Purbaya Sebut Ekonomi Syariah Sukses di Jerman, Kritik Indonesia yang Pilih Ikuti Barat

Dicky Prastya | Suara.com

Senin, 16 Februari 2026 | 14:41 WIB
Purbaya Sebut Ekonomi Syariah Sukses di Jerman, Kritik Indonesia yang Pilih Ikuti Barat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Dok. Kemenkeu]
  • Menkeu Purbaya menyayangkan prinsip ekonomi syariah kurang diterapkan di Indonesia, negara mayoritas Muslim.
  • Kunjungan Menkeu ke Jerman 2012 menemukan bank lokal menerapkan prinsip mirip syariah dengan bunga sangat rendah.
  • Ekonom Jerman menyatakan negaranya lebih syariah, sistemnya kuat meskipun Indonesia adalah negara Islam terbesar.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyayangkan prinsip ekonomi syariah kurang diperhatikan di Indonesia. Lebih lagi RI menjadi negara yang memiliki penduduk Islam terbanyak di dunia.

Menkeu Purbaya menilai kalau prinsip ekonomi syariah justru malah berhasil diterapkan di Jerman yang sejatinya negara non muslim. Hal ini dia peroleh dari pengalamannya berkunjung ke sana pada 2012 silam.

Kala itu Purbaya ingin mengetahui bagaimana ekonomi diterapkan di Jerman karena dianggapnya hampir menghancurkan mata uang Euro dan bahkan Uni Eropa secara keseluruhan.

"Saya 2012 datang ke jerman, ketemu (Deutsche) Bundesbank, wah orang pintar ada di sana, think thank-nya. Saya pengin pelajari waktu itu, kenapa Jerman sedemikian bodoh sehingga ECB (European Central Bank) tidak bisa bergerak bebas, tidak beli boleh bond di pasar sekunder pun, dan hampir menghancurkan Euro dan EU secara keseluruhan," kenang Purbaya di acara Sharia Ekonomi Forum 2026, dikutip Senin (16/2/2026).

Dalam pertemuannya dengan ekonom Jerman selama lima jam itu, Purbaya disambut dengan stigma bahwa Indonesia kalah syariah dibanding Jerman.

"Pas dia ketemu, yang dia ucapkan ke saya pertama apa? 'Selamat datang di Jerman. amu tahu? Walaupun negara kamu negara Islam terbesar di dunia, negara saya lebih syariah dari negara kamu'," tuturnya.

Dari pengakuan ekonom itu, Purbaya menyebut kalau 80 persen perbankan Jerman dikuasai oleh bank-bank kecil maupun daerah yang prinsipnya mirip seperti ekonomi syariah.

Di sana, lanjut Purbaya, bank Jerman menerapkan bunga 1 persen ke masyarakat. Sedangkan biaya pinjaman hanya 2 persen. Ia juga mempertanyakan kenapa bank Jerman tidak tergoda dengan bunga yang lebih tinggi seperti 4-5 persen.

Ekonom itu menjawab Purbaya bahwa orang Jerman justru lebih tertarik dengan 1 persen. Hal itu membuat sistem perbankan kuat.

"Ini kan prinsip syariah. Pokoknya profitability-nya khusus untuk biaya operasional saja. Enggak untung besar-besaran," lanjutnya.

Purbaya mengaku kalau ekonom Bundesbank itu menerapkan sistem ekonomi syariah karena peristiwa di Indonesia, di mana letusan Gunung Tambora pada tahun 1800-an membuat mereka krisis ekonomi.

Untuk membangkitkan perekonomian, Bendahara Negara bercerita bahwa para pendeta Jerman mengumpulkan harta-harta dari masyarakat sulit yang kemudian dipinjamkan ke pengusaha dengan bunga rendah.

"Saya yakin dia belajar dari Islam, cuma orang Islamnya lupa. Kan ngomongnya tiba-tiba jadi pintar kayak gitu dia. Ya cuma kita enggak pernah ngelakuin dengan benar. Jadi kita sekarang kayaknya berpikiran ekonomi barat yg terbaik," papar dia.

