produk, seperti produk kebutuhan sehari-hari hingga elektronik.

baca juga

Perseroan mengoperasikan Hypermart, Primo, Foodmart, Hyfresh, Boston Health & Beauty, FMX dan SmartClub di lebih dari 150 lokasi di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia.

Tapi kemudian PT Matahari Putra Prima Tbk mendivestasi aset non-inti pada akhir 2012, untuk mempersiapkan fokus perusahaan pada bisnis ritel modern. Saat ini MPPA telah menjadi tujuan belanja dan berhasil mengoperasikan lebih dari 222 gerai di seluruh Indonesia yang didukung oleh jaringan distribusinya yang luas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aroma Pahit Industri Jamu, Laba Produsen "Tolak Angin' Ambles 40 Persen di Kuartal I 2025

Aroma Pahit Industri Jamu, Laba Produsen "Tolak Angin' Ambles 40 Persen di Kuartal I 2025

Bisnis | Selasa, 13 Mei 2025 | 13:27 WIB

Prabowo Hindari Jokowi? Istana Bantah Isu Matahari Kembar

Prabowo Hindari Jokowi? Istana Bantah Isu Matahari Kembar

News | Senin, 12 Mei 2025 | 13:47 WIB

Meski Ekonomi Dalam Tekanan, PANI Tetap Catat Prapenjualan Rp466 Miliar

Meski Ekonomi Dalam Tekanan, PANI Tetap Catat Prapenjualan Rp466 Miliar

Bisnis | Senin, 12 Mei 2025 | 09:17 WIB

Terkini

Bukan Karena Pidato Prabowo, OJK Ungkap Penyebab Saham Anjlok

Bukan Karena Pidato Prabowo, OJK Ungkap Penyebab Saham Anjlok

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:39 WIB

Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah

Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:37 WIB

Harita Nickel NCKL Tebar Dividen Rp2,7 Triliun

Harita Nickel NCKL Tebar Dividen Rp2,7 Triliun

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Daya Saing Perusahaan Kini Ditentukan Praktik Bisnis Berkelanjutan

Daya Saing Perusahaan Kini Ditentukan Praktik Bisnis Berkelanjutan

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:29 WIB

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Asosiasi Ecommerce Masih Tunggu Keputusan Tertulis soal Pajak Toko Online

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:03 WIB

Uang Pensiun Dipotong PPh 21, JHT Masih Kena Pajak? Ini Penjelasan Lengkapnya

Uang Pensiun Dipotong PPh 21, JHT Masih Kena Pajak? Ini Penjelasan Lengkapnya

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 19:01 WIB

KLH Luncurkan SRUK di 9 Juli, Garap Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon

KLH Luncurkan SRUK di 9 Juli, Garap Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:53 WIB

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Nikmati Belanja Lebih Hemat di Blibli Lewat Deretan Promo Spesial BRIDAY

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:27 WIB

Korelasi Pidato Prabowo dengan IHSG, Isu Gorengan atau Fakta?

Korelasi Pidato Prabowo dengan IHSG, Isu Gorengan atau Fakta?

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:18 WIB

CEO Talks di Universitas Andalas, Pegadaian Ajak Mahasiswa "Beli Masa Depan dengan Harga Hari Ini

CEO Talks di Universitas Andalas, Pegadaian Ajak Mahasiswa "Beli Masa Depan dengan Harga Hari Ini

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05 WIB

×