Suara.com - Merck & Co telah memulai rencana pemangkasan biaya pada tahun ini, termasuk melibatkan sekitar 6.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) atau sekitar 8 persen dari total staf globalnya.
Dilansir BioSpace, Jumat (8/8/2025), perusahaan belum memberikan detail dari segmen mana saja yang akan mengalami PHK atau apakah penutupan lokasi diperkirakan akan terjadi.
Adapun, sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi biaya tahunan sebesar 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 49 triliun pada akhir tahun 2027.
Meskipun perusahaan menyatakan bahwa PHK akan terjadi di posisi administrasi, penjualan, dan R&D. Keputusan ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran pada sisi globalnya.
Saat ini, Merck menghadapi persaingan biosimilar yang semakin ketat untuk memperebutkan antibodi kanker terlarisnya, Keytruda (pembrolizumab), mulai tahun 2028.
Sementara itu, produsen vaksin mRNA Moderna memangkas sekitar 500 karyawan (10 persen dari total tenaga kerjanya) sebagai bagian dari komitmen untuk menghemat biaya tahunan sebesar 1,5 miliar dolar AS pada tahun 2027.
![Ilustrasi perusahaan farmasi. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/08/30657-ilustrasi-perusahaan-farmasi.jpg)
CEO Stéphane Bancel mengatakan, perusahaan telah mengurangi kegiatan R&D, menegosiasikan ulang perjanjian pemasok, dan mengurangi biaya produksi, tetapi beberapa PHK tetap diperlukan.
PHK ini melanjutkan siklus pengurangan biaya di industri farmasi global. Teva mulai memangkas lebih dari 2.000 karyawan pada bulan Mei, sementara Bayer, Novartis, dan Bristol Myers Squibb melanjutkan rencana reorganisasi mereka yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, perusahaan farmasi lain juga mengalami badai PHK.
Moderna berencana memangkas karyawannya, 10 persen dari tenaga kerja globalnya pada akhir tahun.
Langkah ini diambil karena penjualan vaksin Covid terus menurun dan perusahaan bergulat dengan ketidakpastian di pasar vaksin.
CEO Moderna, Stephane Bancel, mengatakan perusahaan memperkirakan akan memiliki kurang dari 5.000 pekerja pada akhir tahun.
Sebelumnya, perusahaan mempunyai sekitar 5.800 karyawan penuh waktu di 18 negara per 31 Desember 2024
Sementara itu, saham Moderna telah turun lebih dari 20 persen tahun ini. Pada bulan Mei, perusahaan melaporkan penjualan vaksin kuartal pertama yang tidak mencapai perkiraan Wall Street.