Dari pengalamannya ini, Purbaya menyimpulkan kalau prinsip ekonomi syariah sebenarnya bisa dijalankan juga di Indonesia.

"Kalau Jerman aja yang dianggap negara dengan struktur terkuat, menjalankan prinsip yang sebenarnya syariah, kata ahli bank sentral itu, harusnya kita juga bisa," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kabar Gembira! Anggaran THR PNS 2026 Naik Jadi Rp55 Triliun, Cair Mulai Awal Ramadan

Kabar Gembira! Anggaran THR PNS 2026 Naik Jadi Rp55 Triliun, Cair Mulai Awal Ramadan

News | Senin, 16 Februari 2026 | 13:21 WIB

Purbaya Akui Indonesia Tak Berpihak ke Ekonomi Syariah, Singgung Peran Menteri Agama

Purbaya Akui Indonesia Tak Berpihak ke Ekonomi Syariah, Singgung Peran Menteri Agama

Bisnis | Senin, 16 Februari 2026 | 12:16 WIB

BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global

BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global

Bisnis | Senin, 16 Februari 2026 | 12:01 WIB

Gibran Janji Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional

Gibran Janji Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional

Bisnis | Senin, 16 Februari 2026 | 11:32 WIB

Kementerian ESDM Beri Izin Perusahaan Israel Garap Proyek Geothermal di Halmahera?

Kementerian ESDM Beri Izin Perusahaan Israel Garap Proyek Geothermal di Halmahera?

Bisnis | Senin, 16 Februari 2026 | 09:10 WIB

Viral Kejagung Geledah Rumah Pejabat Pajak Temukan Rp 920 Miliar, Kemenkeu Pastikan Hoaks

Viral Kejagung Geledah Rumah Pejabat Pajak Temukan Rp 920 Miliar, Kemenkeu Pastikan Hoaks

Bisnis | Minggu, 15 Februari 2026 | 20:40 WIB

Terkini

Trump akan Lanjutkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 100 Dolar AS

Trump akan Lanjutkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 100 Dolar AS

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 11:27 WIB

Ribuan PPPK Terancam Diberhentikan, Regulasi Alokasi APBD Jadi Penyebab?

Ribuan PPPK Terancam Diberhentikan, Regulasi Alokasi APBD Jadi Penyebab?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 11:01 WIB

Harga Tembaga dan Emas Terkoreksi, Tekan Kinerja Ekspor Tambang Awal April 2026

Harga Tembaga dan Emas Terkoreksi, Tekan Kinerja Ekspor Tambang Awal April 2026

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 10:07 WIB

Pasar Semen Lesu, Laba Indocement Justru Melompat 12 Persen di 2025

Pasar Semen Lesu, Laba Indocement Justru Melompat 12 Persen di 2025

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 09:29 WIB

Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983

Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Level Rp16.983

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 09:29 WIB

Update Harga Pangan, Cabai Rawit 'Gila-gilaan', Beras dan Minyak Ikut Kompak Naik

Update Harga Pangan, Cabai Rawit 'Gila-gilaan', Beras dan Minyak Ikut Kompak Naik

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 09:23 WIB

Warga Belanja di Korsel Bisa Bayar lewat QRIS

Warga Belanja di Korsel Bisa Bayar lewat QRIS

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 09:15 WIB

Indonesia Siap Beli Pesawat Tempur KAAN Turki dengan Pinjaman Luar Negeri

Indonesia Siap Beli Pesawat Tempur KAAN Turki dengan Pinjaman Luar Negeri

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 08:51 WIB

Laba Bersih Jamkrindo Syariah Meroket 160 Persen, Tembus Rp141,03 Miliar pada 2025

Laba Bersih Jamkrindo Syariah Meroket 160 Persen, Tembus Rp141,03 Miliar pada 2025

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 08:27 WIB

Emiten DVLA dan Astra Garap Pasar Alkes Berbasis AI

Emiten DVLA dan Astra Garap Pasar Alkes Berbasis AI

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 08:04 WIB